It's that time of age. Kalian berpasangan. Sudah beberapa tahun belakangan. Basically, you guys are a good match. No, you guys are a great match! Si cewek nggak pernah menemukan cowok sebaik ini dalam hidupnya. He's educated, charming in sort of ways, punya tujuan hidup dan masa depan yang jelas, cukup perhatian dengan kebutuhan kalian, dan yang paling penting, setia. Well, setidaknya di mata kalian dia terlihat setia.
Si cowok pun demikian. Dia merasa pasangannya atraktif (re: presentable ke keluarga dan teman-teman), bisa menjadi teman bicara yang nyaman selama berjam-jam over a cheap bottle of wine, dan dia sendiri pun yakin bahwa wanita ini dapat menjadi seseorang yang bisa mendukung hidup, karier dan masa depannya. More or less, at least.
Now, here's the catch. Kalian berdua sudah cukup lama menjalin hubungan. TAPI, it's just not your time to get married. Baik salah satu pihak yang masih merasa belum siap, atau keduanya yang masih ingin bebas menikmati dunia masing-masing. However, kalian sudah pernah memikirkan hal ini sebelumnya: apakah pasangan saya yang sekarang sudah pas menjadi pasangan hidup saya?
Keep in mind that kalian berdua menganggap pasangan kalian yang sekarang adalah yang terbaik yang pernah kalian temukan.
But, what if one of you finds someone better?
Realistically speaking, di era yang serba bebas, realistis dan individualis ini, akan banyak manusia termasuk diri kalian sendiri yang memiliki kriteria tertentu untuk mencari pasangan hidup kalian. Seperti memilih mata kuliah, kalian pasti punya Core dan Complementary choice (examples below). Yang pada umumnya nggak pernah ada makhluk sesempurna itu di langit manapun yang bisa memenuhi semua kriteria kalian. But, they are few who come close.
Tapi, jika suatu ketika semua bintang di rasi Sagitarius akhirnya ada dalam posisi tegak lurus satu sama lain dan menyebabkan reaksi berkesinambungan melalui gaya gravitasi dengan molekul hidrogen yang ada di permukaan bumi dan akhirnya membuat salah satu dari kalian menemukan orang lain yang lebih baik dari pasangan kalian saat ini, what will happen next?
Okay, moment of truth. Jatuh hati dengan seseorang yang lain bukanlah disebabkan karena rasi bintang yang tiba-tiba tegak lurus satu sama lain, tetapi karena pada dasarnya setiap orang secara subconsciously memiliki alternatif dalam pilihan pasangan hidup mereka (Baskoro, 2015). It might sound evil, but believe me, with the increasing trend of individualism among people nowadays, they will subconsciously think about the greater good for themselves. Walaupun masih banyak juga yang memiliki sifat deontological yang masih memikirkan tentang orang lain selain dirinya sendiri, sifat utilitarian akan lebih prevalent di dalam masyarakat pada umumnya.
Pandangan pragmatis inilah yang terjadi kepada manusia, dan mengertilah bahwa hal ini sangat normal. Kenapa? Karena secara biologis, manusia ingin mengejar survival rate dan productivity untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Dan layaknya mahkluk lain pada umumnya, manusia akan merealisasikan hal ini dengan cara memilih pasangan hidup yang terbaik.
But seriously speaking, banyak orang yang memiliki alternatif pertama, kedua, ketiga bahkan keempat dalam menentukan pasangan hidup mereka. Bila kalian belum menyadari ini pada pasangan kalian, mungkin saja mereka tak ingin kalian tahu karena mereka tak ingin menyakiti hati kalian. Bahkan kalian sendiri mungkin pernah memiliki alternatif lain selain pasangan kalian. Dan kadang, bila si alternatif pertama tidak bisa mempertahankan tempatnya di posisi pertama, akan ada pilihan alternatif lain yang siap maju dan mengambil posisi pertama.
Dan akhirnya... Sebuah kisah yang telah lama ditulis, harus berhenti pada halaman terakhir.
Dan sebuah kisah baru akan mulai ditulis pada halaman pertama.
Lalu, bagaimana bila kalian adalah orang yang ditinggal?
One of the best relationship advice from my mom is to never love someone too much. Because when you do, it is harder to let go. Dan hingga detik ini, lebih banyak manusia yang gue temukan mengaplikasikan hal ini di dalam hubungan mereka. Because heartbreaks are more difficult to cure than bullet wounds. #anjay
Tapi, menurut gue, if you truly love someone, then let them go. Karena mencintai atau menyayangi seseorang itu berarti dapat melepasnya untuk mencari kebahagiaan dan jalan hidupnya sendiri. You don't have to be selfish and keep them for yourself.
Dan mengertilah, bahwa sebenarnya kalian benar-benar mencintai mereka bila kalian melepas mereka untuk mendapatkan jalan hidup yang lebih baik untuk diri mereka, which mungkin dalam hal ini adalah tidak bersama dengan kalian...
Dan bila memang alam berkehendak, bintang-bintang di rasi Virgo akan ada dalam posisi berseberangan satu sama lain dan akan menyebabkan medan magnet yang sangat kuat hingga menyebabkan beberapa unsur logam di bumi bereaksi terlalu hebat, bahkan zat besi didalam tubuh kalian yang akan menarik kalian menuju pasangan terbaik yang akan kalian temukan seumur hidup kalian...
Tahun 2014 menurut gue personally adalah tahun yang berlalu dengan sangat cepat. I can easily recall into details how I spent the new year's eve, exactly one year ago. Namun, walaupun semua terasa begitu cepat, tiga ratus enam puluh lima hari yang gue lewati di tahun 2014 telah mengajarkan gue begitu banyak hal, dan pasti kalian juga merasakan hal yang sama.
Tanpa mungkin kita ingat dengan jelas, begitu banyak hal yang telah terjadi dalam kehidupan kita di tahun 2014. Kita semua menjalani hal yang berbeda-beda, tetapi sejatinya, kita semua pasti setidaknya merasakan hal yang sama, yang membuat kita sedikit lebih bijaksana, sedikit lebih dewasa di akhir tahun ini.
Selama setahun belakangan ini, pasti banyak diantara kita yang menemukan momen bahagia dan membanggakan dimana kita berhasil melakukan atau meraih sesuatu. Sebuah kesuksesan, kalau boleh dibilang, pasti telah terjadi kepada diri kalian di tahun 2014.
Saat dimana kita begitu bangga dengan diri kita sendiri, saat dimana kita telah berhasil menaklukkan sesuatu, apapun itu. Dan kita merasa puas akan pencapaian kita tersebut. This is the time when the people around you acknowledge you for your achievement and effort, and you feel confident about yourself and feel motivated to do more. And it feels so damn good!
Tapi, juga akan ada waktu dimana kalian hit rock bottom. Kalian begitu hancur. Terjatuh. Gagal. Kecewa, terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini dimana kalian mulai mempertanyakan kualitas diri kalian sebagai manusia. Meragukan kemampuan masing-masing. Merasa sendiri dan tak ada yang mau mengulurkan tangan untuk menarik kalian dari kejatuhan kalian yang begitu dalam.
Saat inilah dimana kepercayaan orang-orang terhadap kalian mulai pudar, dimana orang mulai meragukan kalian. melihat kalian dengan mata terpicing seolah meremehkan. Now, this is the moment when people questions yourself, and instead of proving to them, you actually swallow all their emotions and start blaming yourself for every little things that went wrong.
Namun, betapa manisnya keberhasilan dan betapa pahitnya kegagalan, kalian belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Keberhasilan mengingatkan kalian bahwa kalian memiliki kekuatan. Kekuatan yang dapat membantu kalian mencapai apapun yang kalian inginkan. Di sisi lain, kegagalan menunjukkan kepada kalian dimana letak kelemahan kalian, dan akan meninggalkan sebuah luka yang begitu dalam sebagai tanda pengingat untuk tidak terjatuh di tempat yang sama.
Di sisi lain, tahun yang begitu cepat berlalu ini juga memperkenalkan kita kepada wajah-wajah baru, suasana baru dan kehidupan yang juga baru. Jika kalian bayangkan, berapa teman dan sahabat baru yang kalian temukan tahun ini? Sebagai makhluk sosial, kita akan selalu terlibat dalam sebuah perkumpulan manusia, sebuah komunitas. Akan ada banyak wajah baru yang masuk kedalam kehidupan kita dan membantu mewarnai sekaligus menulis lembaran baru dalam kisah hidup kita.
Tuhan mengirimkan mereka dengan sebuah kuas dan tinta untuk mengisi kehidupan kita dengan warna. Setiap orang memiliki warna yang berbeda, tergantung peran mereka dalam hidup kita. Akan ada yang membawa warna merah menyala dan menjadi penyemangat di kehidupan sehari-hari kita. Ada yang membawa tinta hitam kelam dan mencoba menghapus sinar kehidupan kita dengan kegelapan. Ada juga yang membawa berbagai macam tinta, dan akan mengisi kehidupan kalian dengan rasa yang berbeda di setiap harinya.
Namun, layaknya sebuah printer, tinta mereka akan habis, dan lambat laun hanya menyisakan noda-noda dan bercak tak jelas diatas lembaran kehidupan kalian. Dan layaknya tinta-tinta yang lain, ketika waktu mereka sudah habis, mereka akan diganti dengan tinta lain yang akan bertugas untuk mewarnai lembaran kalian.
Dan betapa waktu bergerak dengan sangat cepat, hingga seseorang yang begitu dekat dengan kita, dapat kembali menjadi seseorang yang asing dalam kehidupan kita. Ingatlah kembali, di tahun yang singkat ini, sudah berapa banyak tinta yang kalian tinggalkan? Sudah berapa banyak kuas-kuas yang mengeras? Sudah berapa banyak ucapan perpisahan yang kalian katakan? Dan apakah kalian sudah menyempatkan, untuk mengisi kembali tinta-tinta tersebut agar mereka dapat kembali mewarnai kehidupan kalian?
Mungkin ada beberapa diantara tinta-tinta tersebut yang tidak akan kembali mewarnai kehidupan kalian. Namun, berterimakasihlah. Setidaknya Tuhan telah mengirimkan mereka untuk membantu kalian mewarnai lembaran kisah hidup kalian, dan bila kalian buka kembali halaman tersebut, ingatlah mereka dan berterimakasihlah karena mereka telah mengajarkan sesuatu kepada kalian dengan warna mereka sendiri.
Terakhir, akan banyak diantara kita yang menjadikan tahun ini sebagai tahun untuk mencari jawaban. Mencari kepuasan, mencari keinginan, mencari jati diri. Mencari apa yang bahkan kita belum tahu untuk dicari.
Banyak dari kalian yang akan bermain teka-teki dengan diri sendiri. Kalian penasaran, terhadap diri kalian, terhadap lingkungan di sekitar kalian, atau bahkan terhadap kehidupan kalian secara keseluruhan. Kalian bertanya-tanya, mencari sesuatu yang membuat diri kalian merasa janggal.
Maka dari itu kalian mencari tahu. You set up a quest. You go. Travel. Experience. Explore. Get lost. And find yourself again. Perjalanan untuk menemukan sebuah jawaban bukanlah hal yang mudah; it's a lifelong process. Dan di tengah jalan, kalian akan hilang, tersesat seolah tak menemukan apa-apa. Kalian juga akan kehilangan, tapi kehilangan akan menyadarkan kalian terhadap hal apa yang sebenarnya kalian butuhkan.
Bagi beberapa dari kalian, akan ada yang sudah menemukan jawaban yang kalian cari selama ini. Sisanya, kalian akan menemukannya di kemudian hari. Remember, it is a lifelong process. Setiap orang memiliki pertanyaan yang berbeda, jawaban yang berbeda, jalan menuju jawaban yang juga berbeda dan tentu saa waktu tempuh yang berbeda.
Bila sudah menemukan jawabannya, akan ada dari kalian yang merasa puas, tapi ada juga yang kecewa karena ini bukanlah jawaban yang kalian cari-cari. Tetapi, terkadang bukan jawabannya yang sebenarnya kita cari, namun proses menuju jawaban tersebut yang mengubah jalan pikiran kita hingga mendapatkan apa yang kita cari selama ini.
Pada akhirnya, semua itu adalah proses bagi kita untuk mengenal diri kita sendiri lebih dalam. Perjalanan mencari sebuah jawaban akan membuat kita menjadi lebih dewasa, karena pemikiran kita akan dipaksa untuk melihat dengan cara yang berbeda. Dan semuanya akan membuat kita lebih puas dan lebih bahagia dengan kehidupan yang kita pilih nantinya.
Dan, di ujung tahun yang begitu mengesankan ini, mari kita tersenyum. Bahwa kita masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan di kemudian hari. Bahwa apapun yang kita miliki sekarang, kurang ataupun lebih, adalah sebuah titipan yang suatu saat dapat diambil kembali. Bahwa segala kebahagiaan adalah anugerah dari sebuah usaha, dan setiap kesedihan adalah cobaan untuk memperkuat jiwa dan raga. Bahwa teman dan keluarga adalah tokoh yang akan ada dalam lembaran kisah hidup kita. Bahwa kita siap, untuk melihat matahari kembali bersinar lagi, untuk berjalan satu langkah lebih jauh lagi, tertawa lebih keras lagi dan menangis lebih kencang lagi. Bahwa kita percaya akan ada sesuatu yang lebih besar lagi kedepannya, dari semua yang pernah kita tinggalkan.
That we are human. That we rise and we fall, and rise again and fall better. That we are getting older and hurt, but we are alive and getting stronger each day. That we are not perfect, but we are thankful, for imperfection makes us who we are.
Seiring berjalannya waktu, kita akan lepas dari yang namanya cinta-cinta monyet, kisah kasih di sekolah atau cinta-cinta teenlit lainnya yang terasa superficial, tapi menyenangkan. Cinta-cinta yang masih idealis, dimana perasaan adalah segalanya dan pasangan kalian menjadi salah satu makhluk hidup yang tak bisa kalian lepas begitu saja.
Banyak dari kisah cinta ini yang membuat kita sering kali berkorban hanya untuk mempertahankan hubungan itu. Banyak juga yang berpikir bahwa cinta pada saat ini adalah hal yang begitu serius hingga menjadi prioritas dalam hidup kalian. Hingga banyak dari kalian yang belum putus atau bahkan bermimpi untuk langsung menikah setelah kalian menyelesaikan pendidikan kalian.
Walau belum 100 persen, kalian rela melakukan apapun demi pasangan kalian. Kalian tetap tabah walau kadang jarak diantara kalian berjauhan, kalian tetap saling menyayangi walau mungkin keyakinan kalian berbeda, bahkan kalian kuat menahan betapa sakitnya diselingkuhi. Masa-masa inilah dimana kalian begitu rendah hati mau memberikan seluruh hati kalian, walau tak ada jaminan bahwa hati kalian akan kembali dalam keadaan tak tergores.
Namun, beberapa dari kita akan lepas dari tahap tersebut. Kadang dengan pengalaman yang begitu indah, tapi kadang juga begitu pahit. Sedikit lebih tua, sedikit lebih bijaksana.
Setelah akhir kisah cinta kita yang idealis, banyak dari kita yang akan memutuskan untuk hidup sendiri. Mencoba bergulir dengan kehidupan, mencari pengalaman baru dan kesibukan baru sebagai cara untuk move on dari pasangan kita yang telah pergi. Kita akan menemukan hobi baru, teman baru dan pengalaman yang juga baru.
Masa-masa inilah dimana kita akan mempelajari sedikit lebih dalam tentang diri kita sendiri. Mencari jati diri, mencoba mencari arti hidup kita sendiri. Banyak dari kita yang akan sadar bahwa umur kita masih begitu muda. Masih banyak yang harus dialami, dinikmati, dipelajari, dikunjungi dan dilalui.
Seiring dengan berjalannya, kita akan menjadi sedikit lebih egois. Terbiasa hidup sendiri akan membuat kita menjadi lebih fokus dengan diri kita sendiri. Kita akan lebih mementingkan pendidikan dan kesuksesan kita sendiri. Kita akan mencari lebih banyak teman untuk diri kita sendiri. Melakukan segala hal yang kita inginkan dan pergi ketempat manapun yang kita impikan. Dan disanalah dimana kita sudah mulai menemukan arti hidup kita sendiri, dan mencoba untuk berjalan menggapainya sendiri.
Lalu, akan ada saat dimana Tuhan akan sedikit bermain-main dengan hati kecil kalian yang kini sudah berdebu. Akan ada seseorang yang cukup istimewa datang mengetuk pintu kehidupan kalian, mencoba berbagi ruang disisi kalian, dan mungkin meminjam hati kalian yang sekarang lebih sering menyendiri, untuk dibawa bermain-main dengan romantika cinta dan asmara.
Disaat seperti ini, kalian akan bingung. Tergugah dan tersipu. This is the time when you don't mind being single, but it's nice to have someone to fill your life. Disaat inilah kalian akan memiliki konflik batin antara kenikmatan hidup sendiri dan perhatian dari seseorang yang selama ini tak ada dalam hidup kalian. Disinlah masa-masa dimana kalian akan berkata "jalanin dulu aja".
Kenapa jalanin dulu aja? Karena kalian bingung. Di satu sisi, kalian ingin memiliki komitmen, tapi kalian takut untuk jatuh ke lubang yang sama dan kalian masih menikmati hidup sendiri. Disisi lain, kalian ingin tidak berkomitmen, tapi dalam hati kalian ingin memiliki dirinya dan cemburu bila dia bersama orang yang lain.
Namun, pada akhirnya kalian harus bersikap dewasa. Jalanin dulu aja tidak akan menyelesaikan masalah. Pada akhirnya kalian harus memilih: apakah perasaan itu begitu nyata hingga hidup akan terasa lebih baik bagi kalian untuk berkomitmen dan meminjamkan hati kalian sekali lagi; atau apakah ego kalian begitu besar hingga hidup akan terasa lebih indah bila dijalani seorang diri?
Ini hidup kalian, ini hati kalian dan ini masa depan kalian. Pilihlah satu jalan yang tak hanya membuat kalian tersenyum ketika menjalaninya, tapi juga tersenyum ketika kalian telah melaluinya...
"You're pretty much everything that I've ever wanted. We have so much in common. You say the things I wanna say, you hear the music I wanna hear, and you are the one I've been looking for. But we met too early. If we are destined to meet five years from now, we would've been together..."
Buat teman gue tercinta, Ayu, suara Michael Buble itu lacks of character. Dia berkata, "He's good, I must admit. But, he's just good. That's all. He has nothing more to offer. He's almost like vanilla."
Anonymous on ask.fm: "Please write down your type of girl" #serious
It is uncommon for guys to determine the types of girls that they want. Guys usually go for anything roaming out there. Just like fishing, we don't really bother with the kind of fish we're looking for. That if we're lucky enough to catch one. You might wanna rephrase your questions to: what kind of girl would be perfect to you? That, my friend, I would be very happy to answer.
I want her to be adventurous. We would travel together to the most absurd places in the world, using the worst transportation available, yet she enjoys every moments of it. Andes to Kilimanjaro. Sahara to Gobi. Aurora Borealis to Emperor Penguin.
I want her to be flexible. She should be able to appreciate a 1974 Cabernet Sauvignon on the roof of the tallest building in town, but still finds ecstatic pleasure eating a fried tofu in the local street market. She could be my mom's new best friend, and still bursts into laughter hearing cheap, dirty jokes from my buddies.
I want her to be artsy batsy. When we go to the museum, she would talk of Picasso, Magritte and even Dada. She enjoys good music with a cup of coffee, reading Nikolai Gogol. And when we have a live music in a cafe, she would not hesitate to step up the stage and say; "This song is for that guy who's sitting over there!"
I want her to be beautiful. Just the way she is. She will still look beautiful even before shower. She should have the face that makes you grateful to have such angelic beauty in your life. The face that will be the first you see every morning, for the rest of your life, yet never bores you anytime soon
I want her to be random. She can speak foreign languages from countries you never heard of. She enjoys being alone on the roof watching the sunset. She's unpredictable. She would be mad at you during uncertain times, and in uncertain places, doing uncertain things. You would get enough of her. But you realize that you still love her, without any specific reason.
I want her to be wild. Untamed. Independent. Liberal. Free like a bird. Brave like a lion. Cunning like a fox. She should be strong. As if she doesn't need me. But when we meet, we know that we are bound to each other. No matter how strong we are.
Lastly, I want her to make my 'box' bigger. Within this 'box', I have put all my past, present and future. All the experiences, stories, knowledge. My financial status, careers, lifestyle. My dreams, my opportunities, my success, my happiness. EVERYTHING. All contained within this 'box'. Now, when I look at her, I'm pretty sure that she is the only one who can make my 'box' bigger.
She's not gonna be easy. But, she's gonna be worth it.
Someone at Ask.fm: Kok kamu lama menjomblo sih?
Ketika terakhir kali gue pulang ke Indonesia, gue menyadari bahwa fenomena memiliki pasangan sangat kental ada di masyarakat Indonesia pada umumnya. Begitu kental hingga beberapa jiwa merasa tersiksa bila tidak memiliki pasangan dalam hidupnya. Sendiri. Jomblo. Galau. Kata-kata itulah yang ramai diucapkan di sosial media hingga radio dan acara televisi. Seolah memiliki satu pacar adalah hal yang mustahil karena ada 250 juta jiwa bergelimpangan di pelosok nusantara.
Pertanyaan-pertanyaa seperti:
"Udah punya pacar belom?"
"Gimana lovelife?"
"Sekarang sama siapa?"
Sering sekali muncul dari teman, keluarga, bahkan nenek kita sendiri.
Contoh paling gampang adalah kata-kata tentang cinta yang ada di Path, Facebook dan timeline Twitter.
Fenomena nikah kapan juga seakan menjadi sebuah tren tersendiri bagi kaum sosial Indonesia. Seakan ada batas umur maksimal untuk menikah. Takut ketuaan, tapi tak pernah takut terlalu muda. Seiring kita tua, akan ada muncul kalimat-kalimat menyudutkan yang baru dalam hidup kita.
"Mau nikah umur berapa?"
atau, "Mama kapan gendong cucu?"
Dan pacar kita mulai berkata, "Ih lucu ya bayinya."
atau "Aku kalo mau nikah pengen pake baju/undangan/dekorasi yang kayak gini."
atau "Liat deh cincinnya! Bagus kan?"
Dan ketika pesta pernikahan orang, seringkali ditanya "Giliran lo kapan?"
Begitu kentalnya hingga temen-temen cewek gue merasa terpaksa dan berkata "Gue harus nikah umur segini nih. Takut ketuaan ntar."
Seolah-olah status itu begitu penting di mata masyarakat. Yang terus memaksa kita untuk senantiasa mencari pasangan hidup. Yang selalu menuntut bahwa kalo nggak punya pacar ya itu sesuatu banget.
Tapi, pernahkah kalian berpikir, bahwa tuntutan-tuntutan tersebut bisa mengakibatkan jiwa-jiwa yang tersiksa?
Gue ikut senang dengan teman-teman gue yang bahagia memiliki pacar, serius, ingin segera menikah, bahkan sudah menikah di usia yang cukup cepat.
Tapi, ada baiknya, sebelum kalian menjajaki hubungan yang serius, kalian memperhatikan beberapa pertanyaan yang akan gue lemparkan kepada kalian.
Sudah siapkah kalian berkomitmen?
Hubungan itu antara dua individu. Dan komitmen tidak sebatas menjaga sebuah hubungan, tetapi menjaga satu sama lain. Hubungan itu gampang dijaga. Tinggal telpon tiap malem, chat tiap lima menit atau skype seminggu sekali. Tapi menjaga satu sama lain, itu yang agak susah.
Kalian siap berkorban buat dia? Siap ada di saat terburuk dia? Siap menjaga dia, ketika dia membutuhkan diri kalian? Kalo ngurusin diri sendiri aja udah susah, kalian bisa ngurusin orang lain?
Kalian nggak bisa segampang itu lho memutuskan cinta, apalagi kalo udah menikah. Komitmen itu tanggung jawab. Dan selayaknya sebagai manusia, kalian diharapkan untuk memenuhi tanggung jawab tersebut.
Sudah puaskah kalian bermain-main?
Ketika ada orang yang bilang, hubungan dan pernikahan menghindarkan diri dari perbuatan buruk itu memang benar. Tapi, di dalam beberapa kasus, pernyataan tersebut itu salah!
Gue lebih menghargai orang-orang yang senang-senang ketika mereka belum menikah, daripada orang yang senang-senang ketika mereka sudah menikah karena penasaran dan nggak pernah di waktu mudanya. Contoh: Pacar yang selingkuh lebih baik daripada suami yang selingkuh.
Bahkan dalam hukum Islam pun orang yang berzina ketika sudah menikah akan dihukum lebih berat daripada yang belum menikah lho!
Terlebih lagi, gue lebih nggak suka orang-orang yang berpoligami dan mengatakan itu halal menurut agama, hanya untuk memuaskan nafsu seksualnya terhadap gadis-gadis muda belia hanya karena istrinya sudah 'tak memuaskan' lagi.
Pikirkan lagi, kalian akan lebih senang hidup sendiri atau hidup bersama?
Jangan pernah memiliki hubungan atas dasar keterpaksaan dan tuntutan lingkungan sekitar, entah karena usia, dijodohkan atau hal lain yang menurut kalian akan menjurus kepada ketidakbahagiaan.
Jika kalian menikmati hidup secara independen, menghargai persahabatan daripada percintaan, masih ingin berpetualang sendiri, maka memiliki hubungan bukanlah buat kalian!
Ini hidup kalian lho. Kalo bukan di hidup kalian yang sekarang, kapan lagi seneng-senengnya? Kalian mau kesempatan kalian untuk berbahagia jadi berkurang karena harus mengurus orang lain?
Kalian tulus atau engga?
Bibit, bebet, bobot. To a certain extent, iya itu memang harus dipenuhi. Tapi, kalian lebih cinta sama yang mananya nih? Orangnya, duitnya, keluarganya atau jabatannya?
Banyak lho, terutama wanita, mencari pasangan yang mapan dengan masa depan yang jelas. Ya itu benar, tapi yang kalian nikahi yang mana? Orangnya yang sekarang atau orangnya di masa depan?
Kalo emang mau bener sih, apapun kedepannya, kalian akan setia menghadapi bersama. Karena ditiap hubungan itu harus saling melengkapi satu sama lain, agar kalian bisa bekembang, saling introspeksi untuk siap menghadapi hari esok yang menawarkan sejuta impian dan tantangan.
Terakhir, kalian yakin nggak dia adalah yang terakhir dalam hidup kalian?
Gue pernah kenal seorang lelaki. Umurnya udah jauh lewat 30. Pertama kali gue bertemu dia, dia itu penakluk wanita garis keras. Wanita dari negara manapun udah bertekuk lutut dihadapannya. Tapi, nggak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya bahwa dia akan menikah! Dia paling anti kalo cewek udah ngebet minta nikah! Mantan-mantannya yang ngajak dia buat hidup bersama, dia tolak mentah-mentah! Pokoknya, dia bujangan paling hardcore yang pernah gue temukan!
Hingga suatu malam, dia ngasih tau gue bahwa dia udah beli cincin kawin.
Apa yang membuat pikirannya berubah? Dia bilang ke gue, "Waktu gue bangun pagi di Bali, gue ngeliat dia tertidur disamping gue. Dan saat itu gue yakin, gue bisa menghabiskan 30 atau 40 tahun lagi bangun pagi melihat wajah dia disamping gue."
Jadi, lihatlah kembali ke pasangan kalian. Kalian sudah yakin akan meghabiskan hidup kalian dengan dia? Kalo udah nyambung, lama lho gabisa putus. Dan jika kalian memutuskan untuk nikah muda, kalian yakin di usia kalian yang begitu belia, kalian sudah menemukan satu-satunya hati yang bentuknya cocok untuk mengisi ruang kosong di hati kalian? Semudah itukah pencarian kalian? Semudah itukah kalian menandatangani kontrak untuk hidup bersama selamanya?
Kalo kata lelaki yang gue sebut diatas: "It takes a lot of good times to reach a long time."
Kalo kata seseorang di Path: "Di suatu waktu, Tuhan akan menurunkan seorang malaikat yang akan menuntun hidup kalian, menginspirasi, mengajar dan melengkapi. Pada masa itulah, kalian berdua akan menghabiskan waktu bersama dan belajar dari satu sama lain. Kalian akan merasa bahagia, beruntung dan bangga. Hingga sampai di suatu waktu dimana Tuhan mencabut sayap dari punggungnya dan dia akan kembali menjadi seseorang yang biasa saja di hidup kalian."
Jadi untuk menjawab pertanyaan, kenapa gue jomblo. Gue akan jelaskan seperti ini:
Gue belum siap dalam beberapa hal yang gue sebutkan diatas. Terlebih lagi untuk soal komitmen. Ketika gue sayang dengan seseorang, gue akan menyatakannya. Tapi, gue nggak akan menjadikan dia pacar gue. Gue mau hubungan kita berjalan begitu saja, tanpa ada ikatan. Yang penting gue tau dia sayang gue dan dia tau gue sayang dia. Memang susah, tetapi itu yang bisa gue yang terbaik yang bisa gue lakukan saat ini.
Disclaimer: Tulisan ini ditulis oleh seorang pria single yang sudah lama tak pernah mengganti status hubungan di Facebooknya. Mungkin agak memihak ke satu sisi, tapi ada baiknya kita resapi sejenak pertanyaan tadi.
Malam mendatanginya dalam mimpi.
Malam yang gelisah, mengajaknya
Menunggangi rumah masa kecil.
Terbawa pula perdu, rumputan padang
pohon akasia. Juga burung dan kupu
yang bergerak selalu, mengantarnya
ke barat. Ke kampung asal.
Malam yang penuh pengertian itu
menggiring mimpinya, renta dalam duka
menjenguk masa lalu.
- Cyprianus Bitin Berek
Raksa melihat keluar jendela. Langit Jakarta pada malam itu mendung, meneteskan air hujan perlahan-lahan. Lebih dari dua puluh jam dan enam belas ribu kilometer telah dilalui Raksa untuk kembali pulang. Enam tahun. Enam tahun sejak terakhir kali ia melihat tugu monas, patung selamat datang dan banjir di depan rumah setiap musim penghujan. Enam tahun, dia sibuk mencari nafkah di The Big Apple, hingga akhirnya ia berpikir bahwa sudah saatnya untuk mengunjungi rumah.
Badan kapal udara perlahan merendah, menyusuri pinggiran pantai, bersiap mendarat di landasan tua Soekarno-Hatta. Hingga saat roda menyentuh tanah, akhirnya Raksa resmi mendarat di negerinya sendiri. Setelah keluar dari pesawat, melewati imigrasi dan mengambil bagasi, Raksa keluar dari area terminal. Dia tidak berharap untuk dijemput siapa-siapa, tapi setidaknya ada satu orang yang ingat akan kedatangannya. Wajah yang begitu familiar di matanya, walau sudah bertahun-tahun ia tak pernah melihatnya. Wajah yang kini diisi keriput kehidupan dan dihiasi rambut yang mulai memutih.
"Bunda."
"Oh, Raksa anakku."
Setelah enam tahun tidak pernah berjumpa, wajar bila seorang ibu memeluk anak laki-laki satu-satunya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di dada anaknya yang keras sambil menitikkan satu atau dua tetes air mata. Pelukan itu bertahan beberapa menit, hingga mereka sadar bahwa mereka menghalangi jalan. Raksa dan bundanya langsung berjalan menuju parkiran.
"Hujan, bun."
"Tenang. Bunda bawa payung kok."
Memang, seorang ibu harus selalu siap di depan anaknya. Ibu yang hebat adalah yang selalu bisa menjadi andalan anaknya dalam melakukan sesuatu sesederhana apapun itu, seperti mencarikan barang yang hilang, membalut luka atau minta sarapan di pagi hari.
Raksa dan bunda berjalan berdua dibawah satu payung. Sesampainya di mobil, Raksa tertegun ibunya masih memakai mobil yang sama sejak pertama kali Raksa pulang ke Indonesia. Mobil sedan abu-abu buatan Jepang yang sudah cukup tua. Dan dikemudikan oleh wanita yang juga tak kalah tua. Sejak muda, ibunda Raksa selalu menyetir sendiri. Hingga kini di usianya yang sudah lewat setengah abad pun tetap ia menolak dicarikan sopir.
Jalan keluar dari area bandara malam itu cukup sepi, mengingat sudah hampir jam 12 malam. Beberapa mobil terlihat berjalan perlahan karena licinnya jalanan pada malam itu. Radio pun hanya memainkan lagu-lagu mellow lokal yang terdengar begitu asing di telinga Raksa. Bunda sibuk memperhatikan jalan yang berkabut, sementara Raksa hanya melihat papan-papan iklan yang berjejer dari balik kaca mobil.
"Gimana kerjaanmu?"
"Ya begitulah."
Sifat Raksa yang begitu dingin dan penyendiri membuatnya tak pernah berbicara lebih dari beberapa kalimat. Kecuali bila berhubungan dengan ekonomi dan keuangan, dimana dia bisa berjam-jam menjelaskan presentasi tentang capital asset pricing model.
"Kamu mau makan apa?"
"Aku nggak laper, bun."
Bunda hanya tersenyum. Begitu rindunya dia akan kehadiran putranya disisinya. Wajahnya. Matanya. Suaranya yang begitu berat. Dan lesung pipit yang ada di pipi kirinya yang selalu terlihat ketika ia tersenyum. Tapi, Raksa jarang tersenyum. Entah kapan terakhir kali bunda melihat lesung pipitnya yang terukir manis ketika anaknya menyunggingkan sebuah senyuman. Hanya di dalam foto yang tersimpan di album yang berdebu diantara ratusan buku di rak paling ujung rumah.
Raksa hanya melihat keluar kaca. Betapa jalanan ini terlihat begitu familiar. Gedung-gedung ini. Suasana ini. Hingga tukang nasi goreng langganannya yang masih berjualan di depan komplek rumahnya. Raksa tahu betul jalanan ini yang menjadi saksi ia tumbuh dewasa. Aspal ini yang mengukir luka di lututnya ketika ia jatuh. Dan akhirnya dia melihat rumah kecil diujung jalan. Raksa turun dari mobil. Memperhatikan. Pagar hitam yang telah berkarat. Cat tembok yang terkelupas. Pintu kayu yang berderit menggesek lantai bila digerakkan. Rumah ini tempat semua mimpinya berasal.
Keesokan malam, seperti biasa Raksa baru saja pulang dari sebuah reuni kecil-kecilan SMA. Entah kenapa dia memikirkan ucapan bundanya kemarin. Ia sadar bahwa ia begitu tidak acuh terhadap ibunya sendiri. Ibunya satu-satunya. Yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya walaupun harus lewat telepon walau sering berakhir putus-putus. Raksa ingin meminta maaf dan mengekspresikan rasa sayangnya kepada ibunya. Tapi, ia tak bisa mengatakannya secara gamblang. Hatinya terlalu dingin untuk mengatakan kata-kata itu didepan ibunya dengan mudah.
Raksa kemudian melewati sebuah toko roti. Dia memutuskan untuk mampir sebentar dan membeli sebuah kue ulang tahun untuknya. Raksa memilih sebuah kue tart cokelat sederhana dengan tulisan Happy Birthday. Ia juga membeli beberapa lilin dan sebuah kartu ucapan. Setidaknya ia menuliskan kata-kata di dalam kartu tersebut yang malu ia ucapkan secara langsung di depan ibundanya.
Air hujan turun deras menghantam atap rumah. Gemuruh petir membahana bersautan. Bunda berdiri di depan teras rumah, menggenggam telepon di tangan kanannya. Wajahnya nampak cemas. Raksa belum pulang hingga jam 2 dini hari. Bunda mencoba menelpon Raksa berkali-kali, tetapi selalu keluar nada sibuk. Bunda kemudian tersenyum kecil dan masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu.
Semoga Raksa baik-baik saja...
Beberapa menit sebelum subuh, telepon rumah berdering. Bunda terbangun dari ranjangnya dan langsung keluar kamar untuk mengangkat telepon.
"Halo...?"
Diantara suara rintik hujan yang turun, bunda mendengarkan telepon dengan seksama. Entah siapa yang berani menelpon sepagi ini. Tapi, siapapun itu, dia sudah berhasil membuat raut wajah bunda berubah. Hanya dalam beberapa detik, wajah bunda berubah histeris. Tangan kirinya menutup mulutnya, matanya tiba-tiba berair dan bunda langsung jatuh berlutut ke lantai. Isak tangisnya begitu dalam, tak terdengar diantara kencangnya angin dan hujan yang makin deras. Pikirannya kacau balau, tak tahu harus melakukan apa. Hingga fajar menyingsing, Bunda hanya bersujud menangis diatas lantai yang dingin.
Bunda akhirnya sampai dirumah sakit. Dia masih menangis di dalam mobil. Kepalanya tersandar di depan stir mobil, tangannya gemetar dan hatinya masih tak belum siap untuk turun dari mobil dan menghadapi kenyataan yang terkadang begitu pilu. Tapi, kenyataan memang harus dihadapi dengan tegar, semanis atau sepahit apapun itu.
Bunda memberanikan diri. Ia menghapus air matanya kemudian turun dari mobil. Ia berjalan dengan tenang, atau berusaha tenang. Hingga ia masuk kedalam gedung rumah sakit. Suasana rumah sakit kala itu begitu berbeda; dingin dan sedih, suram dan kelabu. Bunda pun naik ke lantai 2, bagian gawat darurat, dan langsung menuju kamar yang telah disediakan. Dokter sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Maaf, orang tua Raksa?"
"Iya, dok."
"Kami sudah berusaha. Situasinya tak terkendali, bahkan sebelum Raksa sampai ke rumah sakit..."
"Sudah, dok." Air mata Bunda kembali menetes, "Saya mau lihat anak saya sendiri."
Dokter mengerti. Dia menuntun bunda masuk kedalam kamar. Disanalah, Raksa terbaring tak bernyawa.
Kesedihan melanda begitu hebat, hingga tangis tak lagi bersuara. Bunda memeluk tubuh Raksa yang dipenuhi luka. Tangannya membelai lembut wajah Raksa yang berlumur darah, kepalanya yang tersayat dalam, matanya yang lebam dan bibirnya yang robek memperlihatkan beberapa giginya yang masih tersisa.
Dokter memegang bahu bunda dengan perlahan.
"Ibu, kami menemukan ini di dalam mobil."
Bunda memalingkan wajahnya yang penuh air mata. Seorang suster membawa sebuah kue cokelat dengan lilin diatasnya. Kue yang bertuliskan Happy Birthday.
"Entah ini keajaiban atau apa, tapi kue ini hampir tak tersentuh walaupun mobil Raksa hancur lebur."
Tangis bunda makin menjadi-jadi.
"Ibu, kami juga menemukan ini."
Dokter memberikan sebuah kartu ucapan kepada bunda. Kartu ucapan yang tenoda dengan beberapa tetes darah. Bunda membukanya. Ia mulai membaca.
Bunda,
Maaf ya, aku telat ngucapin. Tapi, aku cuma ingin bunda senang kok.
Jadi, selamat ulang tahun yang ke-65 ya, bunda.
Di umur bunda yang ke-65, sebenarnya nggak ada lagi yang bisa Raksa ucapkan karena bunda sudah melewati hampir segala fase kehidupan.
Tapi, Raksa selalu berdoa agar bunda panjang umur, karena sebentar lagi Raksa akan menikah dan Raksa mau bunda ada untuk melihatnya.
Raksa juga ingin bunda dianugerahi kesehatan, karena Raksa ingin anak-anak Raksa melihat betapa hebatnya nenek mereka.
Dan semoga bunda masih tetap bisa berdansa disko, memasak rendang dan bernyanyi keroncong.
Karena hal-hal sederhana itulah yang mengingatkan dan membuat Raksa senang walaupun Raksa jauh dari bunda.
Ini kue ulang tahun dari Raksa. Mungkin nggak sesuai harapan bunda, tapi kita nikmati saja bersama-sama.
Dan apapun yang terjadi, ingatlah bahwa semua ibu adalah yang terbaik bagi anaknya.
Dan bunda adalah yang terbaik bagi Raksa. Ingatlah kita saling memiliki walaupun kita jauh.
Dan untuk terakhir kalinya, aku ingin bunda tahu bahwa Raksa sayang banget sama bunda.
So, selamat ulang tahun ke-65, bunda!
Hope you can have the biggest smile in your lifetime this year!
Love,
Raksa
Posting ini saya dedikasikan kepada mama saya yang baru saja berulang tahun ke-50. Maaf ya, mom, udah lupa sama hari ulang tahunnya. Semoga apapun yang mama inginkan ketika mama tiup lilin ulang tahun bisa menjadi kenyataan. Amin!
Nah, sudahkah kalian mengatakan kata sayang kepada ibu kalian?
Jangan sampai kalian telat mengatakannnya!
Mungkin bukan waktunya yang habis duluan, tapi waktu kalian yang habis duluan...





































