Baru minggu kemarin di Melbourne, ada event Dreamworks Animation: The Exhibition di Australian Centre for the Moving Image (ACMI). Acaranya sih lebih di targetkan buat anak-anak kecil yang ingin tahu bagaimana cara pembuatan dunia fantasi seperti 'Shrek' dan 'How to Train Your Dragon'.
Singkat cerita, karena hendak menemui seseorang, gue pun berkunjung ke ACMI seorang diri. Di dalam, sembari gue menunggu orang tersebut, gue pun duduk di depan ACMI store yang menjual segala pernak-pernik yang berhubungan dengan layar perak.
Ketika gue duduk seorang diri, ada seorang bapak muda dengan anak laki-lakinya yang baru saja keluar dari toko tersebut. Bapak muda itu kemudian duduk agak jauh di samping gue. Setelah gue perhatikan, dia ternyata baru saja membelikan sebuah kostum naga dari 'How to Train Your Dragon' untuk anaknya. Bapak muda itu kemudian membantu anaknya memakai kostum naganya yang lengkap dengan sayap dan ekor.
Setelah terpasang dengan sempurna, anak itu mengepakkan sayap naganya dengan cara menggerakkan tangannya yang terikat erat ke sayap palsu tersebut. Sambil tersenyum, ayahnya kemudian menggendong anaknya dan mengangkatnya setinggi-tingginya. Ayahnya kemudian berlari menuju pintu keluar sambil tetap mengangkat anaknya yang berimajinasi menjadi seekor naga sambil terus mengepakkan sayap palsunya. Dan dari kejauhan, sayup-sayup terdengar teriakan "Daddy, I'm flying! I'm flying."
Setelah kejadian itu, muncul pertanyaan di benak gue: Apakah nanti gue bakal punya anak?
Dan bila gue punya, apakah gue bisa menjadi ayah yang baik?
Seiring kita tumbuh dewasa, kita harusnya menyadari bahwa akhirnya kita akan dihadapkan dengan masalah-masalah baru seperti mencari pasangan hidup dan menikah. Tapi, seiring kita tumbuh dewasa, kita juga menyadari bahwa hidup itu sulit, semakin sulit, jauh lebih sulit daripada yang pernah kita bayangkan ketika dulu kita kecil dan tak sabar ingin segera dewasa.
Pernahkah kita menyadari betapa sulitnya kehidupan ayah kita? Beliau bukan orang yang paling spesial. Beliau pasti orang yang biasa saja. Tapi, lihat kehidupan kalian yang sekarang. Kalian adalah sebuah produk yang dihasilkan oleh jerih payah orang tua kalian. Lihat posisi kalian berdiri sekarang, sekolah kalian, uang jajan kalian. Kalian menjadi seseorang yang seperti ini sebagian besar karena jerih payah ayah kalian.
Nah, coba tanyakan pada diri kalian sendiri, apakah kalian bisa menjadi orang tua yang lebih baik dari ayah kalian? Atau setidaknya sama dengan apa yang ayah kalian pernah lakukan?
Membesarkan anak itu nggak gampang. It doesn't come with a manual. Semua yang ayah kalian lakukan adalah trial and error. Kalian mungkin mengira kalian bisa menjadi orang tua yang baik, tapi di jaman yang berbeda, perilaku anak kalian akan berbeda juga. Kenakalan mereka akan berbeda dari kenakalan kita, maka kita akan selalu sulit dalam menuntun mereka.
Di satu sisi, kalian akan semangat ketika menyambut sang buah hati. Di sisi lain, kalian bisa ingin bunuh diri karena diganggu oleh tangisan bayi setiap malam. Kalian harus rela memberikan hal terakhir yang kalian miliki untuk anak kalian, karena kalian tak mau melihat mereka tidak bahagia.
Kadang kalian akan merasa jenuh dan ingin menyerah karena segala yang kalian lakukan tidak sesuai dengan ekspektasi kalian, tapi kalian akan sadar bahwa ini kewajiban kalian.
Dan ketika kalian beranjak tua, anak kalian akan lepas dari sisi kalian, mungkin untuk selamanya. Kalian akan merasa rindu, rindu ingin menggendong mereka lagi, menyesal harus melihat anak kalian tumbuh dewasa begitu cepat dan kalian tak dapat memeluk mereka sekali lagi.
Dan ketika kalian rindu, anak kalian mungkin terlalu sibuk untuk bisa balas sms, tak akan sering menelpon kerumah, tak bisa pulang ke pelukan kalian seperti dulu lagi. Akankah kalian sedih?
Itulah yang mereka rasakan.
Jadi, pertanyaan yang seharusnya kalian tanyakan bukanlah: mau nikah umur berapa? Karena pertanyaan itu hanya akan menjebak kalian untuk segera mencari pasangan hidup secepatnya, lalu buru-buru menikah karena takut diejekin orang-orang kalo nikah ketuaan.
Menikahlah ketika kalian sudah siap menjalaninya. Menikahlah ketika kalian juga sudah rela untuk mengorbankan beberapa jam dari 24 jam sehari kalian hidup untuk pasangan kalian dan anak-anak kalian.
Karena bila kalian belum siap, anak kalian adalah taruhannya.
Dan yang terakhir, sanggupkah kalian menjadi orang tua yang lebih baik dari ayah kalian?
Posting ini saya persembahkan untuk papa saya yang berulang tahun kemarin. Selamat ulang tahun ya, pa. Tetaplah menjadi bintang yang bisa menyinari jalan bagi anak-anakmu dan sesama manusia lainnya. Maaf, kalo aku cuma bisa sms. Karena kadang kata lebih mudah ditulis daripada diucap.
Dari sudut pandang mana seseorang bs dikatakan pintar/bodoh dalam kehidupan?
Ada dua tipe manusia di dunia ini:
Yang pertama adalah mereka yang menerima jalan dan tujuan hidup mereka dari orang lain, seperti kemauan orang tua, dogma dari agama, tekanan dari lingkungan dan ekspektasi masyarakat, tanpa pernah mempertanyakan hal tersebut.
Yang kedua adalah mereka yang menetapkan sendiri jalan dan tujuan hidup mereka setelah melewati proses pencarian jati diri yang panjang dan melelahkan. Dengan yakin dan penuh percaya diri, mereka yakin bahwa jalan yang mereka pilih adalah yang terbaik untuk mereka.
Orang yang pintar dalam kehidupan adalah orang yang kedua.
Mungkin kata yang tepat bukanlah pintar, tetapi cerdas. Nah, kecerdasan ini tidak bisa di dapat melalui edukasi formal, tetapi melalui lingkungan dan kemampuan seseorang untuk senantiasa belajar dari hal-hal kecil setiap hari, dan mau berubah.
Kecerdasan yang gue maksud, atau yang kalian maksud dengan 'pintar dalam kehidupan', mungkin lebih tertuju kepada seseorang yang memiliki lebih banyak pengalaman dan wawasan yang lebih luas. Orang-orang yang cerdas pernah melewati banyak fenomena besar yang berdampak pada dirinya. Kehidupan mereka memiliki catatan sejarah yang lebih menarik daripada orang-orang lain pada umumnya. Karena itulah, mereka memiliki lebih banyak hal yang bisa dipelajari dan membuat mereka lebih bijak di masa yang akan datang.
Dan, karena ada banyak hal yang sudah mereka lewati, mereka jadi tahu mana yang benar dan mana yang salah bagi diri mereka. Mana yang cocok, mana yang tidak cocok. Mereka tidak menerima jalan hidup mereka dari orang lain, mereka memilih sendiri jalan hidup mereka. Kenapa? Karena mereka mengerti bahwa itulah jalan hidup yang cocok untuk mereka.
Gue nggak bisa bilang orang yang cerdas itu pasti sukses atau bahagia, karena banyak orang yang memperoleh kecerdasannya di usia yang tak lagi muda. Makanya, banyak orang tua yang menyesal dengan masa muda mereka.
Dan sebenarnya, tak ada orang yang bodoh dalam kehidupan. Karena menurut gue, beberapa itu bukannya bodoh atau tolol atau tak berpendidikan. Mereka hanya tidak menyadari bahwa sesuatu yang mereka lakukan itu bisa berdampak buruk bagi diri mereka atau orang lain (e.g. Kardashian Family). Pengalaman dan wawasan mereka belum cukup untuk membuat mereka menjadi seseorang yang cerdas.
Lalu, bagaimana caranya biar gue bisa cerdas? Baca buku, seperti yang guru kalian ajarkan waktu SD. Buku itu jendela dunia. Talk to someone. Bukan hanya sekedar bergossip, tapi juga untuk berdiskusi, berargumen dan bertukar pikiran. Pertanyakan segala hal. Lo nggak akan pernah tahu sesuatu itu benar atau salah hingga nggak ada lagi yang bisa lo pertanyakan dan lo yakin dengan segala jawabannya. Keep the faith. Setelah lo berhasil mempertanyakan segalanya, tentukan jalan hidup lo sendiri! And lastly, DON'T. WATCH. SHITTY. MOVIES.
Mohon maaf bila gue telat posting ini, karena pemilu calon legislatif udah lewat dari kemaren. But anyway, mungkin aja dengan posting ini, gue bisa memberi pencerahan kepada kalian semua yang masih apatis atau tidak tahu menahu soal partai-partai politik di Indonesia. Dan mungkin gue bisa mengubah pandangan kalian tentang partai mana yang akan kalian pilih pada pemilu-pemilu yang akan datang.
Kalian pernah nggak sih ngeliat kalo diluar negeri ada partai demokrat, partai republik, partai sayap kanan, partai sayap kiri, partai sayap siapa gangerti lagi, partai sayap-sayap yang rapuh karena cinta. Ada juga yang mengusung tema sosialis, liberal, bahkan di sejarah kita ada yang namanya Partai Komunis Indonesia. Lantas, kok sekarang nggak ada lagi partai yang menjelaskan landasan ideologi mereka masing-masing? Ya mungkin karena kita dibatasi oleh yang namanya ideologi Pancasila, yang sebenarnya kalo kita telaah lebih dalam itu dilandasi oleh semangat Sosialis (Sila 5), Demokratis (Sila 4) dan Agamis (Sila 1).
Nah, dengan kedok itulah, semua partai seolah menyajikan tatanan pemerintahan yang sama saja. Tapi, setelah gue lihat visi misi, kampanye dan hasil kerja mereka, gue mencoba menerka-nerka perbedaan fundamental mereka. Dan inilah hasilnya:
1. Partai Golongan Karya
Pada dasarnya, Golkar adalah salah satu partai paling tua yang dapat bertahan hingga sekarang. Dan karena umurnya yang sudah uzur, Golkar itu merupakan salah satu contoh partai Konservatif. Seperti partai Republican di Amerika Serikat, Golkar itu kaya akan tradisi, dan visi misi-nya selalu mempertahankan idealisme dan institusi tradisional seperti kooperasi, UMKM, bahkan berbicara soal reformasi birokrasi yang dari jaman bokap gue main gundu, sering dijanjikan sama birokrat-birokrat di Senayan.
Golkar memfokuskan dirinya sebagai partai yang mengedepankan kemajuan ekonomi. Dan gue yakin calon presiden yang sekarang pasti punya kaliber yang cukup besar di bagian tersebut. Sistem ekonomi yang dimiliki golkar itu mirip-mirip sistem ekonomi Sosialis yang mengedepankan negara sebagai penggerak, pengatur dan pengontrol kegiatan ekonomi di Indonesia. Tapi, sepertinya sosialisnya bukan sosialis murni, melainkan hanya untuk beberapa bagian dari ekonomi. Cocok aja sih buat jadi partai Sayap Kanan yang konservatif dan seakan mempromosikan hirarki sosial, tapi nggak cocok banget. So, anda businessman atau entrepreneur? Berasal dari keluarga menengah keatas? Mungkin golkar pilihan yang cukup bagus buat anda!
2. Partai Demokrasi Indonesia - Perjuangan
Ah, si banteng merah. Salah satu contoh partai yang selalu jadi oposisi di era masa berjayanya SBY. Menekankan semangat Nasionalis-Demokratis dan salah satu partai Sayap Kiri yang menjunjung tinggi persamaan hak, keadilan dan kemajuan dengan cara yang cukup idealis! Coba lihat aja gambarnya: Banteng, men! Melambangkan kekuatan, ambisi dan ketegaran. Dan satu yang lo perlu tahu dari seekor banteng: kalo marah, dia bakal nabrak apapun yang ada dihadapannya!
Gue agak kecewa karena gue nggak bisa nemu website resminya (atau emang gue di-block sama intelijen Australia), jadi gue nggak bisa berbicara banyak soal visi dan misi partai ini. Tapi, yaaa meneruskan semangat Sukarno dulu (beberapa poster caleg dari PDI-P meletakkan figur Bung Karno, padahal PDI-P bukan partainya dia) yang sekarang ada di darah putrinya tercinta, PDI-P agak terpengaruh dengan bau-bau sosialis, komunis, marxist cuma kurang kental aja. Yang pasti mereka nasionalis sejati dan sepertinya, to a certain extent, agak egaliter. Jadi banyak kebijakan mereka yang diambil untuk menguntungkan seluruh rakyat, bukan untuk beberapa kaum saja. Anda peduli perubahan? Mungkin PDI-P adalah partai yang bagus untuk anda!
3. Partai Demokrat
Pada teorinya, Partai Demokrat ini mengedepankan unsur Nasionalis-Demokratis, tapi gue agak susah melihat landasan teori fundamentalnya. Pertama, karena sampai sekarang gue agak kurang mengerti pola pikir, fokus serta visi misi Partai Demokrat. Kedua, karena pemilihan capres yang sekarang itu sangat random: banyak dan dari berbagai macam instansi pemerintahan. Dan ketiga, liat lagi simbol partai-nya deh. Semacam tiga bintang yang berwarna merah putih, obviously menunjukkan Indonesia, tapi kenapa harus ada tiga poin? Seems familiar to you?
Dalam prakteknya, gue menganggap, dari 10 tahun mereka berkuasa, Partai Demokrat itu lebih condong ke sisi Liberal dan Sayap Kanan to the max. Gue bisa melihat, dalam 10 tahun terakhir, Indonesia itu berubah jadi negara ekonomi yang sangat besar, tapi di sisi lain, jarak antar yang kaya dengan yang miskin makin lebar. Kenapa? Karena Kapitalisme. Keadaan Indonesia ketika Partai Demokrat berkuasa itu sangat bebas dan gampang, asal kalian punya duit. Lalu, mereka juga mengedepankan Internasionalisme yang lebih condong ke negara-negara barat yang demokratis. Lihat aja keakraban Pak Beye dengan Pak Obama yang juga dari sayap kanan. Ohya, mereka juga mengedepankan kehidupan atas yang begitu nikmat. Ibu negara yang rajin posting di Instagram, anyone? Jadi, bila anda senang dengan kehidupan anda yang sekarang, pilihlah Partai Demokrat. Tapi, tergantung capresnya siapa yah nanti!
4. Partai Gerakan Indonesia Raya
Sebagai partai Sosialis garis keras, Partai Gerindra mengedepankan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat. Titik utama mereka adalah memajukan kaum proletar, kaum buruh, kaum tani dan seluruh rakyat menengah kebawah agar setidaknya kelas-kelas kekayaan itu bisa terbagi secara rata. Sebuah ciri partai Sayap Kiri yang cukup radikal, bahkan berbau Militerisme (banyak alumni SMA gue, yang notabene semi-militer, masuk kesana) dan mungkin akan sedikit Totalitarian. Btw, udah lihat kampanye akbar-nya yang di Gelora Bung Karno? Spoiler alert: Ada figur seorang pemimpin diatas sebuah kuda!
Di satu sisi, gue percaya perubahan memang harus dilakukan terhadap bangsa Indonesia. Salah satunya dengan ketegasan dan aturan yang ketat, serta idealisme yang membara. Tapi, sudah siapkah kita dengan tatanan negara yang baru? Ingat Pak Harto, saudara-saudara? Anyway, Gerindra bisa dibilang punya ide akan perubahan yang lebih ambisius dari partai-partai yang lain. Dengan lantang mereka memberi judul proposal politik mereka dengan nama "Manifesto Perjuangan Partai Gerakan Indonesia Raya" (klik disini).
Btw, mereka juga Agamis lho, dan salah satu koalisi mereka bisa sangat mungkin adalah salah satu partai Islam di Indonesia. Jadi, bila anda tidak puas dengan pemerintahan yang sekarang dan menginginkan perubahan secepat mungkin, mungkin Gerindra bisa mewujudkan keinginan anda.
5. Partai Kebangkitan Bangsa
Partai Kebangkitan Bangsa adalah salah satu partai Islam yang ramah lingkungan. Kenapa gue bilang ramah lingkungan? Karena kebanyakan partisipan PKB adalah pemeluk Islam yang masih dalam standar Islam Moderat, contohnya: Ahmad Dhani. Menyusung ideologi Agamis-Konservatif, PKB memiliki visi dan misi (yang juga dinamakan sebagai Mabda Syiasi) untuk menaungi negara dengan nilai-nilai Islam, contohnya: mengutamakan nilai-nilai kejujuran, tolong menolong dan mengutamakan kesejahteraan baik lahir maupun batin.
Walaupun bertema agamis, PKB nggak memaksakan Islam untuk menjadi dasar peraturan dan undang-undang, tapi lebih kearah kehidupan yang harmonis secara sosial maupun individu. Kalo dari segi ekonomi dan perubahan, gue nggak bisa melihat adanya janji konkrit dari partai ini, karena memang partai ini sangat berbau agama. Apapun yang penting halal sepertinya boleh dilakukan bila partai ini berkuasa. Jadi, anda pemeluk agama Islam, atau agama dan kepercayaan lain (atau mungkin anda seorang hippie) yang mencari ketentraman dan ketenangan antar sesama manusia? PKB menawarkan hal yang sempurna untuk anda!
6. Partai Amanat Nasional
Dengan azas "Ahlak Politik Berlandaskan Agama yang Membawa Rahmat bagi Sekalian Alam", PAN adalah satu lagi contoh partai yang mengedepankan sisi Agamis. Tetapi, PAN itu lebih kearah Agamis-Nasionalis. PAN memiliki dasar agama, Islam lebih khususnya, yang cukup kuat, tapi tak sekuat partai-partai Islam yang lainnya. Bedanya, PAN tidak melulu mendalami soal agama, tapi lebih kearah kegiatan-kegiatan yang pro rakyat.
Nggak ada yang bisa gue katakan lebih banyak soal PAN selain fokus kampanye-nya yang mengutamakan kampanye bersih, putih, jujur dan transparan. Kedepannya, melalui sosok Hatta Rajasa, PAN mengedepankan pembangunan ekonomi koridor, yaitu lebih memfokuskan pembangunan yang merata di seluruh Indonesia. Gue bisa bilang bahwa fokus caleg-caleg PAN itu lebih kearah hal-hal yang kecil dan mendetail, daripada kemajuan seluruh rakyat Indonesia. Jadi, bila anda merasa diabaikan dan butuh seseorang yang baik dan care untuk diri anda, PAN mungkin bisa menjangkau tangan anda dan membantu apapun kesulitan anda!
7. Partai Persatuan Pembangunan
Lihat lambangnya baik-baik. Itu adalah Ka'abah, dan background warna hijau adalah warna kesukaan Nabi Muhammad SAW. Simbol yang mereka pilih sesuai dengan tema politik mereka: Agamis-Sosialis. Berbeda dengan partai-partai Islam lainnya yang hanya ingin menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara, PPP ingin membuat negara pada keseluruhan untuk berlandaskan Islam. Salah satu misinya berbunyi: "PPP berkhidmat untuk berjuang dalam mewujudkan dan membina manusia dan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT". Hmm...
Sangat Egalitarian dan Nasionalis. Dengan gamblang menolak komunisme/marxisme/leninisme serta sekularisme. PPP juga bergandengan tangan dengan Gerindra untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang menyusung keadilan dan kesejahteraan rakyat. Nah, bila anda pemeluk Islam sejati yang menginginkan perubahan yang drastis, PPP memiliki segalanya untuk anda!
8. Partai Nasional Demokrat
Sesuai dengan namanya: Nasionalis-Demokratis. Sangat peduli dengan apapun yang berbau kebangsaan dan kemajuan negara. Apalagi dengan salah satu misinya yang dinamakan "Restorasi Indonesia" yang pada dasarnya ingin mengembalikan Indonesia kepada cita-cita Proklamasi 1945. Wah, kalau begitu caranya, Nasionalis yang disebut disini agak berbau Sosialis dong?
Emang kalo ditelusuri lebih jauh, Partai NasDem memiliki keinginan untuk memenuhi setiap kebutuhan rakyat, demokrasi berbasis rakyat yang kuat, dan kembali lagi ke cita-cita awal Pancasila, yang sudah gue bilang cenderung kearah Sosialis-Demokratis. Idealisme mereka juga begitu tinggi, hampir menyamai idealisme partai-partai besar lainnya. Nah, kalau kalian adalah hipster yang nasionalis: menuntut perubahan tapi nggak mau memilih partai mainstream, NasDem pasti cocok dengan pilihan anda!
Sekian dulu guys, postingan kali ini. Mohon maaf gue hanya membicarakan partai-partai yang ada di peringkat menengah keatas saja, karena gue yakin kedepannya, jumlah partai akan makin sedikit, dan mereka inilah yang hampir pasti menjadi sisa-sisanya. Jadi, gue memilih untuk membicarakan mereka saja, daripada membicarakan yang lain yang lama-lama memudar.
Anyway, itulah partai politik menurut seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri orang! Kita berharap saja, siapapun pemenangnya, minumnya Teh Botol Sosro! Cheers!
Disclaimer: Gue berusaha sebaik mungkin untuk tetap netral dan tidak memihak posisi politik manapun. Posisi gue yang berada di luar area demokratik Indonesia kurang lebih memberikan posisi yang netral bagi gue. Kalo merasa ada yang salah atau mau menambahkan, silahkan komen dan gue akan senang hati membacanya. Cheers!





.gif)






