Malam mendatanginya dalam mimpi.
Malam yang gelisah, mengajaknya
Menunggangi rumah masa kecil.
Terbawa pula perdu, rumputan padang
pohon akasia. Juga burung dan kupu
yang bergerak selalu, mengantarnya
ke barat. Ke kampung asal.
Malam yang penuh pengertian itu
menggiring mimpinya, renta dalam duka
menjenguk masa lalu.
- Cyprianus Bitin Berek
Raksa melihat keluar jendela. Langit Jakarta pada malam itu mendung, meneteskan air hujan perlahan-lahan. Lebih dari dua puluh jam dan enam belas ribu kilometer telah dilalui Raksa untuk kembali pulang. Enam tahun. Enam tahun sejak terakhir kali ia melihat tugu monas, patung selamat datang dan banjir di depan rumah setiap musim penghujan. Enam tahun, dia sibuk mencari nafkah di The Big Apple, hingga akhirnya ia berpikir bahwa sudah saatnya untuk mengunjungi rumah.
Badan kapal udara perlahan merendah, menyusuri pinggiran pantai, bersiap mendarat di landasan tua Soekarno-Hatta. Hingga saat roda menyentuh tanah, akhirnya Raksa resmi mendarat di negerinya sendiri. Setelah keluar dari pesawat, melewati imigrasi dan mengambil bagasi, Raksa keluar dari area terminal. Dia tidak berharap untuk dijemput siapa-siapa, tapi setidaknya ada satu orang yang ingat akan kedatangannya. Wajah yang begitu familiar di matanya, walau sudah bertahun-tahun ia tak pernah melihatnya. Wajah yang kini diisi keriput kehidupan dan dihiasi rambut yang mulai memutih.
"Bunda."
"Oh, Raksa anakku."
Setelah enam tahun tidak pernah berjumpa, wajar bila seorang ibu memeluk anak laki-laki satu-satunya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di dada anaknya yang keras sambil menitikkan satu atau dua tetes air mata. Pelukan itu bertahan beberapa menit, hingga mereka sadar bahwa mereka menghalangi jalan. Raksa dan bundanya langsung berjalan menuju parkiran.
"Hujan, bun."
"Tenang. Bunda bawa payung kok."
Memang, seorang ibu harus selalu siap di depan anaknya. Ibu yang hebat adalah yang selalu bisa menjadi andalan anaknya dalam melakukan sesuatu sesederhana apapun itu, seperti mencarikan barang yang hilang, membalut luka atau minta sarapan di pagi hari.
Raksa dan bunda berjalan berdua dibawah satu payung. Sesampainya di mobil, Raksa tertegun ibunya masih memakai mobil yang sama sejak pertama kali Raksa pulang ke Indonesia. Mobil sedan abu-abu buatan Jepang yang sudah cukup tua. Dan dikemudikan oleh wanita yang juga tak kalah tua. Sejak muda, ibunda Raksa selalu menyetir sendiri. Hingga kini di usianya yang sudah lewat setengah abad pun tetap ia menolak dicarikan sopir.
Jalan keluar dari area bandara malam itu cukup sepi, mengingat sudah hampir jam 12 malam. Beberapa mobil terlihat berjalan perlahan karena licinnya jalanan pada malam itu. Radio pun hanya memainkan lagu-lagu mellow lokal yang terdengar begitu asing di telinga Raksa. Bunda sibuk memperhatikan jalan yang berkabut, sementara Raksa hanya melihat papan-papan iklan yang berjejer dari balik kaca mobil.
"Gimana kerjaanmu?"
"Ya begitulah."
Sifat Raksa yang begitu dingin dan penyendiri membuatnya tak pernah berbicara lebih dari beberapa kalimat. Kecuali bila berhubungan dengan ekonomi dan keuangan, dimana dia bisa berjam-jam menjelaskan presentasi tentang capital asset pricing model.
"Kamu mau makan apa?"
"Aku nggak laper, bun."
Bunda hanya tersenyum. Begitu rindunya dia akan kehadiran putranya disisinya. Wajahnya. Matanya. Suaranya yang begitu berat. Dan lesung pipit yang ada di pipi kirinya yang selalu terlihat ketika ia tersenyum. Tapi, Raksa jarang tersenyum. Entah kapan terakhir kali bunda melihat lesung pipitnya yang terukir manis ketika anaknya menyunggingkan sebuah senyuman. Hanya di dalam foto yang tersimpan di album yang berdebu diantara ratusan buku di rak paling ujung rumah.
Raksa hanya melihat keluar kaca. Betapa jalanan ini terlihat begitu familiar. Gedung-gedung ini. Suasana ini. Hingga tukang nasi goreng langganannya yang masih berjualan di depan komplek rumahnya. Raksa tahu betul jalanan ini yang menjadi saksi ia tumbuh dewasa. Aspal ini yang mengukir luka di lututnya ketika ia jatuh. Dan akhirnya dia melihat rumah kecil diujung jalan. Raksa turun dari mobil. Memperhatikan. Pagar hitam yang telah berkarat. Cat tembok yang terkelupas. Pintu kayu yang berderit menggesek lantai bila digerakkan. Rumah ini tempat semua mimpinya berasal.
Raksa dipaksa bosnya untuk mengambil cuti karena dia sudah bekerja terlalu lama tanpa pernah mengambil jatah liburannya. Dia menghabiskannya selama dua minggu berada di Jakarta. Kesehariannya selama di Jakarta hanya berpergian mengunjungi sahabat-sahabat lama dan beberapa saudara yang lama tak dijumpainya. Selain itu, ia selalu sibuk sendiri dan jarang sekali tinggal dirumah hanya untuk bercakap-cakap dengan ibunya. Kalaupun ia ada waktu, ia akan masuk ke kamarnya yang lama dan entah melakukan apa.
Walau merasa ditinggalkan, ibunda Raksa tetap merasa senang. Setidaknya ia ada dirumah sekarang, itu yang selalu beliau pikirkan walau anaknya hanya berdiam diri dikamar. Raksa begitu bisu, tuli, sibuk dengan dunianya sendiri. Tak pernah ia memberi perhatian kepada orang lain, bahkan kepada orang-orang terdekatnya sendiri. Kesibukannya membuat ia mudah menaiki tangga jabatan di dalam kariernya. Tapi, dia lupa akan sesuatu yang sederhana. Dan sesuatu itu terjadi tepat ketika dia berlibur ke Jakarta.
Seperti biasa, Raksa baru pulang dari seharian berkumpul dengan kawan-kawannya di bar paling elit di ibukota. Begitu masuk rumah, Raksa langsung duduk di meja makan, fokus melihat layar telepon genggamnya. Bunda yang mendengar langkahnya langsung keluar dari kamar.
"Raksa. Kamu capek?"
"Enggak, bunda."
"Mau bunda bikinin teh?"
"Nggak usah, bunda. Makasih."
Bunda hanya melihat anaknya. Pandangan Raksa bahkan tak pernah pindah dari layar telepon genggamnya. Bunda kemudian ikut duduk di meja makan.
"Raksa. Kamu inget nggak, hari ini ulang tahun bunda?"
Raksa terkejut dalam hati, tapi ia tidak memberi ekspresi apa-apa. Dengan cepat ia membuka kalender di telepon genggamnya. 22 Januari. Ini benar-benar hari ulang tahun ibunya.
"Bunda ulang tahun ke enam puluh lima lho."
Raksa tetap diam. Kali ini ia melihat kearah wajah bundanya, menyadari bahwa wanita itu memang terlihat lebih tua daripada biasanya.
"Tadinya bunda seneng banget kamu milih liburan minggu-minggu ini. Berarti kita kan bisa makan bareng waktu bunda ulang tahun. Eh, malah kamu nggak inget."
Bunda kemudian berdiri dan masuk kedalam kamar.
Keesokan malam, seperti biasa Raksa baru saja pulang dari sebuah reuni kecil-kecilan SMA. Entah kenapa dia memikirkan ucapan bundanya kemarin. Ia sadar bahwa ia begitu tidak acuh terhadap ibunya sendiri. Ibunya satu-satunya. Yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya walaupun harus lewat telepon walau sering berakhir putus-putus. Raksa ingin meminta maaf dan mengekspresikan rasa sayangnya kepada ibunya. Tapi, ia tak bisa mengatakannya secara gamblang. Hatinya terlalu dingin untuk mengatakan kata-kata itu didepan ibunya dengan mudah.
Raksa kemudian melewati sebuah toko roti. Dia memutuskan untuk mampir sebentar dan membeli sebuah kue ulang tahun untuknya. Raksa memilih sebuah kue tart cokelat sederhana dengan tulisan Happy Birthday. Ia juga membeli beberapa lilin dan sebuah kartu ucapan. Setidaknya ia menuliskan kata-kata di dalam kartu tersebut yang malu ia ucapkan secara langsung di depan ibundanya.
Air hujan turun deras menghantam atap rumah. Gemuruh petir membahana bersautan. Bunda berdiri di depan teras rumah, menggenggam telepon di tangan kanannya. Wajahnya nampak cemas. Raksa belum pulang hingga jam 2 dini hari. Bunda mencoba menelpon Raksa berkali-kali, tetapi selalu keluar nada sibuk. Bunda kemudian tersenyum kecil dan masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu.
Semoga Raksa baik-baik saja...
Beberapa menit sebelum subuh, telepon rumah berdering. Bunda terbangun dari ranjangnya dan langsung keluar kamar untuk mengangkat telepon.
"Halo...?"
Diantara suara rintik hujan yang turun, bunda mendengarkan telepon dengan seksama. Entah siapa yang berani menelpon sepagi ini. Tapi, siapapun itu, dia sudah berhasil membuat raut wajah bunda berubah. Hanya dalam beberapa detik, wajah bunda berubah histeris. Tangan kirinya menutup mulutnya, matanya tiba-tiba berair dan bunda langsung jatuh berlutut ke lantai. Isak tangisnya begitu dalam, tak terdengar diantara kencangnya angin dan hujan yang makin deras. Pikirannya kacau balau, tak tahu harus melakukan apa. Hingga fajar menyingsing, Bunda hanya bersujud menangis diatas lantai yang dingin.
Bunda akhirnya sampai dirumah sakit. Dia masih menangis di dalam mobil. Kepalanya tersandar di depan stir mobil, tangannya gemetar dan hatinya masih tak belum siap untuk turun dari mobil dan menghadapi kenyataan yang terkadang begitu pilu. Tapi, kenyataan memang harus dihadapi dengan tegar, semanis atau sepahit apapun itu.
Bunda memberanikan diri. Ia menghapus air matanya kemudian turun dari mobil. Ia berjalan dengan tenang, atau berusaha tenang. Hingga ia masuk kedalam gedung rumah sakit. Suasana rumah sakit kala itu begitu berbeda; dingin dan sedih, suram dan kelabu. Bunda pun naik ke lantai 2, bagian gawat darurat, dan langsung menuju kamar yang telah disediakan. Dokter sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Maaf, orang tua Raksa?"
"Iya, dok."
"Kami sudah berusaha. Situasinya tak terkendali, bahkan sebelum Raksa sampai ke rumah sakit..."
"Sudah, dok." Air mata Bunda kembali menetes, "Saya mau lihat anak saya sendiri."
Dokter mengerti. Dia menuntun bunda masuk kedalam kamar. Disanalah, Raksa terbaring tak bernyawa.
Kesedihan melanda begitu hebat, hingga tangis tak lagi bersuara. Bunda memeluk tubuh Raksa yang dipenuhi luka. Tangannya membelai lembut wajah Raksa yang berlumur darah, kepalanya yang tersayat dalam, matanya yang lebam dan bibirnya yang robek memperlihatkan beberapa giginya yang masih tersisa.
Dokter memegang bahu bunda dengan perlahan.
"Ibu, kami menemukan ini di dalam mobil."
Bunda memalingkan wajahnya yang penuh air mata. Seorang suster membawa sebuah kue cokelat dengan lilin diatasnya. Kue yang bertuliskan Happy Birthday.
"Entah ini keajaiban atau apa, tapi kue ini hampir tak tersentuh walaupun mobil Raksa hancur lebur."
Tangis bunda makin menjadi-jadi.
"Ibu, kami juga menemukan ini."
Dokter memberikan sebuah kartu ucapan kepada bunda. Kartu ucapan yang tenoda dengan beberapa tetes darah. Bunda membukanya. Ia mulai membaca.
Bunda,
Maaf ya, aku telat ngucapin. Tapi, aku cuma ingin bunda senang kok.
Jadi, selamat ulang tahun yang ke-65 ya, bunda.
Di umur bunda yang ke-65, sebenarnya nggak ada lagi yang bisa Raksa ucapkan karena bunda sudah melewati hampir segala fase kehidupan.
Tapi, Raksa selalu berdoa agar bunda panjang umur, karena sebentar lagi Raksa akan menikah dan Raksa mau bunda ada untuk melihatnya.
Raksa juga ingin bunda dianugerahi kesehatan, karena Raksa ingin anak-anak Raksa melihat betapa hebatnya nenek mereka.
Dan semoga bunda masih tetap bisa berdansa disko, memasak rendang dan bernyanyi keroncong.
Karena hal-hal sederhana itulah yang mengingatkan dan membuat Raksa senang walaupun Raksa jauh dari bunda.
Ini kue ulang tahun dari Raksa. Mungkin nggak sesuai harapan bunda, tapi kita nikmati saja bersama-sama.
Dan apapun yang terjadi, ingatlah bahwa semua ibu adalah yang terbaik bagi anaknya.
Dan bunda adalah yang terbaik bagi Raksa. Ingatlah kita saling memiliki walaupun kita jauh.
Dan untuk terakhir kalinya, aku ingin bunda tahu bahwa Raksa sayang banget sama bunda.
So, selamat ulang tahun ke-65, bunda!
Hope you can have the biggest smile in your lifetime this year!
Love,
Raksa
Posting ini saya dedikasikan kepada mama saya yang baru saja berulang tahun ke-50. Maaf ya, mom, udah lupa sama hari ulang tahunnya. Semoga apapun yang mama inginkan ketika mama tiup lilin ulang tahun bisa menjadi kenyataan. Amin!
Nah, sudahkah kalian mengatakan kata sayang kepada ibu kalian?
Jangan sampai kalian telat mengatakannnya!
Mungkin bukan waktunya yang habis duluan, tapi waktu kalian yang habis duluan...




