The End is the Beginning

Mereka lebih teratur daripada hukum. Mereka lebih
kuat daripada perasaan orang-orang kota. Mereka 
setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka
ingin tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu terang
agar kau tidak malu pada kelelahanmu pulang kerja
- atau demi menyembunyikan ciuman entah siapa.

Lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang itu
mencintai lampu jalan di depan rumahmu. Lampu 
jalan memiliki kekasihnya masing-masing
- sebagaimana hati manusia.

Lampu jalan depan rumahmu mati - dan bukan
hanya dirimu yang sedih. Lampu jalan di dekat
pohon yang baru ditebang itu seperti ingin menelan
cahayanya sendiri.

Jika kesedihan lampu jalan itu sampai menyentuh
lampu jalan yang lain, mereka akan sepakat berhenti
menyala. Jalan-jalan kota gelap. Lampu-lampu yang
lain - lampu di kamarmu dan di kamarku - juga
merasakan kesedihannya dan ikut memadamkan
diri. Kota-kota akan gelap dan bahkan kejahatan
takut keluar rumah.

Bulan dan matahari akan ikut memejamkan cahaya.
Kau tak pernah tahu berapa orang yang mati.

Tapi lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang
itu merahasiakan perasaannya. Ia tetap
menunggumu disana dengan cahaya yang sama.
Kau yang seperti biasa berjalan pulang kerja
melewatinya, juga melewati lampu jalan depan 
rumahmu yang mati, sambil berpikir betapa
berbahayanya kesedihan.





Tahun 2014 menurut gue personally adalah tahun yang berlalu dengan sangat cepat. I can easily recall into details how I spent the new year's eve, exactly one year ago. Namun, walaupun semua terasa begitu cepat, tiga ratus enam puluh lima hari yang gue lewati di tahun 2014 telah mengajarkan gue begitu banyak hal, dan pasti kalian juga merasakan hal yang sama.

Tanpa mungkin kita ingat dengan jelas, begitu banyak hal yang telah terjadi dalam kehidupan kita di tahun 2014. Kita semua menjalani hal yang berbeda-beda, tetapi sejatinya, kita semua pasti setidaknya merasakan hal yang sama, yang membuat kita sedikit lebih bijaksana, sedikit lebih dewasa di akhir tahun ini.




Selama setahun belakangan ini, pasti banyak diantara kita yang menemukan momen bahagia dan membanggakan dimana kita berhasil melakukan atau meraih sesuatu. Sebuah kesuksesan, kalau boleh dibilang, pasti telah terjadi kepada diri kalian di tahun 2014.

Saat dimana kita begitu bangga dengan diri kita sendiri, saat dimana kita telah berhasil menaklukkan sesuatu, apapun itu. Dan kita merasa puas akan pencapaian kita tersebut. This is the time when the people around you acknowledge you for your achievement and effort, and you feel confident about yourself and feel motivated to do more. And it feels so damn good!

Tapi, juga akan ada waktu dimana kalian hit rock bottom. Kalian begitu hancur. Terjatuh. Gagal. Kecewa, terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini dimana kalian mulai mempertanyakan kualitas diri kalian sebagai manusia. Meragukan kemampuan masing-masing. Merasa sendiri dan tak ada yang mau mengulurkan tangan untuk menarik kalian dari kejatuhan kalian yang begitu dalam.

Saat inilah dimana kepercayaan orang-orang terhadap kalian mulai pudar, dimana orang mulai meragukan kalian. melihat kalian dengan mata terpicing seolah meremehkan. Now, this is the moment when people questions yourself, and instead of proving to them, you actually swallow all their emotions and start blaming yourself for every little things that went wrong.


Namun, betapa manisnya keberhasilan dan betapa pahitnya kegagalan, kalian belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Keberhasilan mengingatkan kalian bahwa kalian memiliki kekuatan. Kekuatan yang dapat membantu kalian mencapai apapun yang kalian inginkan. Di sisi lain, kegagalan menunjukkan kepada kalian dimana letak kelemahan kalian, dan akan meninggalkan sebuah luka yang begitu dalam sebagai tanda pengingat untuk tidak terjatuh di tempat yang sama.




Di sisi lain, tahun yang begitu cepat berlalu ini juga memperkenalkan kita kepada wajah-wajah baru, suasana baru dan kehidupan yang juga baru. Jika kalian bayangkan, berapa teman dan sahabat baru yang kalian temukan tahun ini? Sebagai makhluk sosial, kita akan selalu terlibat dalam sebuah perkumpulan manusia, sebuah komunitas. Akan ada banyak wajah baru yang masuk kedalam kehidupan kita dan membantu mewarnai sekaligus menulis lembaran baru dalam kisah hidup kita.

Tuhan mengirimkan mereka dengan sebuah kuas dan tinta untuk mengisi kehidupan kita dengan warna. Setiap orang memiliki warna yang berbeda, tergantung peran mereka dalam hidup kita. Akan ada yang membawa warna merah menyala dan menjadi penyemangat di kehidupan sehari-hari kita. Ada yang membawa tinta hitam kelam dan mencoba menghapus sinar kehidupan kita dengan kegelapan. Ada juga yang membawa berbagai macam tinta, dan akan mengisi kehidupan kalian dengan rasa yang berbeda di setiap harinya.

Namun, layaknya sebuah printer, tinta mereka akan habis, dan lambat laun hanya menyisakan noda-noda dan bercak tak jelas diatas lembaran kehidupan kalian. Dan layaknya tinta-tinta yang lain, ketika waktu mereka sudah habis, mereka akan diganti dengan tinta lain yang akan bertugas untuk mewarnai lembaran kalian.

Dan betapa waktu bergerak dengan sangat cepat, hingga seseorang yang begitu dekat dengan kita, dapat kembali menjadi seseorang yang asing dalam kehidupan kita. Ingatlah kembali, di tahun yang singkat ini, sudah berapa banyak tinta yang kalian tinggalkan? Sudah berapa banyak kuas-kuas yang mengeras? Sudah berapa banyak ucapan perpisahan yang kalian katakan? Dan apakah kalian sudah menyempatkan, untuk mengisi kembali tinta-tinta tersebut agar mereka dapat kembali mewarnai kehidupan kalian?

Mungkin ada beberapa diantara tinta-tinta tersebut yang tidak akan kembali mewarnai kehidupan kalian. Namun, berterimakasihlah. Setidaknya Tuhan telah mengirimkan mereka untuk membantu kalian mewarnai lembaran kisah hidup kalian, dan bila kalian buka kembali halaman tersebut, ingatlah mereka dan berterimakasihlah karena mereka telah mengajarkan sesuatu kepada kalian dengan warna mereka sendiri.




Terakhir, akan banyak diantara kita yang menjadikan tahun ini sebagai tahun untuk mencari jawaban. Mencari kepuasan, mencari keinginan, mencari jati diri. Mencari apa yang bahkan kita belum tahu untuk dicari.

Banyak dari kalian yang akan bermain teka-teki dengan diri sendiri. Kalian penasaran, terhadap diri kalian, terhadap lingkungan di sekitar kalian, atau bahkan terhadap kehidupan kalian secara keseluruhan. Kalian bertanya-tanya, mencari sesuatu yang membuat diri kalian merasa janggal.

Maka dari itu kalian mencari tahu. You set up a quest. You go. Travel. Experience. Explore. Get lost. And find yourself again. Perjalanan untuk menemukan sebuah jawaban bukanlah hal yang mudah; it's a lifelong process. Dan di tengah jalan, kalian akan hilang, tersesat seolah tak menemukan apa-apa. Kalian juga akan kehilangan, tapi kehilangan akan menyadarkan kalian terhadap hal apa yang sebenarnya kalian butuhkan.

Bagi beberapa dari kalian, akan ada yang sudah menemukan jawaban yang kalian cari selama ini. Sisanya, kalian akan menemukannya di kemudian hari. Remember, it is a lifelong process. Setiap orang memiliki pertanyaan yang berbeda, jawaban yang berbeda, jalan menuju jawaban yang juga berbeda dan tentu saa waktu tempuh yang berbeda.

Bila sudah menemukan jawabannya, akan ada dari kalian yang merasa puas, tapi ada juga yang kecewa karena ini bukanlah jawaban yang kalian cari-cari. Tetapi, terkadang bukan jawabannya yang sebenarnya kita cari, namun proses menuju jawaban tersebut yang mengubah jalan pikiran kita hingga mendapatkan apa yang kita cari selama ini.

Pada akhirnya, semua itu adalah proses bagi kita untuk mengenal diri kita sendiri lebih dalam. Perjalanan mencari sebuah jawaban akan membuat kita menjadi lebih dewasa, karena pemikiran kita akan dipaksa untuk melihat dengan cara yang berbeda. Dan semuanya akan membuat kita lebih puas dan lebih bahagia dengan kehidupan yang kita pilih nantinya.




Dan, di ujung tahun yang begitu mengesankan ini, mari kita tersenyum. Bahwa kita masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan di kemudian hari. Bahwa apapun yang kita miliki sekarang, kurang ataupun lebih, adalah sebuah titipan yang suatu saat dapat diambil kembali. Bahwa segala kebahagiaan adalah anugerah dari sebuah usaha, dan setiap kesedihan adalah cobaan untuk memperkuat jiwa dan raga. Bahwa teman dan keluarga adalah tokoh yang akan ada dalam lembaran kisah hidup kita. Bahwa kita siap, untuk melihat matahari kembali bersinar lagi, untuk berjalan satu langkah lebih jauh lagi, tertawa lebih keras lagi dan menangis lebih kencang lagi. Bahwa kita percaya akan ada sesuatu yang lebih besar lagi kedepannya, dari semua yang pernah kita tinggalkan.


That we are human. That we rise and we fall, and rise again and fall better. That we are getting older and hurt, but we are alive and getting stronger each day. That we are not perfect, but we are thankful, for imperfection makes us who we are.





Internship: The 10 things that I want you to know



Going to college in Australia actually has it own perks, especially with the 3-months-long summer break from late November to early March EVERY YEAR. However, entering my penultimate year in college, I decided to apply for an internship at several companies back in my hometown. I don't expect too much as an intern, I mean the work probably wouldn't be too hectic. Besides, I feel the need to do something productive during the vacation than just laying on the couch at home, unemployed, doesn't take shower and wasting my data allowance on social media.

I consider myself lucky, since there are people out there who take their time and review my overdecorated, made-for-graphic-designer résumé and a cover letter, and actually offered me a position in their organization. It was a good day when I got the email and I have to thank them for that. Thus, my journey as a white collar worker began.

Getting my hands on practical experiences, I reckon I could give some insights for young, idealistic and narcissistic bachelors out there. Yes, I was like you when I was younger, but at least hear me out. I'll try not to give a lecture, but rather share what I got as a friend and as someone who's on the same level as you. So, here's my story.


1. Each company has their own set of corporate culture and values, each with their own implementation. And no matter how silly it is, you just have to do it.



It might be a simple chants in the morning with some clapping combos, a solemn oath ended in prayers or a semi-hardcore yet radical motivating words that demands everyone to conform with the norm. Yes, sometimes it's silly, weird and make you feel "Whoa! No fancy hand movements, please!" But, give it a week or two and you'll pretty much the same like everyone else, and it actually feels pretty nice when you finally managed to do it perfectly after a while. 

By the way, culture and values are actually the company's way to help attain their goals. And if you carefully adjust your behavior in line with the values, it should help you reach your individual goals, and that leads to the attainment of the organisational goal as a whole. I'm not saying you must, but it just makes you feel belong with the organization. Besides, the clapping combo is actually a pretty neat thing to do since you stopped doing it in kindergarten.


2. And make sure that you know the company's profile before you start working for them. 



Internship is a good opportunity to find which job/company/industry/area suits you. I now work as an intern at a government body; and I have to say that, while it is a thoroughly wonderful experience, I don't wanna work for the government before I turn 40. Why? Because the bureaucratic and stiff working environment doesn't really match my happy-go-lucky personality.

It is always better to know where you're gonna work and what values they are holding. Because if you get into the wrong hands, you'll be forced to be their slaves for years. Doing things you don't necessarily like, in an environment that you don't necessarily enjoy. So, choose wisely!


3. People expect you to perform at certain standard, and sometimes standard is just not your forte. 



Honestly, it takes a lot of adjustments, even as an intern. You have your own pace and style of work. Some of you might burn yourself out and finish the damn job before lunch time, but some of you need one minute of extra rest for every minute that you're working. However, different companies has different performance index, and that means you too. Some of you might find the company a bit tough, but others may find that the rest of the workforce are just a bunch of sinecures. 

"But that's how the job is done around here," your supervisor argued. Until you get a higher position, you just have to suck it up. You can always give feedback, but unless your company is run based on performance management, it mostly doesn't get you anywhere. So, just be responsible and try to get the job done on time. And after all, you're just an intern.



4. You think you know Microsoft Office, and you list it as your personal qualities on your résumé and on your LinkedIn profile. But do you really? 




I'm not talking about some fancy effects on power point where the transition between slides always incorporates some pixie dusts and a dazzling sound effect. That doesn't make you cool anymore in front of your boss and peers. I'm talking about some hardcore level excel formula, formatting on words, even to the smallest scale possible like how to do a proper table of contents (and by this I mean you don't have to type all the dots manually).

So, next time you put down Microsoft Office as one of your 'expertise', you should already feel pretty confident with your skills.


5. Generational differences is such a pain in the neck!



There is a reason why they offer Business Communication course at Uni. And this is the right time to realize that the style and form of communication between age groups are different. Companies nowadays are filled with baby boomers, gen x and gen y; and this is why talking with your boss is so damn difficult sometimes, or why some companies are highly bureaucratic. You guys just communicate differently, value things differently and work on a completely different style. 

Remember that old teacher at your high school that has been teaching for like, I don't know, 30 years? Remember why you don't have a thing for his lectures? It's because you're from the Star Wars generation while they're from the Cretaceous period. Both of you use different style of words, flow and body language. So, next time you're having a conversation with someone way older than you, remember to think whether you're on the same page.


6. Good CVs and cover letter take you to places. 



There are heaps of examples online like on Behance and Pinterest. Grab one that fascinates you, install an Adobe Illustrator (from Torrent, of course) and edit accordingly. It shouldn't be that hard. Keep it simple. 2 pages are your limit. I work in HR and I have to tell you that they don't really read it, and no, they don't wanna know what kind of course you take when you were 8. Keep the information up-to-date, and anything below high school shouldn't be mentioned. I once mentioned that I won some Islamic debate quiz when I was 13 and people laughed. Lastly, only list down experiences that are significant to your professional development.

Many people thought grades don't matter anymore these days. Well, they do. At least on administrative level. People sort out good candidates from bad through grades and the prestige of the University. The latter doesn't really matter if you're a straight-A student. So, if you think getting a 'pass' mark is enough, think again. Even getting a job is getting harder these days, people.

Oh yeah, one thing about cover letter. If English is not your first language, make sure you get some grammar-Nazi (works best if he/she's taking English literature) friend to proof-read it for you. Make it balanced. Praise the company, but don't be superficial unless you wanna work for Smaug. Showcase your talent, then tell them your objectives and goals and that you're eager to learn more. And when you send the email, make sure to mention your University at the title. For example, I get faster response when I put "Internship - University of Melbourne", rather than "Internship - Reinaldy Baskoro". A good friend of mine told me that it works most of the time. Well, at least they took the time to read your email.



7. While some of you think that some subjects at Uni are not really applicable in the real world, they actually are. 



Yes, on the very basic level, they are. During my 'jaffy' days, I hate statistics so much I almost changed my major to African studies. However, the knowledge in world we know today are based on assumptions, and whether some things can significantly affect the others. And when one does, we say that it would happen on normal basis. It also applies in my field. Surveys and psychoanalytical researches rely heavily on correlation and regression, and knowing some basic statistics helps me to understand some hardcore-complexity-level researches done by McKinsey and Haygroup and PWC about my company. Well, at least I know the name of some mathematical symbols...

While you might think that other subjects are redundant as hell, it actually helps you to have a better understanding of the world we know today, thus making other, more detailed things seem a bit easier to digest. Some 'redundant' subjects also keep your brain on its peak level. History, for example, makes you better at remembering things, and maths just makes you better at logic. Believe me, someday you'll feel satisfied that you've taken one particular 'redundant' subject during your college year. Omg, did I sound like your parents just now?


8. And experience? They matter A LOT.



When you got heaps of experiences on your résumé, people assume that you are trained. And you better satisfy their expectations! Everything I learned in the classroom is more related to theories and strategies. I got heaps of literature to support my strategic plans for my upcoming project (Did I mention that companies use a lot of academic works, too?), but when it comes to implementation, your experience matter!

People-to-people relationship, what consumer really wants, example of previous work, task handling, even work ethics, it all comes down to how well you manage yourself and others. It's a completely different quality, that is theory and practice, strategy and implementation, courses and experiences. Make sure you got the two balanced and you'll be in safe hands.


9. Now, start being the cool kids and build your handful of networks!



Next time you're in a career expo. Don't just leave your CV like what everyone else does. Talk. Engage. Leave an impression. Get a name card. Send an email. Who knows where you'll end up in the next 6 months from now? And after your internship period, get referred! Maintain connection. You could link them to other people too. And like all professional would say, "It's not about who you knows, but who knows you!"


10. And finally, get ready for an internship!



It all depends on who employs you. Your job can be varied from making a cup of coffee, copying documents to making a thousand dollar worth of project by yourself. If you're lucky, you can get your hands on the 'serious' stuffs, and don't worry, most internship nowadays are like that. Prepare for the worst. It counts as a professional job, so do it professionally!

When you're stuck, your boss is always happy to help by leaving some breadcrumbs for you to follow, but you have to figure out the answers by yourself. Most bosses will accept almost everything that you give them since you're an intern, as long as it aligns with the company. They also need a new perspective so there are great chance that they will hear you out.


Don't worry it's a hell of a fun experience. You get to know stuffs you don't learn at school and how to actually do things properly. It's the time when you take your knowledge and apply it on real world situation. It's the time to gain experiences, to know does this kinda thing suits you, and to prepare yourself as a white collar, money-making, low-paying slaves of the future. But don't worry, even slaves can dream of changing the world, if they believe, said Disney.


So, I hope my post helps, and from the 8th floor of some random building in Jalan M.H. Thamrin, I wish you good luck!


Hati dan Idealisme Kita yang Dulu Janggal

Mari kita duduk bersama
Letakkan hati diatas meja
Dan bicara tentang cinta

Jika kau tak punya
Kan kubagi sepotong
Dan kita bisa makan dalam damai

Aku membutuhkanmu
Karena kita berbeda
Jika kau bunuh aku
Kau kan hidup merana




Seiring berjalannya waktu, kita akan lepas dari yang namanya cinta-cinta monyet, kisah kasih di sekolah atau cinta-cinta teenlit lainnya yang terasa superficial, tapi menyenangkan. Cinta-cinta yang masih idealis, dimana perasaan adalah segalanya dan pasangan kalian menjadi salah satu makhluk hidup yang tak bisa kalian lepas begitu saja.

Banyak dari kisah cinta ini yang membuat kita sering kali berkorban hanya untuk mempertahankan hubungan itu. Banyak juga yang berpikir bahwa cinta pada saat ini adalah hal yang begitu serius hingga menjadi prioritas dalam hidup kalian. Hingga banyak dari kalian yang belum putus atau bahkan bermimpi untuk langsung menikah setelah kalian menyelesaikan pendidikan kalian.

Walau belum 100 persen, kalian rela melakukan apapun demi pasangan kalian. Kalian tetap tabah walau kadang jarak diantara kalian berjauhan, kalian tetap saling menyayangi walau mungkin keyakinan kalian berbeda, bahkan kalian kuat menahan betapa sakitnya diselingkuhi. Masa-masa inilah dimana kalian begitu rendah hati mau memberikan seluruh hati kalian, walau tak ada jaminan bahwa hati kalian akan kembali dalam keadaan tak tergores.




Namun, beberapa dari kita akan lepas dari tahap tersebut. Kadang dengan pengalaman yang begitu indah, tapi kadang juga begitu pahit. Sedikit lebih tua, sedikit lebih bijaksana.

Setelah akhir kisah cinta kita yang idealis, banyak dari kita yang akan memutuskan untuk hidup sendiri. Mencoba bergulir dengan kehidupan, mencari pengalaman baru dan kesibukan baru sebagai cara untuk move on dari pasangan kita yang telah pergi. Kita akan menemukan hobi baru, teman baru dan pengalaman yang juga baru.

Masa-masa inilah dimana kita akan mempelajari sedikit lebih dalam tentang diri kita sendiri. Mencari jati diri, mencoba mencari arti hidup kita sendiri. Banyak dari kita yang akan sadar bahwa umur kita masih begitu muda. Masih banyak yang harus dialami, dinikmati, dipelajari, dikunjungi dan dilalui.

Seiring dengan berjalannya, kita akan menjadi sedikit lebih egois. Terbiasa hidup sendiri akan membuat kita menjadi lebih fokus dengan diri kita sendiri. Kita akan lebih mementingkan pendidikan dan kesuksesan kita sendiri. Kita akan mencari lebih banyak teman untuk diri kita sendiri. Melakukan segala hal yang kita inginkan dan pergi ketempat manapun yang kita impikan. Dan disanalah dimana kita sudah mulai menemukan arti hidup kita sendiri, dan mencoba untuk berjalan menggapainya sendiri.




Lalu, akan ada saat dimana Tuhan akan sedikit bermain-main dengan hati kecil kalian yang kini sudah berdebu. Akan ada seseorang yang cukup istimewa datang mengetuk pintu kehidupan kalian, mencoba berbagi ruang disisi kalian, dan mungkin meminjam hati kalian yang sekarang lebih sering menyendiri, untuk dibawa bermain-main dengan romantika cinta dan asmara.

Disaat seperti ini, kalian akan bingung. Tergugah dan tersipu. This is the time when you don't mind being single, but it's nice to have someone to fill your life. Disaat inilah kalian akan memiliki konflik batin antara kenikmatan hidup sendiri dan perhatian dari seseorang yang selama ini tak ada dalam hidup kalian. Disinlah masa-masa dimana kalian akan berkata "jalanin dulu aja".

Kenapa jalanin dulu aja? Karena kalian bingung. Di satu sisi, kalian ingin memiliki komitmen, tapi kalian takut untuk jatuh ke lubang yang sama dan kalian masih menikmati hidup sendiri. Disisi lain, kalian ingin tidak berkomitmen, tapi dalam hati kalian ingin memiliki dirinya dan cemburu bila dia bersama orang yang lain.




Namun, pada akhirnya kalian harus bersikap dewasa. Jalanin dulu aja tidak akan menyelesaikan masalah. Pada akhirnya kalian harus memilih: apakah perasaan itu begitu nyata hingga hidup akan terasa lebih baik bagi kalian untuk berkomitmen dan meminjamkan hati kalian sekali lagi; atau apakah ego kalian begitu besar hingga hidup akan terasa lebih indah bila dijalani seorang diri?

Ini hidup kalian, ini hati kalian dan ini masa depan kalian. Pilihlah satu jalan yang tak hanya membuat kalian tersenyum ketika menjalaninya, tapi juga tersenyum ketika kalian telah melaluinya...


Quote of the Day #4

I am sorry for being unable to update my blog recently. Exams and projects come and go, and as a part-time student and a full-time professional (*disodok*), I am currently a bit busy straightening my life into a better path.


Now, before another main post coming up, I present to you another series of #QuoteoftheDay. Hopefully, it will cheer you up when the wheels of life is going down the hill.

Yang lagi ujian, semangat! Kalo nyerah belajar, beli cincin aja, datengin anak orang kaya terus langsung teriak "Buruan kawinin daku, daku bosan hidup merana, tanpa uang dan arah tujuan yang jelas!" *sambil kasih cincin*




#sekilaskode
Ibarat seorang manusia sedang jatuh hati dengan seorang manusia lain, maka dia akan bertingkah laku sedikit berbeda daripada biasanya, untuk mencoba menyampaikan perasaannya tapi malu-malu anjing. Contohnya: pasang lagu di path berharap ada yang meninggalkan sepotong hati untuk dirinya, komen yang aneh-aneh di postingan orang berharap ada yang baca komennya. Atau ada yang hardcore sampe kentut di depan orangnya berharap orangnya sadar bahwa kentut itu ada maksudnya. #apasih

Nah, hal-hal klise seperti inilah yang termasuk sebagai #sekilaskode. Sekilas kode ini menjadi sebuah harapan bagi kita, dan menjadi sebuah sinyal bagi mereka, agar mereka bisa memahami apa yang kita rasa. Tapi, terkadang kode-kode ini tidak tertangkap oleh radar mereka dan hanya menjadi gelombang-gelombang perasaan yang berhamburan di udara, menguap bersama harapan kita yang tak kunjung jadi nyata...


Kenyang Bego
Misal lo makan malem di warung tenda pinggir jalan, lo pesen nasi uduk porsi dua orang, pecel lele dua ekor, ayam goreng dua potong, tahu tempe dua pasang, lengkap sama lalapan dan sambel satu mangkok plus es teh manis satu gelas. Selesai makan, lo diem doang nggak mau beranjak kemana-mana. Badan lo lemes, mulut lo capek ngunyah, perut lo berat banget buat diangkat, sekujur tubuh keringet dingin gara-gara kepedesan dan pantat lo udah anget banget gamau lepas dari posisi duduk lo.

Menurut para pakar, ini adalah beberapa gejala bahwa lo kenyang bego. Biasanya lo bakal lanjut ngobrol, istilahnya "biar makanannya turun dulu". Atau lo nambah satu gelas es teh lagi, cuma alibi biar bisa duduk lebih lama. Atau, ada juga yang sebat dulu, langsung nyalain rokok terus berhembus asep ampe lama ditungguin ga kelar-kelar. Inilah penyakit-penyakit orang indo jaman sekarang, kenyang bego.


Besokitis
Kata-kata mutiara ini gue dapet dari seorang motivator handal yang bernama Trihartono. Sekilas tentang Trihartono, dulu beliau adalah peternak ikan lele dumbo. Dan selama 10 tahun menggeluti usahanya, beliau tidak mengalami kemajuan signifikan dalam kehidupan finansialnya. Tapi akhirnya, bapak Trihartono berniat untuk mengganti kebiasaan hidupnya, dan sekarang sudah menjadi pengusaha sukses di kampungnya. Simak kisah sukses beliau di video dibawah ini (skip to 1:20).




Kembali ke soal besokitis. Pak Trihartono mengajarkan kita semua untuk tak pernah menunda-nunda pekerjaan. Menurut beliau, penyakit orang Indonesia jaman sekarang adalah Besokitis, alias besok besok besok terus (literal translation: procrastination). Beliau yakin, bahwa inilah penghalang terbesar manusia untuk bisa sukses. Beliau selalu berkata "Disaat orang masih tidur, kalian harus bangun duluan! Disaat orang bangun, kalian harus berdiri duluan! Disaat orang berdiri, kalian harus berlari!" Sukses terus, Pak Trihartono! Salam Ora Umum!


#GabisaGiniTerus #TapiTahanLama #LemesinJanganDilawan
Tiga kata rayuan setan inilah yang menjadi penghambat gue selama semester ini! Misalkan gue harusnya belajar, tapi temen-temen ngajakin nongkrong, terus karena nggak enak, gue ikutan dengan maksud langsung pergi abis sejam atau dua jam. Tapi, karena temen gue emang keturunan setan semua, alhasil keenakan deh gue nongkrong, lewat sejam dua jam tiga jam, sampe pagi akhirnya baru pulang. 

Pas akhir-akhir, gue selalu menyesal dan bilang "Wah! #gabisaginiterus!" Tapi, ternyata gue keterusan selalu aja mau dirayu sama temen-temen gue yang setan. Ketika gue bilang #gabisaginiterus, mereka akan jawab #tapitahanlama kan? Dan ketika gue udah ogah-ogahan, mereka akan selalu bilang #lemesinjangandilawan, begitu ujar mereka, agar gue bisa lebih menikmati keenakan dan keasyikan yang ada...

P.S. Ketiga quotes ini juga apply ke berbagai macam hal yang berbau aneh lainnya. Tergantung imajinasi kalian sampe mana.....




Quote of the Day #3

Gimana hidup?
Pertanyaan filosofis fundamental yang paling sering kita lempar ke orang lain. Berbeda dengan "Apa kabar?" yang biasanya menanyakan kesehatan kita. "Gimana hidup?" bermaksud untuk menanyakan apa yang terjadi di dalam kehidupan lo. Mulai dari keluarga, cinta, sekolah, kerja, ataupun hal lain yang bersangkutan dengan diri lo. Seringkali kalo ditanyain, kita akan bingung menjawab dan biasanya kita akan bergumam "Yaahhh..." Baru diikuti dengan jawaban-jawaban klise seperti "begitulah", "kadang diatas, kadang dibawah", atau "lagi sibuk aja sih." Jawaban-jawaban ini biasanya hanya bermaksud agar orang lain tak tahu masalah kita, padahal kadang kita butuh seseorang dimana kita bisa menceritakan masalah-masalah kita.

Morally Wrong or Morally Permissible?
Akhir-akhir ini gue masuk kelas psikologi dan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti:
1. Bila ada seorang pria yang membeli sepotong ayam mentah utuh, dan sebelum memasaknya, dia gunakan untuk masturbasi terlebih dahulu, apakah perilakunya benar atau salah secara moral?
2. Bila seorang anak berjanji untuk mengunjungi makam ibunya sekali seminggu, lalu beberapa bulan kemudian ia tak bisa menepati janjinya karena dia sibuk, apakah perilakunya benar atau salah secara moral?
3. Bila ada anak perempuan yang ingin main ayunan, tapi ada seorang anak lelaki yang sedang duduk diatasnya, lalu kemudian si anak perempuan mendorong anak lelaki itu hingga jatuh dan merebut ayunannya, apakah perilaku si anak perempuan benar atau salah secara moral?

Orang Indonesia terlucu di Melbourne
Bukannya mau sombong, tapi ini gelar yang gue sabet sebulan lalu dalam acara Pandawa - Pandangan Merdeka Dalam Tawa. Dimana pelawak & rapper kondang Panji Pragiwaksono mengadakan tur ke beberapa kota di dunia, seperti Melbourne, dan mengadakan stand up comedy competition di tiap daerah. Alhasil, berkat khasiat ekstrak kulit landak yang gue minum sebelum performance, gue akhirnya menang juara 1 di kompetisi ini. Dan dengan gelar yang gue pegang sekarang, gue memiliki hak veto untuk menilai tingkat kelucuan seseorang kalo mau ngelucu di depan gue.

Baca artikel lengkapnya disini dan tunggu video YouTube-nya bertebaran sebentar lagi!

Sumitro dan Rojali
Sumitro adalah singkatan dari Suka Minta Rokok. Adalah tipe-tipe temen lo yang sering banget minta rokok ke orang lain, termasuk diri lo. Kenapa mereka suka minta rokok? Karena mereka Rojali (Rokok Jarang Beli). Tipe-tipe manusia bokek tapi masih pengen have fun. Tipe-tipe orang yang kita katain asbak karena dia akan menghisap rokok merek apapun dengan rasa apapun. Gue curiga kalo lo kasih dia batang singkong terus dibakar kayaknya tetep aja mau. Biasalah orang kecanduan, bibirnya suka kenyot-kenyot sikat wc kalo nggak bisa ngemut batang. Batang rokok maksudnya.




Terlalu Dini...

"You're pretty much everything that I've ever wanted. We have so much in common. You say the things I wanna say, you hear the music I wanna hear, and you are the one I've been looking for. But we met too early. If we are destined to meet five years from now, we would've been together..."




Di umur kita yang mungkin ada di akhir belasan tahun atau awal 20-an, kadang kita sudah menemukan seseorang yang benar-benar pas untuk menjadi bagian dalam hidup kita. Dia itu nyambung banget kalo kita ajak ngomong mengenai berbagai hal. Pola pikirnya kurang lebih sama dengan kita, bahkan kadang kita saling melengkapi ide-ide satu sama lain. 

Dia mendengarkan musik yang sama dengan yang kita dengar. Ketika diajak nonton, dia menyukai film yang masuk dalam kategori favorit kita. Kalo diajak travelling, dia nggak ribet dan mau ikut kemana-mana, bahkan ngajak kita ke tempat bagus yang belum pernah kita kunjungi. Kalo diajak makan di tempat manapun, dia jarang bilang "terserah". Dan kalopun bilang, biasanya dia juga nggak rewel kalo diajak kemana-mana dan nggak cuma diem doang di jalan. 

Physically, dia juga nggak memalukan kalo kita kenalin ke temen dan kita bawa pulang ke hadapan nyokap. Presentable-lah istilahnya. Dan bahkan kadang orang-orang agak cemburu ketika kita mendapatkan dirinya.


Tapi, ada kalanya kita merasa bahwa pertemuan kita terlalu cepat...

Face it, ada beberapa dari kita yang menganggap bahwa having a relationship di umur-umur segini itu agak tanggung. Jarang ada yang pernah muluk-muluk dan berkata bahwa mereka akan berpacaran lama hingga menikah, bahkan beberapa ada yang tak pernah berpikir hingga sejauh itu. Ada banyak hal yang perlu di masukkan dalam pikiran seperti menyelesaikan kuliah, dapet kerja, mencari kemapanan dan puas-puasin hidup lajang.

Tapi, ketika lo menemukan seseorang yang begitu perfect. Who listens to you. Who shares the same passion with you. Who are equal to you. And who can complete you. Kadang kita juga merasa kita harus mempertahankan hubungan ini.

Dilema sih memang. Banyak yang berpikir bahwa hubungan ini lebih baik dijalanin aja, then we'll see what happens from there, walaupun ada risk bahwa lo akan putus hubungan dan kehilangan seseorang yang terbaik yang pernah lo temukan selama lo hidup. Dan ketika lo mencari penggantinya, akan sulit untuk menemukan yang lebih atau bahkan hanya setara dengan dirinya, dimana lo sendiri akan selalu membanding-bandingkan pasangan-pasangan lo yang baru dengan si perfect ini.

Di satu sisi, lo ingin tetap menjaga hubungan lo dengan dia. Dan kemudian suatu hari nanti, bila saatnya tepat, lo akan menyatakan perasaan lo kepadanya, because you think that she's the one and you don't want to lose her. But she's not your property. Akan selalu ada kesempatan untuk orang lain mengambil hatinya. Dan jika lo biarkan dia terlalu lama, belum tentu dia akan tetap menjadi orang yang sama. Dan belum tentu juga perasaan lo akan sama beberapa tahun kemudian.




Susah sih memang. Tapi, mungkin buat gue, lebih baik hubungan ini dijalanin aja. Kita nggak akan pernah tahu masa depan akan bagaimana. Kita nggak akan mengerti hubungan kita akan dibawa kemana nantinya. Maka, bukankah lebih baik kita nikmati saja waktu yang ada dengannya? Belum tentu kita akan memilikinya di masa depan, maka milikilah dirinya sekarang.

Kita akan selalu dihadapkan dengan resiko bahwa kita akan kehilangan dirinya dan mungkin akan sangat sulit mencari yang lain yang setara atau lebih baik daripada dirinya. Tapi, kita juga tak tahu apa yang akan kita temukan di masa depan kan?

Maka, biarkanlah ia singgah sejenak di hati kita. Biarkan ia menari-nari dan mengajari kita betapa indahnya hidup berdua. Biarkan dia mengenalkan kita kepada hal yang baru, memberikan kita sebuah pengalaman serta sebuah memori yang berharga.

Di suatu waktu dalam hidup kita, Tuhan akan menurunkan seorang malaikat kedalam hidup kita. Dia akan menjadi orang yang terbaik yang pernah kita kenal. Dia akan mengajari kita banyak hal dan mempersiapkan kita untuk banyak hal lain di masa depan. Dan ketika waktunya sudah selesai, Tuhan akan mencabut kembali sayap yang ada di punggungnya dan dia akan menjadi orang lain dalam hidup kita...


Self-Validation

Kenapa orang-orang suka pergi ke kedai kopi?
Karena mereka tak mau sendiri...




Karena kesendirian itu membuat kita hampa. Eksistensi kita, keberadaan kita sebagai sebuah makhluk hidup, hanya akan berarti bila diberi makna oleh orang lain.

Kenapa kedai kopi? Karena kita hanya ingin company, atau mungkin lebih dasarnya, keberadaan sosok lain yang mengelilingi kita. Walaupun kita hanya duduk sendiri, kita sangat menghargai kehadiran orang lain disisi kita. Membuat kita merasa aman, setidaknya.

Mungkin karena memang pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Itu yang sering dikatakan oleh guru SD saya. Karena mereka makhluk sosial, mungkin ini sebuah cara bagi mereka untuk bertahan hidup: mencoba membuktikan bahwa mereka ada di dunia ini.


Kenapa orang-orang ingin pulang kembali ke negeri asalnya?

Karena disanalah keberadaannya diberi arti paling dalam oleh orang-orang disekelilingnya. Disanalah eksistensinya paling dihargai.

Nestapa memang. Bila pindah ke negeri orang dan kita harus memulai segalanya dari nol. Ibarat selembar kertas putih, menunggu seseorang untuk menuliskan kata-kata yang akan mendefinisikan diri kita. Memberi arti akan keberadaan kita.

Mungkin itu yang disebut sebagai 'rumah'. Tempat dimana kertas kita sudah penuh dengan coretan, penuh dengan arti. Tempat kita dihargai sepenuhnya sebagai diri kita sendiri. Tempat dimana keberadaan kita paling berarti.



Tapi, semua hanya identitas. Bahkan diri ini bisa berarti apapun bila kata-kata yang ada diatas kertas sudah diubah...

Earbubble

Have you ever wonder?
When you put on your earphone
And plug it to your phone
You suddenly create this invisible bubble
Between you and the rest of the world


Whatever happen outside it
Is so irrelevant
Or maybe too relevant
Depends on the opacity of your bubble


It creates a photographic filter
Within your mind
One time, it would be so colorful
Other times, it would be gray
And maybe, sometimes, it would be sepia


With a touch on your screen
You'll be making your own world
You, yourself, inside your own little bubble
Waiting, observing, imagining


Indonesia: A Choice, A System, A Possibility

Indonesian education system has been derived from a socialist view of education where the government pushes the people to become engineers, doctors, economist and scientist to boost massive development on infrastructure, technology and maintain prosperity, while keeping society docile with less room for creativity and innovation from the students.


For the past few months, all the hypes about the Indonesian presidential election hasn't really sparked my interest. I was one of many example of those kind of people who decided not to follow anymore news about the Indonesian politics simply because everything that the media said seems to be unreliable, or because wherever the story goes it wouldn't affect our lives significantly. Until very recently, my housemate showed me the presidential debate via YouTube, which she described as "a presentation of the same old bullshits, but from a different mouth" kinda thing, which makes me wonder how much Indonesia has develop since the last big guy took over.

Now I won't start criticizing or ranting or being cynical about anything. There are obviously some pros and cons from each candidate, which is a subject of another endless debate in the public. And believe me, I won't start another stupid arguments about which candidate is better or not, simply because I'm sick of it and I want you to decide your own choice, not by the influence of other, sometimes nonsensical and bias, human beings. From the debate, I notice that some points that have been mentioned by both candidates should be elaborated. And one that I would highlight the most is the education and employment of the general public.


The Fall of Conventional Education

Every year, millions of 12th grade high school students engage in the National Exam that shakes the entire nation due to the controversies that surround it. The test was proclaimed to be some sort of standardization of the education level in the entire nation. However, many argues that the exam was too hard, or too easy, for certain groups of people, therefore it is not a good measure of the academic skill of every students in Indonesia. Second, there has been many occasion that the answers has been leaked before the exam even begin. More importantly, the curriculum that gave birth to the National Exam itself, is one of the reason why Indonesia is lacking the requirements needed to transform itself to a developed country.

Our curriculum has been derived from a socialist view of education where the government pushes the people to become engineers, doctors, economist and scientist to boost massive development on infrastructure, technology and maintain prosperity, while keeping society docile with less room for creativity and innovation from the student. I was left confused with the initial discussion of removing English and Quantitative subjects from elementary level education and focus more in religious and moral teachings. And the way these subjects taught has not been changed significantly since the last time my grandfather went to a school. A passive way of learning where the students are considered as audience, not participants.

In this education system, students freedom of thinking and creativity has been very limited by leaving no room for discussion and a forum for students to express their minds. Worse, teachers are often very strict about answers and ideas. For instance, answers are often absolute and truths are something that cannot be changed, or even argued. Insubordination or disagreement with teachers are often punished, creating a human being with low self-esteem that are easily controlled and manipulated by power superior to them.

Based on my remark above, I think Indonesia should not rely on the idea of conventional education. To compete globally, Indonesia must adopt a new way of teaching that requires teachers to define concepts and knowledge essential for students to find their own perception of 'truth', not by limiting their thinking and directing them into previous ideas (that are sometimes not ideally correct) and stopping a chance for innovation and creativity.

Furthermore, based on Jokowi's remark, of course one cannot argue that moral values should be the ideal focus of primary education. But moral values are ingrained, not taught. It is achieved through observation and practice, and done voluntarily by the students. It cannot be forced so that the students feel obligated and ended up hating it. It requires example. What good a knowledge of moral values if there are still a lot of people, including their own parents, who are littering, swearing, spitting everywhere or maybe paying someone to actually do something illegal, like bribing a cop, in front of their child?

Points for originality, anyone?


A Freedom of Thinking

Freedom of thinking should not be limited to only for students at the early stage of elementary school. Elementary school students should be introduced with basic concepts of arts, science, social science and language at the age of 10 minimum, that is at 5th grade on traditional level of education. However, I find it weird that our education system pays too much attention on natural and social science field, rather than other fields like arts and language, to name a few. More importantly, typical Indonesian parents and teachers has a stereotype that "natural science are better than the rest", making students somewhat forced to actually took those kinds of subjects.

However, the public should be resuscitated that the world works as a system. Is not possible for everyone to become doctors, or engineers, or economist, or lawyers. There should be someone occupies other jobs available and people should be aware of the existence of other non-conventional careers and how to pursue them. It is not a means of natural selection; those who doesn't pass the National Exam or did not go into universities will be at the bottom of the societal hierarchy. It is a freedom of choice; people should know what field they want to purse, how are they going to purse it and actually enjoy living life from their respective choice.

Therefore, students should be generally categorized by their talents, skills and passion by the time they reach junior high. And by the time they reach senior high school, they should be able to choose which subject they want to take and know that the pathways to their careers are not only universities. Indonesia actually does have a lot of other tertiary schools such as Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara and Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi, just to name a few.

One should take into account that the idea of 'success' is very subjective and different between people. Success is not always mean "to have a lot of money" or "to have certain jobs or position". What about doing exactly what you're passionate about and be happy with it? Will that count as a success? Well, it does for a lot of people. It is then back to the government itself to provide jobs in that specific area and give incentive like health insurance and allowance.



An Endless Possibilities

My former housemate concluded in his research that Indonesia has a large potential to be able to fully depend on renewable energy. But the scale of the archipelago hinders the plan for the distribution of energy from one province to another. Therefore, he added that each region should rely on different kinds of energy. For example, the island of Sumba in East Nusa Tenggara has a lot of potential to start a wind-based energy plant. Other plates like Dieng has a large raw source of Geothermal energy. Each region has their own specialty. If we are smart enough to exploit these professionally, we could be no longer depend on fossil fuel and could export it to other countries while gaining revenue out of it. However, being skeptic as usual, I added that the Ministry of Research and Technology of Indonesia has one of the lowest budget in the cabinet. Only having approximately Rp 500 billion or roughly equal to US$ 42 million. That means it would be a long way to go to actually achieve that kind of technological advancement.

But just imagine if each region has their own specialty? You don't have to travel far and wide to actually get a job. And with an effective regional autonomy, provided that corruption is at minimum (absolutely no corruption would be very superficial), each province will have their own respective school that best served their own resources and manage it for the prosperity of the people within their own region.

I agree with what Prabowo had to say that he will empower peasants, farmers and fishermen if he becomes president, but how many hectares of land would you actually give to the people? You won't give enough jobs for the people and you can't possibly think that everyone wants to be a farmer. I agree that Jokowi mentioned that traditional market and street vendors will be his main focus. But in the long run, not everyone wants to be a traditional market distributor. Eventually, people will shift into larger scale supermarkets with better quality goods. These are good points, but when you want to improve the education, you might as well provide more diverse choice of jobs.

We are in the industrial era, we need proletarians to move the entire economy. We need factory workers, we need mechanics, truck drivers, welders, builders, sailors, all the blue-collar works you can think of. For manufacturing sector, mining, oil and gas, construction, mechanical, maintenance and other areas that are exists, emerging or even haven't been explored before. They are the gears, the wheel that drives the economy of the nation. Empowering these people, with the right system of education will make a lot of difference to Indonesia as a whole.

On the other hand, arts, languages and social sciences should be well acknowledged too. Look at South Korea and their emerging culture of Kpop. These fields are required to maintain and empower the identity of a nation on the global scale. Take a look at Japan and how strong their culture are in the eyes of the world. Why can't we be like that? On the surface of earth, which nation has the most traditional language, the most extensive culture, the hybrid of many acculturation from India, Asia, Middle East and Europe? You want to preserve the national identity, this is one way how.

So, how's it gonna be Mr. Future President?



Side note: If you haven't decide which presidential candidate you would choose until the voting ballot date, please don't stay at home. Just come, even if you don't have the obligation to choose, just put a hole on each candidate's head. At least you've used your ballot paper. You know where all the campaign fund goes to? Yep, it is used to manipulate the result by using millions of unused ballot papers. So yeah, even if you don't give a damn about the politics, you should come and save your country.

Quote of the Day #2

Beberapa kata yang tidak bisa dilupakan begitu saja akhir-akhir ini...



Kelas
Ketika ada sesuatu yang bener-bener caught your attention, in a good way, dan lo pikir bahwa sesuatu itu menawarkan tingkat kenikmatan, kemewahan dan kemegahan diatas yang biasanya lo rasakan. Bener-bener majestic abis! Keren abis hingga kata 'keren' sendiri pun udah nggak cukup untuk menjelaskannya. Lo harus bilang sesuatu itu 'berkelas'.

Contoh: 
"Lagunya Bruno Mars yang Locked Out Of Heaven versinya Frankie Goes Deep kelas sih!"
"Filmnya Martin Scorsese kelas sih!"
"Wah, nyet! Lo kalo pake tas Bottega langsung kelas sih!"


Lollies
Versi perubahan dari LOL (baca disini). Intinya, ini cuma digunakan kalo lo emang nggak bisa komentar apa-apa setelah temen lo menceritakan atau mengatakan sesuatu dengan panjang lebar, either karena lo bingung, nggak ngerti, nggak dengerin atau mungkin cuma sekedar nggak peduli. Cuma kalo kata "Lollies" udah keluar, berarti omongan temen lo udah sampe di tahap dimana kata-kata mereka udah terlalu jenuh buat dicerna sama otak lo yang kadang terlalu dangkal untuk sekedar mengerti.

Contoh:
Ani: "Eh, kemaren kan Anto sama pacarnya, si Tono, lagi berantem kan. Terus si Anto emang lagi nggak mau bales chat-nya si Tono, jadi emang nggak di-read. Eh, terus Tono nge-post sesuatu gitu di Path. Pas diliat list 'seen by'-nya, si Anto ternyata udah ngeliat postnya si Tono. Terus, Tono nelpon Anton dong sambil bilang "Liat Path bisa, bales chat nggak bisa?" gitu coba kata si Tono."
Budi: "Haha. Lollies." *ditombak*


Semangat, kaka!
Salah satu quote yang paling sering keluar kalo masa-masa exam, masa-masa nugas, masa-masa UAS, masa-masa modus dan masa-masa galau ketika memikirkan cinta dan masa depan. Saking sering diucapkannya, kata 'Semangat' sendiri hampir kehilangan meaning awalnya yang harusnya membangkitkan gairah dan daya juang kita. Karena sering sekali diucapkan, efek dari kata ini hampir tidak lebih dari serangkaian huruf yang tak bermakna apa-apa. Bahkan kadang membuat diri kita sendiri makin sedih ketika lawan bicara kita sudah mengatakannya, tanda bahwa mereka sudah kehabisan kata-kata dan nggak bisa ngasih solusi untuk permasalahan kita.

Kecuali kalo lo mengatakannya sambil bawain segelas teh anget dan sepotong New York cheesecake yang dibuat dengan penuh kasih sayang. Pasti beda rasa semangatnya!


Petakilan
Ini bahasa Jawa sih sebenernya. Artinya adalah orang yang nggak bisa diem, rewel, berulah dan cenderung suka bikin onar. Nih kalo ada temen lo yang udah kaya kutu loncat, lompat kesana-kemari, hiperaktif, terlalu bersemangat, extrovert tingkat nggak bisa disembuhkan dan hanya bisa diem ketika lo kasih Baygon, maka orang-orang seperti inilah yang petakilan.

Contoh:
(Ini gue dapet dari komen di salah satu foto Instagramnya Pevpearce, ketika dia lagi sakit)
"Gws ya kak! Udah tau sakit, masih aja petakilan!"


Luluh
Biasanya digunakan dalam konteks percintaan atau rasa iba, dimana hati seseorang akan luluh, atau remuk dan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil, dikarenakan oleh sesuatu yang begitu menyentuh. Nah, kalo misalkan ada temen lo nih, terutama cowok, yang udah bikin janji untuk melakukan sesuatu, tetapi ketika janji itu harus ditepati, dia malah mundur dan ga niat melakukannya lagi, maka dia yang kita sebut luluh.

Contoh:
"Ah, sampah dah! Lo udah janji, cuy, besok Nike Run ama gue! Masa sekarang bilang kaga jadi! Lo luluh tau ga!?"
"Yahelah, lo mau nge-Line si Tina aja kaga berani! Gitu aja luluh lo!"


Oleng, kapten!
Frasa yang satu ini lebih sering terdengar diatas sebuah kapal, kalo lagi ditengah badai dan diterjang ombak. Biasanya, kalo kapal udah mulai goyang dan terombang-ambing, anak buah kapal biasanya akan teriak "Oleng, kapten!" untuk menandakan bahwa kapal sedang diguncang ombak.

Nah, aplikasikan itu kedalam sebuah konser dangdut koplo dimana banyak dari para penonton yang dimabuk anggur merah dan kepala mereka mulai terasa 'bergoyang' mengikuti irama lagu yang dimainkan para DJ kawakan. Ketika lagunya udah mulai enak, mereka mulai bergoyang di depan speaker sambil merintih... "Oleng, kapten!" Tapi, biasanya suka rada kurang jelas perbedaan antara mabok sama gempa bumi.


Embrace. Grow. Learn.

Mornington, 2014

Parkville, 2013

The Spot, 2014

 
Campaspe, 2013

KJRI Melbourne, 2014

Campaspe, 2013

KJRI Melbourne, 2014

External 2013 - 2014




There were days well spent with you, guys. 
Thank you, PPIA Unimelb, for giving me the chance to embrace, grow and learn.