Pada Guling...



Jalanan kota tampak basah seperti halnya di hari-hari biasa di musim dingin. Semua orang berusaha untuk tetap hangat dibalik coat dan jaket mereka yang diantaranya bernilai ribuan pounds. Tiga hari sebelum natal membuat suasana London lebih hiruk pikuk daripada biasanya. Terkadang, malam-malam sebelum natal adalah saat-saat paling indah sebelum tahun berganti. Kehangatan bersama keluarga, bertukar hadiah dan tentu saja cerita-cerita dongen yang membuat mimpi setiap anak menjadi indah. Tetapi, ketika kalian hanya seorang diri di sebuah negeri yang asing ribuan kilometer dari rumah, malam-malam menjelang natal mungkin menjadi malam-malam yang sulit dilewatkan.

Dirga, seorang anak muda yang merantau dari jauh dari kampungnya dan menemukan dirinya berdiri termenung ditengah keramaian Trafalgar Square. Matanya hanya terpaku kepada sebuah pohon natal besar yang begitu indah, memancarkan sinar-sinar kebahagiaan dan kehangatan. Sebuah pohon natal yang merupakan pemberian warga kota Oslo, Norwegia, sebagai tanda terima kasih atas jasa orang-orang london di tahun 1940 sampai dengan 1945. Walaupun bukan seorang Kristiani, Dirga merasakan bahwa ada hal yang berbeda di malam natal. Dia merasa iri.

Umurnya mungkin masih belum menyentuh kepala tiga, tetapi dia sudah meraih gelar Master di bidang ekonomi dan politik dari sebuah universitas terbaik di Inggris. Ayahnya adalah bekas diplomat dan sekarang menjabat menjadi seorang menteri kepercayaan sang presiden. Dan sekarang dia bekerja di salah satu perusahaan konsultan terbaik di dunia. Dan dibalik semua itu, Dirga merupakan sosok yang banyak dicari wanita. Entah berapa banyak wanita yang menaruh perhatian padanya, tapi terkadang, pria yang terlihat paling sempurna di dunia, bisa memiliki kelainan besar yang ingin ia sembunyikan.



Seumur hidupnya hanya dua kali Dirga berhubungan dengan wanita. Dan keduanya tidak berjalan lancar. Ketiga kalinya ia mencoba, dia gagal untuk selamanya. Dia terlalu banyak memilih jika bicara soal perempuan. Dan banyak wanita yang memiliki 9 dari 10 seleranya selalu ditolak mentah-mentah. Hal inilah yang membuat Dirga memiliki kebiasaan aneh: berbicara pada gulingnya sendiri. Dalam imajinasinya, ia selau membayangkan bahwa gulingnya adalah calon istrinya kelak. Dia berbicara dengan gulingnya tetapi berbicara dengan hatinya sendiri, tertawa bersama gulingnya tetapi tertawa dengan dirinya sendiri, bertanya pada gulingnya tetapi dijawab oleh suaranya sendiri, dan pada saat-saat sebelum tidur, dia memeluk gulingnya tetapi memeluk mimpi-mimpinya sendiri.

Dan tentu saja sebagai guling, sarungnya bisa diganti ketika sudah kotor. Dan ketika Dirga mengganti sarung gulingnya, ia selalu membayangkan wanita dengan wajah yang lain, sifat yang lain dan tentu saja perlakuan yang lain. Ia bisa membayangkan siapa saja sesuai keinginannya: wanita pirang berwajah Eropa Timur dengan hati yang religius, seorang bintang pop Korea yang kecantikannya asli bukan hasil operasi plastik, atau mungkin wanita berkulit sawo matang yang hanya bertukar padang dengannya sekitar 5 tahun yang lalu.

Entah mungkin inilah yang membuat Dirga menjadi begitu segan berhubungan dengan wanita yang tidak berhak ia bayangkan sebagai gulingnya. Wanita yang terkadang begitu rupawan, tetapi begitu aneh sifatnya. Atau wanita yang bisa menahan pembicaraan selama berjam-jam dengan Dirga tetapi tidak sesuai ekspektasi visualnya. Dari ribuan wanita yang ia temukan dalam hidupnya, seakan tak ada yang bisa menyamai si guling kesayangannya.


Tapi, entah mengapa pada malam itu Dirga merasakan betapa ia hidup dalam kesendirian. Betapa ia hanya memadu asmara dengan imajinasinya. Betapa ia mencari cinta untuk disimpan oleh dirinya sendiri. Tetapi, cinta bukanlah mencari seseorang untuk memuaskan hidup sendiri. Cinta adalah kisah tentang dua individu yang mencari kebahagiaan bersama. Seperti pohon natal dan lampunya yang membahagiakan malam setiap insan.

Dan mata Dirga terpaku pada sebuah lonceng emas kecil yang jatuh lepas dari pohon natal Trafalgar Square. Lonceng itu menyentuh tanah, berdering beberapa kali dan meluncur tergelincir beberapa meter hingga berhenti tepat di depan sepasang sepatu merah. Sang pemakai sepatu merah tersebut membungkuk dan mengambil lonceng dari tanah. Sebuah tangan halus dengan jemari yang begitu panjang. Rambut hitamnya yang panjang mulai terjuntai kebawah, dan ketika ia sudah kembali berdiri lagi, Dirga hanya bisa melihat lekat kedalam mata si pemakai sepatu merah. Dia bertanya di dalam hati "inikah gulingku?"


A Little Sneak Peek of my #ProjectFaraday

Tepat di postingan ke-100 gue, gue akan memberikan sebuah hadiah bagi seluruh pembaca setia blog gue!

"Sebuah karya fiksi yang terinspirasi dari kehidupan seorang remaja Indonesia yang tinggal disebuah rumah di jalan Faraday. Setelah susah payah mencari dan menulis sebuah cerita, saya tak menyadari bahwa kehidupan saya adalah sebuah cerita."

#ProjectFaraday will (hopefully) invade your local bookstore immediately!

Here's a little writings I will put on the backpage:




Mohon doa dan restunya supaya Tuhan memberikan kemudahan akan penyelesaian #ProjectFaraday ini!

Tolong kasih komentar ya tentang apa yang ada di benak kalian soal buku ini dan apa yang kalian harapkan akan ada di buku ini!

Cheers!

Kita Sama-Sama Drop Out Kuliah Yuk!

Padang rembulan gersang
Mengirim angin ke timur
Membawa desahan musim dingin
Yang merekah awal November

Mengabarkan berita
Tentang sang serigala
Yang mulai
 kehilangan mangsa

Tentang ibu beruang
Yang melingkar
Untuk tidur
Semusim lamanya

Tentang pohon-pohon Maple
Yang sibuk
Menggugurkan daun
Yang telah menguning

Tentang dirimu
Yang duduk termenung
Menaggalkan cinta
Yang dulu mekar
Di musim semi





Well, it's that time of the year again...
Waktu-waktu dimana waktu tidur mahasiswa semakin berkurang...
Karena ujian makin dekat di mata...
Dan gebetan makin jauh dari hati...
Hiks...

Anyway, terjadi lagi nih!
Banyak deh orang-orang yang gue kenal lagi suka komplain tentang kehidupan mereka disaat-saat seperti ini...
Banyak aja sih, ga banyak banget
Banyak banget mah semut ngantri sembako di lapangan banteng
*ga lucu* *dibakar*


Iyah! Jadi kan gue lagi bareng grup belajar gue.
Cieileh... Grup belajar!
Gue tau lo semua heran, anak calon bajak laut kaya gue sok-sok belajar!
Ini demi masa depan bangsa gue! Bangsa Somalia yang merdeka dan sejahtera!

Anyway, jadi gue lagi belajar gitu sama grup belajar gue di perpustakaan.
Suatu ketika, temen gue ada yang pesimis banget ga bakal lulus tes mikroekonomi.
Dari situlah obrolan kita menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh...
#apadeh

Terus, satu temen gue ikutan nimbrung.
Katanya dia sebenernya gamau kuliah. Dia ke Melbourne cuma pengen cepet-cepet dapet suami abis itu nikah. Done. Selesai semua urusan dunia akhirat.

Satu lagi temen gue anak Palembang mengeluh betapa susahnya pelajaran yang dia ambil.
Kata dia, mendingan dia balik ke Palembang jualan pempek di pinggir jalan.
Eits... Jangan salah! Itu yang jualan pempek pinggir jalan kaya lho!
Terus tiap tahun jalan keluar negeri gitu!


Dan kemudian, beberapa saat yang lalu gue juga mulai gundah galau gulana.
Tepat ketika gue lagi mempelajari Model Solow-Swan mengenai pertumbuhan ekonomi eksogen atau neoclassical (Kesel banget gue sama orang yang sok susah gitu ngasih nama teori!?)
Das!!!! Gue ga ngerti apa-apa...
Gue coba pelototin PowerPoint slide dosen gue selama 10 menit.... Tetep gabisa
Gue coba istirahat 15 menit main PlayStation abis itu baca lagi... Tetep gabisa
Gue mulai ritual kayang ala babirusa gue dan baca dengan kepala terbalik... Tetep gabisa
Dan akhirnya, gue coba sholat Isya terlebih dahulu sebelum belajar lagi....... Alhamdulillah, Allah memberikan firman kepada gue untuk stop belajar pada malam hari ini

Itulah saatnya gue mulai refleksi kehidupan gue lagi...
Kenapa sih gue dan teman-teman gue kesel banget dengan yang namanya kuliah?
Padahal kita juga udah terlanjur masuk gitu lho...

Dan setelah gue pikir-pikir, inilah yang terjadi dengan kebanyakan remaja jaman sekarang.
Percaya atau tidak, disadari atau engga, walaupun cuma sekali, pasti kalian pernah merasa menyesal udah mengambil jalan hidup kalian yang sekarang ini
Bukan cuma kalian yang mahasiswa, kalian yang masuk Sekolah Tinggi, Akademi, kalian yang ikut pelatihan atau semacamnya
Percaya deh, temen gue yang di Akademi Kepolisian aja pernah curhat kalo dia juga gamau di Akademi Kepolisian!
Ada semacam fenomena dimana kita selalu berkata pada diri kita sendiri "I didn't sign up for this shit!"


Jangan salah kapra lho, gue juga cukup bangga kepada kalian yang ga pernah merasakannya dan berfikir bahwa tempat kalian berada saat ini adalah tempat terbaik yang bisa kalian dapatkan.

Tapi, beberapa dari kita tidak seberuntung kalian lho!
Entah mungkin diantara kita dipaksa oleh orang tua untuk masuk sebuah bidang khusus
Mungkin ada yang merasa salah pilih jurusan
Atau mungkin ada yang merasa pendidikan tinggi itu cuma semacam formalitas untuk 'survive' di abad ini

Sebenernya, gue pengen ngomongin soal sistem kapitalisme dunia ini
Tapi, gue tahu gue ga sepinter itu untuk membahas kapitalisme
Dan otak kalian mungkin juga ga akan nyampe kalo gue ngomongin kapitalisme
*dirajam*

Anyway, gue yakin banyak diantara kita yang memiliki keahlian khusus selain yang mereka ajarkan di pendidikan tinggi.
Mungkin dari kalian ada yang jago menggambar
Ada yang jago melukis
Ada yang jago main gitar
Ada yang jago main teater
Ada yang jago bikin film
Ada yang paling jago main bola sekampung
Ada yang paling jago main Beyblade sekomplek
Ada yang jago bikin pantun buat nikahan betawi
Ada yang jago santet kanuraga Wonogiri
Ada yang jago push up dua jari sambil main saxophone dalem kolam renang

Gue aja deh contohnya...
Selain jago ngambil remote TV dari meja pake kaki, gue juga (merasa) jago menulis dan berkreasi!
Buktinya gue ngejalanin dua blog dan lagi bikin tiga buah novel
Which ketiga-tiganya belom ada yang jadi.................

Tapi, ya kembali lagi ke kapitalisme
Mohon maaf banget nih bagi yang ga ngerti

Di dunia yang seperti ini, terkadang talenta kita itu sering ga dihargai
Bukan nggak dihargai sih lebih tepatnya
Tapi, tidak ada tempatnya
Mana ada seorang penulis bisa lebih kaya daripada seorang businessman
Mana ada seorang tukang santet lebih kaya daripada tukang ngebor minyak




Gue yakin pasti banyak deh dari kalian yang mikir untuk drop out atau keluar dari institusi kalian sekarang ini!
Gue yakin banyak dari kalian yang nggak ngerti lagi apa yang harus kalian lakukan dengan hidup kalian di masa depan!
Don't worry! It's all normal!
Gue juga pernah gitu kok! Tapi, setelah gue curhat dengan guling kesayangan gue, gue merasa baikan dan termotivasi lho! (Jangan ditiru!)

Apapun yang kalian pikirkan! Please, jangan drop out!
Ingat! Sejelek apapun nilai kalian, masih ada yang lebih jelek! #motivasimahasiswa
Kuliah adalah salah satu hal yang paling krusial dalam hidup kalian!

Kalian boleh benci sistem berjalannya dunia ini, tapi kalian nggak bisa mengubahnya!
Setidaknya kalo kalian lulus, walaupun susah payah, hasilnya berimbang dengan usaha kalian!
Kalian dapet sebuah gelar dan setidaknya hidup kalian terjamin dengan sertifikasi kalian!
Kalo in the end kalian tetep mau jadi tukang santet terus gagal...
Setidaknya masih bisa kerja jadi kasir Indomaret!

Think of it as a karma! Dengan susah payah kuliah, pasti Tuhan akan membalas segalah jerih payah kalian dengan sebuah imbalan yang setimpal.
Kalian nggak akan tahu masa depan kalian bagaimana, setidaknya kalian masih merasa aman dengan hal-hal yang kalian lakukan di masa lalu

Dan selalu tanamkan dalam diri kalian bahwa segala effort yang telah kalian lakukan selama ini bakal ilang begitu aja! Semua uang, waktu dan upaya kalian buang begitu saja! Cuma buat memuaskan batin kalian yang egois? Belum tentu dengan drop out, kalian bisa hidup sesuka hati lho...


Kalo misal pada akhirnya kalian tidak terselamatkan, please coba kuliah lagi sesuai dengan passion kalian.
Mungkin dunia kalian akan lebih baik!

Gue juga nggak bisa bilang kalo drop out itu sepenuhnya jelek
Nggak semua orang cocok dengan kehidupan pendidikan tinggi kok!
Tapi, kalo akhirnya kalian jadi drop out, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk menghancurkan hidup kalian sendiri.
Terkadang kita memang perlu berhenti sejenak, travel to a lot of places, melihat dunia, introspeksi lagi bagian mana dari diri kita yang salah, dan melakukan sesuatu yang kita suka


Hidup itu emang nggak selamanya enak, terkadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk mencapai sesuatu. Ada keseimbangan. Yin dan Yang.
Kalo nggak usaha, duit nanti darimana? Kalo nggak ada duit, cinta nanti darimana? Kalo nggak ada cinta, bahagia nanti darimana? Kalo nggak ada bahagia, hidup nanti darimana?

Inget ini ya!
Kata temen kamar gue waktu di SMA:
Hidup itu seperti roda; kadang diatas, kadang dibawah.
Tapi, bentuk rodanya berbeda-beda tergantung orangnya masing-masing
Ada yang bentuknya lingkaran, segitiga, bahkan ada yang jajar genjang