The Perfect One


Anonymous on ask.fm: "Please write down your type of girl" #serious

It is uncommon for guys to determine the types of girls that they want. Guys usually go for anything roaming out there. Just like fishing, we don't really bother with the kind of fish we're looking for. That if we're lucky enough to catch one. You might wanna rephrase your questions to: what kind of girl would be perfect to you? That, my friend, I would be very happy to answer.




I want her to be adventurous. We would travel together to the most absurd places in the world, using the worst transportation available, yet she enjoys every moments of it. Andes to Kilimanjaro. Sahara to Gobi. Aurora Borealis to Emperor Penguin.

I want her to be flexible. She should be able to appreciate a 1974 Cabernet Sauvignon on the roof of the tallest building in town, but still finds ecstatic pleasure eating a fried tofu in the local street market. She could be my mom's new best friend, and still bursts into laughter hearing cheap, dirty jokes from my buddies.

I want her to be artsy batsy. When we go to the museum, she would talk of Picasso, Magritte and even Dada. She enjoys good music with a cup of coffee, reading Nikolai Gogol. And when we have a live music in a cafe, she would not hesitate to step up the stage and say; "This song is for that guy who's sitting over there!"

I want her to be beautiful. Just the way she is. She will still look beautiful even before shower. She should have the face that makes you grateful to have such angelic beauty in your life. The face that will be the first you see every morning, for the rest of your life, yet never bores you anytime soon

I want her to be random. She can speak foreign languages from countries you never heard of. She enjoys being alone on the roof watching the sunset. She's unpredictable. She would be mad at you during uncertain times, and in uncertain places, doing uncertain things. You would get enough of her. But you realize that you still love her, without any specific reason.

I want her to be wild. Untamed. Independent. Liberal. Free like a bird. Brave like a lion. Cunning like a fox. She should be strong. As if she doesn't need me. But when we meet, we know that we are bound to each other. No matter how strong we are. 

Lastly, I want her to make my 'box' bigger. Within this 'box', I have put all my past, present and future. All the experiences, stories, knowledge. My financial status, careers, lifestyle. My dreams, my opportunities, my success, my happiness. EVERYTHING. All contained within this 'box'. Now, when I look at her, I'm pretty sure that she is the only one who can make my 'box' bigger.





She's not gonna be easy. But, she's gonna be worth it.

True Art Needs No Explanation


All the pictures below are taken from the book 'Codex Seraphinianus', by Luigi Serafini. It is also generally known as the weirdest book in the world. A big thank you to Danny Fahey for showing me this inconceivable, mind-boggling masterpiece.














Art as we know it might not be what we've understand this entire time. Unless, you're a bohemian or some sort of avant-garde, post-modern, freudian, surrealist, or any member of other occult groups that is not listed even on Wikipedia.

I began my journey through the world of art only to found out that true art needs no explanation. But of course, tertiary education around the globe often features subjects like literature and art philosophy. In fact, some major works of art often have a deeper meaning, implicitly imbued beneath words, sentences, even acts and animations.

Some example: Some scenes in Disney's 'Pinocchio' symbolizes masonry and child slavery, while Studio Ghibli's 'Spirited Away' highlights human greed and gluttony, also criticized environmental damage in modern day Japan.

But, the more I studied one work, the harder it gets to describe the meaning, especially when there is none. We, arts people, and virtually everyone who had studied in the Western secular education system, are challenged to be skeptical; questions everything beneath the surface until we squeeze dry even the last drop of knowledge that only leads to a new, more complicated question. Its a never ending loop.

Until I had a chat with my senior, Rama, just this afternoon while enjoying a nice box of Japanese bento. And I only bragged about how much I know (and desperately wanted to buy) this weird, surrealist book titled 'Codex Seraphinianus'.

We talked, and I said, "What if authors only write words LITERALLY? No deeper meaning behind it. But those literature guys are just too smart, or too dumb, to think that those words has other meaning than its literal meaning?"

I even gave him an example, "If I write 'blue sky', I would only want it to be, literally, a blue sky. Nothing else. But you, as a literaturist (is that even a word?), might think 'blue sky' as... I don't know. As peace? Or serenity? Tranquility?"

And he said, "Art is very subjective."

I listened.

"What the authors do is just write." He continued, "Their job is just to enhance and amplify your imagination, while your job is to give meaning and purpose to his artwork. The rest is within your mind."

He silenced me.



Authors sells an idea. You play with it.

Sebuah Rumah Baru Bagi Hati Kita


Apa kabar Melbourne?

Oh, Melbourne baik-baik saja. Bahkan lebih baik daripada biasanya. Entah kenapa, kota ini dengan segala macam sihirnya bisa membuat gue lebih rindu daripada gue merindukan kota kelahiran gue sendiri. Dan untuk beberapa malam terakhir, The Capital City of Hipsters ini makin berwarna. Saat yang tepat untuk melepas asa bersama jutaan warna-warni yang menerangi gelapnya malam hingga ke sudut paling gelap di mimpi buruk kalian.














Seiring kita dewasa, beberapa dari kita mungkin akan mulai merantau dari rumah. Jauh dari keluarga, teman dan rumah kita masing-masing. Menuju sebuah tempat, yang mungkin tidak begitu jauh, tapi begitu asing bagi seorang pendatang seperti kita. Kita beradaptasi, begitu sulit, selalu kangen rumah dan tak jarang merasa sendiri dan tak berdaya.

Perlahan kita bangkit. Mulai dari hal kecil seperti memasak sendiri, mencuci, mengurus segala keperluan rumah tangga dengan tangan kita sendiri, hingga menjadi sebuah kebiasaan. Banyak hal baru yang kita temukan. Tempat nongkrong baru, makanan paling murah di sudut kota paling antah berantah, selera musik yang berbeda, fashion, gaya hidup hingga hal-hal kecil seperti belajar cebok dengan tissue.

Waktu berlalu, dan kita menemukan wajah-wajah baru dalam kehidupan. Dan senantiasa memasukkan wajah yang lama dalam kenangan, atau sebuah foto dari beberapa tahun lalu yang ada di sudut terdalam Facebook kita masing-masing. Kita belajar bahwa friendship is seasonal. Bahkan Path mengajarkan kalian agar hanya dekat dengan 150 orang paling berarti dalam kehidupan kalian yang sekarang.

Dan apa yang terjadi ketika kalian kembali ke kampung halaman kalian? Dengan pedih kalian akan menyadari bahwa rumah kalian yang dulu bukanlah rumah kalian yang sekarang. Obrolan kalian tidak lagi nyambung dengan mereka, kalian bahkan tidak tahu tren dan kata-kata gaul terbaru yang beredar. Kerabat kalian perlahan mulai pergi menyusuri jalan hidup mereka masing-masing. Bahkan untuk sekedar jalan bareng pun adalah perjuangan. Dan ketika kalian ada dirumah, kalian berpikir "this is just a house, not a home anymore."

Kalianpun menyadari bahwa konsep rumah tak lagi berarti bagi kalian. Dan mungkin mulai membenarkan kata-kata "a home is where your heart is'. Lama-kelamaan, kalian tidak ingin pulang lagi, dan kalian akan lebih menikmati hidup di kota kalian yang sekarang. Pada akhirnya, banyak manusia yang tidak ingin pulang kembali ke negara asalnya. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena hati mereka sudah menemukan sebuah 'rumah' yang baru. Dan seperti rumah dalam arti sebenarnya, jika kita pindah kerumah yang baru, hampir mustahil bagi kita untuk kembali kerumah yang lama.




Dan, jika kalian datang bertamu ke rumah baru saya. Saya siap menerima kalian dengan sambutan dan kopi paling hangat untuk hati kalian, spesial dari hati saya.

Yuk, Kita Aneh Bersama!


Seseorang di Ask.fm: Kok lo aneh sih?




Oh entahlah. Lo mungkin melihat gue sebagai orang yang aneh. Tapi, menurut gue, gue memilih untuk berbeda. Karena hidup ini terlalu membosankan bila kita hidup biasa-biasa saja, mengikuti arus yang ada, layaknya orang yang normal pada umumnya. Bayangkan saja seperti ini, 7 milyar orang di dunia dan kita mau bertingkah laku dan berpenampilan sama seperti orang lain disekitar kita? Betapa insignifikannya diri kita kalau begitu? Terbelenggu oleh norma-norma agar terlihat pantas, padahal tidak bisa mengikuti kata hati sendiri.

Berbeda itu nggak selamanya buruk kok. Beberapa orang memilih untuk lebih ekspresif saja daripada orang lain. Namun, seringkali society menganggap bahwa orang yang aneh itu harus dijauhi. Ada saja ejekan-ejekan bagi orang seperti kami. Alay. Kampung. Hipster. Tapi, sesederhana mungkin gue menganggap diri gue spesial. Contoh mudah, kalian akan lebih suka memiliki karakteristik sendiri diantara kalangan teman kalian. Seperti gue kalo di-refer oleh teman-teman gue, gue akan lebih suka dibilang: "Itu lho, Reno yang item, sipit, yang suka pake baju aneh-aneh, pake boots kemana-mana yang ngobrolinnya kalo nggak cinta ya filosofi kehidupan." daripada, "Itu lho, Reno yang... yang... aduh gimana ya? Susah deh ngejelasinnya!"

Dan menurut gue, orang yang nggak ekspresif itu orang yang munafik. Yang tidak mengikuti kata hatinya, dan hidup biasa-biasa saja dan akan mati biasa-biasa saja. Mungkin masuk surga seperti orang biasa pada umumnya. Tapi, apa kalian tidak merasa spesial kalau begitu? Kalian itu cuma kumpulan-kumpulan atom yang begitu kecil dibandingkan betapa luasnya alam semesta. Kalian emang nggak mau jadi kumpulan atom yang, yaaah setidaknya sedikit berbeda lah dengan kumpulan atom yang lain? Kalian tidak mau sedikitpun merasa spesial karena menjadi kumpulan atom yang memancarkan gelombang yang agak berbeda dengan yang lain? Ibarat ada alien yang ngeliat pake teropong kearah bumi, kalian mau terlihat sama aja gitu dengan yang lain? Kalo gitu caranya, menurut kalian, hidup mati kalian agak datar nggak sih?


Tapi, kenapa kita harus saling membenci? Ketika gue kesel terhadap seseorang, gue nggak pernah menyalahkan kenapa dia seperti itu. Gue akan menyalahkan lingkungannya yang membentuk dia menjadi seperti itu. Seseorang tak pernah bisa memilih akan lahir menjadi anak siapa, dimana dan akan menjadi apa. Kita semua hanya bisa memilah-milih beberapa pilihan yang ditawarkan oleh lingkungan dimana kita berada, dan seringkali pilihan itu sangat terbatas. Jadi, kenapa kita nggak berusaha hidup berdampingan saja? Gue menjalani hidup gue dan lo menjalani hidup lo.

Kita boleh beropini dan mengkritik, tetapi jangan pernah menyakiti dan merugikan orang lain! Karena di semua agama, bahkan yang tidak beragamapun, menganggap itu sebagai perbuatan yang tercela. Lihat kembali ke dasar negara kita: Bhinneka Tunggal Ika = Berbeda-beda tapi satu. Tapi, kenapa kita tidak saling menerima dan mulai menghargai perbedaan yang ada diantara kita? Daripada kita saling mencari kekurangan satu sama lain dan mempesoalkan hal kecil yang membuat seluruh kita rontok menjadi kepingan antah berantah.




Jadi, bila nanti kita bertemu dan duduk bersama, mari kita letakkan hati diatas meja. Walau kulit dan baju kita berbeda, bentuk hati kita masih sama kan?

Kalian Sudah Siap?

Someone at Ask.fm: Kok kamu lama menjomblo sih?

Ketika terakhir kali gue pulang ke Indonesia, gue menyadari bahwa fenomena memiliki pasangan sangat kental ada di masyarakat Indonesia pada umumnya. Begitu kental hingga beberapa jiwa merasa tersiksa bila tidak memiliki pasangan dalam hidupnya. Sendiri. Jomblo. Galau. Kata-kata itulah yang ramai diucapkan di sosial media hingga radio dan acara televisi. Seolah memiliki satu pacar adalah hal yang mustahil karena ada 250 juta jiwa bergelimpangan di pelosok nusantara.

Pertanyaan-pertanyaa seperti:
"Udah punya pacar belom?"
"Gimana lovelife?"
"Sekarang sama siapa?"
Sering sekali muncul dari teman, keluarga, bahkan nenek kita sendiri.

Contoh paling gampang adalah kata-kata tentang cinta yang ada di Path, Facebook dan timeline Twitter.

Fenomena nikah kapan juga seakan menjadi sebuah tren tersendiri bagi kaum sosial Indonesia. Seakan ada batas umur maksimal untuk menikah. Takut ketuaan, tapi tak pernah takut terlalu muda. Seiring kita tua, akan ada muncul kalimat-kalimat menyudutkan yang baru dalam hidup kita.

"Mau nikah umur berapa?"
atau, "Mama kapan gendong cucu?"

Dan pacar kita mulai berkata, "Ih lucu ya bayinya."
atau "Aku kalo mau nikah pengen pake baju/undangan/dekorasi yang kayak gini."
atau "Liat deh cincinnya! Bagus kan?"

Dan ketika pesta pernikahan orang, seringkali ditanya "Giliran lo kapan?"

Begitu kentalnya hingga temen-temen cewek gue merasa terpaksa dan berkata "Gue harus nikah umur segini nih. Takut ketuaan ntar."
Seolah-olah status itu begitu penting di mata masyarakat. Yang terus memaksa kita untuk senantiasa mencari pasangan hidup. Yang selalu menuntut bahwa kalo nggak punya pacar ya itu sesuatu banget.



Tapi, pernahkah kalian berpikir, bahwa tuntutan-tuntutan tersebut bisa mengakibatkan jiwa-jiwa yang tersiksa?

Gue ikut senang dengan teman-teman gue yang bahagia memiliki pacar, serius, ingin segera menikah, bahkan sudah menikah di usia yang cukup cepat.

Tapi, ada baiknya, sebelum kalian menjajaki hubungan yang serius, kalian memperhatikan beberapa pertanyaan yang akan gue lemparkan kepada kalian.


Sudah siapkah kalian berkomitmen?



Hubungan itu antara dua individu. Dan komitmen tidak sebatas menjaga sebuah hubungan, tetapi menjaga satu sama lain. Hubungan itu gampang dijaga. Tinggal telpon tiap malem, chat tiap lima menit atau skype seminggu sekali. Tapi menjaga satu sama lain, itu yang agak susah.

Kalian siap berkorban buat dia? Siap ada di saat terburuk dia? Siap menjaga dia, ketika dia membutuhkan diri kalian? Kalo ngurusin diri sendiri aja udah susah, kalian bisa ngurusin orang lain?

Kalian nggak bisa segampang itu lho memutuskan cinta, apalagi kalo udah menikah. Komitmen itu tanggung jawab. Dan selayaknya sebagai manusia, kalian diharapkan untuk memenuhi tanggung jawab tersebut.


Sudah puaskah kalian bermain-main?



Ketika ada orang yang bilang, hubungan dan pernikahan menghindarkan diri dari perbuatan buruk itu memang benar. Tapi, di dalam beberapa kasus, pernyataan tersebut itu salah!

Gue lebih menghargai orang-orang yang senang-senang ketika mereka belum menikah, daripada orang yang senang-senang ketika mereka sudah menikah karena penasaran dan nggak pernah di waktu mudanya. Contoh: Pacar yang selingkuh lebih baik daripada suami yang selingkuh.

Bahkan dalam hukum Islam pun orang yang berzina ketika sudah menikah akan dihukum lebih berat daripada yang belum menikah lho!


Terlebih lagi, gue lebih nggak suka orang-orang yang berpoligami dan mengatakan itu halal menurut agama, hanya untuk memuaskan nafsu seksualnya terhadap gadis-gadis muda belia hanya karena istrinya sudah 'tak memuaskan' lagi.


Pikirkan lagi, kalian akan lebih senang hidup sendiri atau hidup bersama?



Jangan pernah memiliki hubungan atas dasar keterpaksaan dan tuntutan lingkungan sekitar, entah karena usia, dijodohkan atau hal lain yang menurut kalian akan menjurus kepada ketidakbahagiaan.

Jika kalian menikmati hidup secara independen, menghargai persahabatan daripada percintaan, masih ingin berpetualang sendiri, maka memiliki hubungan bukanlah buat kalian!

Ini hidup kalian lho. Kalo bukan di hidup kalian yang sekarang, kapan lagi seneng-senengnya? Kalian mau kesempatan kalian untuk berbahagia jadi berkurang karena harus mengurus orang lain?


Kalian tulus atau engga?



Bibit, bebet, bobot. To a certain extent, iya itu memang harus dipenuhi. Tapi, kalian lebih cinta sama yang mananya nih? Orangnya, duitnya, keluarganya atau jabatannya?

Banyak lho, terutama wanita, mencari pasangan yang mapan dengan masa depan yang jelas. Ya itu benar, tapi yang kalian nikahi yang mana? Orangnya yang sekarang atau orangnya di masa depan?

Kalo emang mau bener sih, apapun kedepannya, kalian akan setia menghadapi bersama. Karena ditiap hubungan itu harus saling melengkapi satu sama lain, agar kalian bisa bekembang, saling introspeksi untuk siap menghadapi hari esok yang menawarkan sejuta impian dan tantangan.


Terakhir, kalian yakin nggak dia adalah yang terakhir dalam hidup kalian?


Gue pernah kenal seorang lelaki. Umurnya udah jauh lewat 30. Pertama kali gue bertemu dia, dia itu penakluk wanita garis keras. Wanita dari negara manapun udah bertekuk lutut dihadapannya. Tapi, nggak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya bahwa dia akan menikah! Dia paling anti kalo cewek udah ngebet minta nikah! Mantan-mantannya yang ngajak dia buat hidup bersama, dia tolak mentah-mentah! Pokoknya, dia bujangan paling hardcore yang pernah gue temukan!

 Hingga suatu malam, dia ngasih tau gue bahwa dia udah beli cincin kawin.

Apa yang membuat pikirannya berubah? Dia bilang ke gue, "Waktu gue bangun pagi di Bali, gue ngeliat dia tertidur disamping gue. Dan saat itu gue yakin, gue bisa menghabiskan 30 atau 40 tahun lagi bangun pagi melihat wajah dia disamping gue."

Jadi, lihatlah kembali ke pasangan kalian. Kalian sudah yakin akan meghabiskan hidup kalian dengan dia? Kalo udah nyambung, lama lho gabisa putus. Dan jika kalian memutuskan untuk nikah muda, kalian yakin di usia kalian yang begitu belia, kalian sudah menemukan satu-satunya hati yang bentuknya cocok untuk mengisi ruang kosong di hati kalian? Semudah itukah pencarian kalian? Semudah itukah kalian menandatangani kontrak untuk hidup bersama selamanya?

Kalo kata lelaki yang gue sebut diatas: "It takes a lot of good times to reach a long time."

Kalo kata seseorang di Path: "Di suatu waktu, Tuhan akan menurunkan seorang malaikat yang akan menuntun hidup kalian, menginspirasi, mengajar dan melengkapi. Pada masa itulah, kalian berdua akan menghabiskan waktu bersama dan belajar dari satu sama lain. Kalian akan merasa bahagia, beruntung dan bangga. Hingga sampai di suatu waktu dimana Tuhan mencabut sayap dari punggungnya dan dia akan kembali menjadi seseorang yang biasa saja di hidup kalian."




Jadi untuk menjawab pertanyaan, kenapa gue jomblo. Gue akan jelaskan seperti ini:

Gue belum siap dalam beberapa hal yang gue sebutkan diatas. Terlebih lagi untuk soal komitmen. Ketika gue sayang dengan seseorang, gue akan menyatakannya. Tapi, gue nggak akan menjadikan dia pacar gue. Gue mau hubungan kita berjalan begitu saja, tanpa ada ikatan. Yang penting gue tau dia sayang gue dan dia tau gue sayang dia. Memang susah, tetapi itu yang bisa gue yang terbaik yang bisa gue lakukan saat ini.



Disclaimer: Tulisan ini ditulis oleh seorang pria single yang sudah lama tak pernah mengganti status hubungan di Facebooknya. Mungkin agak memihak ke satu sisi, tapi ada baiknya kita resapi sejenak pertanyaan tadi.