Quote of the Day #3

Gimana hidup?
Pertanyaan filosofis fundamental yang paling sering kita lempar ke orang lain. Berbeda dengan "Apa kabar?" yang biasanya menanyakan kesehatan kita. "Gimana hidup?" bermaksud untuk menanyakan apa yang terjadi di dalam kehidupan lo. Mulai dari keluarga, cinta, sekolah, kerja, ataupun hal lain yang bersangkutan dengan diri lo. Seringkali kalo ditanyain, kita akan bingung menjawab dan biasanya kita akan bergumam "Yaahhh..." Baru diikuti dengan jawaban-jawaban klise seperti "begitulah", "kadang diatas, kadang dibawah", atau "lagi sibuk aja sih." Jawaban-jawaban ini biasanya hanya bermaksud agar orang lain tak tahu masalah kita, padahal kadang kita butuh seseorang dimana kita bisa menceritakan masalah-masalah kita.

Morally Wrong or Morally Permissible?
Akhir-akhir ini gue masuk kelas psikologi dan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti:
1. Bila ada seorang pria yang membeli sepotong ayam mentah utuh, dan sebelum memasaknya, dia gunakan untuk masturbasi terlebih dahulu, apakah perilakunya benar atau salah secara moral?
2. Bila seorang anak berjanji untuk mengunjungi makam ibunya sekali seminggu, lalu beberapa bulan kemudian ia tak bisa menepati janjinya karena dia sibuk, apakah perilakunya benar atau salah secara moral?
3. Bila ada anak perempuan yang ingin main ayunan, tapi ada seorang anak lelaki yang sedang duduk diatasnya, lalu kemudian si anak perempuan mendorong anak lelaki itu hingga jatuh dan merebut ayunannya, apakah perilaku si anak perempuan benar atau salah secara moral?

Orang Indonesia terlucu di Melbourne
Bukannya mau sombong, tapi ini gelar yang gue sabet sebulan lalu dalam acara Pandawa - Pandangan Merdeka Dalam Tawa. Dimana pelawak & rapper kondang Panji Pragiwaksono mengadakan tur ke beberapa kota di dunia, seperti Melbourne, dan mengadakan stand up comedy competition di tiap daerah. Alhasil, berkat khasiat ekstrak kulit landak yang gue minum sebelum performance, gue akhirnya menang juara 1 di kompetisi ini. Dan dengan gelar yang gue pegang sekarang, gue memiliki hak veto untuk menilai tingkat kelucuan seseorang kalo mau ngelucu di depan gue.

Baca artikel lengkapnya disini dan tunggu video YouTube-nya bertebaran sebentar lagi!

Sumitro dan Rojali
Sumitro adalah singkatan dari Suka Minta Rokok. Adalah tipe-tipe temen lo yang sering banget minta rokok ke orang lain, termasuk diri lo. Kenapa mereka suka minta rokok? Karena mereka Rojali (Rokok Jarang Beli). Tipe-tipe manusia bokek tapi masih pengen have fun. Tipe-tipe orang yang kita katain asbak karena dia akan menghisap rokok merek apapun dengan rasa apapun. Gue curiga kalo lo kasih dia batang singkong terus dibakar kayaknya tetep aja mau. Biasalah orang kecanduan, bibirnya suka kenyot-kenyot sikat wc kalo nggak bisa ngemut batang. Batang rokok maksudnya.




Terlalu Dini...

"You're pretty much everything that I've ever wanted. We have so much in common. You say the things I wanna say, you hear the music I wanna hear, and you are the one I've been looking for. But we met too early. If we are destined to meet five years from now, we would've been together..."




Di umur kita yang mungkin ada di akhir belasan tahun atau awal 20-an, kadang kita sudah menemukan seseorang yang benar-benar pas untuk menjadi bagian dalam hidup kita. Dia itu nyambung banget kalo kita ajak ngomong mengenai berbagai hal. Pola pikirnya kurang lebih sama dengan kita, bahkan kadang kita saling melengkapi ide-ide satu sama lain. 

Dia mendengarkan musik yang sama dengan yang kita dengar. Ketika diajak nonton, dia menyukai film yang masuk dalam kategori favorit kita. Kalo diajak travelling, dia nggak ribet dan mau ikut kemana-mana, bahkan ngajak kita ke tempat bagus yang belum pernah kita kunjungi. Kalo diajak makan di tempat manapun, dia jarang bilang "terserah". Dan kalopun bilang, biasanya dia juga nggak rewel kalo diajak kemana-mana dan nggak cuma diem doang di jalan. 

Physically, dia juga nggak memalukan kalo kita kenalin ke temen dan kita bawa pulang ke hadapan nyokap. Presentable-lah istilahnya. Dan bahkan kadang orang-orang agak cemburu ketika kita mendapatkan dirinya.


Tapi, ada kalanya kita merasa bahwa pertemuan kita terlalu cepat...

Face it, ada beberapa dari kita yang menganggap bahwa having a relationship di umur-umur segini itu agak tanggung. Jarang ada yang pernah muluk-muluk dan berkata bahwa mereka akan berpacaran lama hingga menikah, bahkan beberapa ada yang tak pernah berpikir hingga sejauh itu. Ada banyak hal yang perlu di masukkan dalam pikiran seperti menyelesaikan kuliah, dapet kerja, mencari kemapanan dan puas-puasin hidup lajang.

Tapi, ketika lo menemukan seseorang yang begitu perfect. Who listens to you. Who shares the same passion with you. Who are equal to you. And who can complete you. Kadang kita juga merasa kita harus mempertahankan hubungan ini.

Dilema sih memang. Banyak yang berpikir bahwa hubungan ini lebih baik dijalanin aja, then we'll see what happens from there, walaupun ada risk bahwa lo akan putus hubungan dan kehilangan seseorang yang terbaik yang pernah lo temukan selama lo hidup. Dan ketika lo mencari penggantinya, akan sulit untuk menemukan yang lebih atau bahkan hanya setara dengan dirinya, dimana lo sendiri akan selalu membanding-bandingkan pasangan-pasangan lo yang baru dengan si perfect ini.

Di satu sisi, lo ingin tetap menjaga hubungan lo dengan dia. Dan kemudian suatu hari nanti, bila saatnya tepat, lo akan menyatakan perasaan lo kepadanya, because you think that she's the one and you don't want to lose her. But she's not your property. Akan selalu ada kesempatan untuk orang lain mengambil hatinya. Dan jika lo biarkan dia terlalu lama, belum tentu dia akan tetap menjadi orang yang sama. Dan belum tentu juga perasaan lo akan sama beberapa tahun kemudian.




Susah sih memang. Tapi, mungkin buat gue, lebih baik hubungan ini dijalanin aja. Kita nggak akan pernah tahu masa depan akan bagaimana. Kita nggak akan mengerti hubungan kita akan dibawa kemana nantinya. Maka, bukankah lebih baik kita nikmati saja waktu yang ada dengannya? Belum tentu kita akan memilikinya di masa depan, maka milikilah dirinya sekarang.

Kita akan selalu dihadapkan dengan resiko bahwa kita akan kehilangan dirinya dan mungkin akan sangat sulit mencari yang lain yang setara atau lebih baik daripada dirinya. Tapi, kita juga tak tahu apa yang akan kita temukan di masa depan kan?

Maka, biarkanlah ia singgah sejenak di hati kita. Biarkan ia menari-nari dan mengajari kita betapa indahnya hidup berdua. Biarkan dia mengenalkan kita kepada hal yang baru, memberikan kita sebuah pengalaman serta sebuah memori yang berharga.

Di suatu waktu dalam hidup kita, Tuhan akan menurunkan seorang malaikat kedalam hidup kita. Dia akan menjadi orang yang terbaik yang pernah kita kenal. Dia akan mengajari kita banyak hal dan mempersiapkan kita untuk banyak hal lain di masa depan. Dan ketika waktunya sudah selesai, Tuhan akan mencabut kembali sayap yang ada di punggungnya dan dia akan menjadi orang lain dalam hidup kita...


Self-Validation

Kenapa orang-orang suka pergi ke kedai kopi?
Karena mereka tak mau sendiri...




Karena kesendirian itu membuat kita hampa. Eksistensi kita, keberadaan kita sebagai sebuah makhluk hidup, hanya akan berarti bila diberi makna oleh orang lain.

Kenapa kedai kopi? Karena kita hanya ingin company, atau mungkin lebih dasarnya, keberadaan sosok lain yang mengelilingi kita. Walaupun kita hanya duduk sendiri, kita sangat menghargai kehadiran orang lain disisi kita. Membuat kita merasa aman, setidaknya.

Mungkin karena memang pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Itu yang sering dikatakan oleh guru SD saya. Karena mereka makhluk sosial, mungkin ini sebuah cara bagi mereka untuk bertahan hidup: mencoba membuktikan bahwa mereka ada di dunia ini.


Kenapa orang-orang ingin pulang kembali ke negeri asalnya?

Karena disanalah keberadaannya diberi arti paling dalam oleh orang-orang disekelilingnya. Disanalah eksistensinya paling dihargai.

Nestapa memang. Bila pindah ke negeri orang dan kita harus memulai segalanya dari nol. Ibarat selembar kertas putih, menunggu seseorang untuk menuliskan kata-kata yang akan mendefinisikan diri kita. Memberi arti akan keberadaan kita.

Mungkin itu yang disebut sebagai 'rumah'. Tempat dimana kertas kita sudah penuh dengan coretan, penuh dengan arti. Tempat kita dihargai sepenuhnya sebagai diri kita sendiri. Tempat dimana keberadaan kita paling berarti.



Tapi, semua hanya identitas. Bahkan diri ini bisa berarti apapun bila kata-kata yang ada diatas kertas sudah diubah...