Kisah yang Kini Pragmatis

The best thing that I liked about you
was your eyes
They tell a lot about how you see the world
How you see yourself
And how you see me
as myself

Unfortunately,
it was


It's that time of age. Kalian berpasangan. Sudah beberapa tahun belakangan. Basically, you guys are a good match. No, you guys are a great match! Si cewek nggak pernah menemukan cowok sebaik ini dalam hidupnya. He's educated, charming in sort of ways, punya tujuan hidup dan masa depan yang jelas, cukup perhatian dengan kebutuhan kalian, dan yang paling penting, setia. Well, setidaknya di mata kalian dia terlihat setia.

Si cowok pun demikian. Dia merasa pasangannya atraktif (re: presentable ke keluarga dan teman-teman), bisa menjadi teman bicara yang nyaman selama berjam-jam over a cheap bottle of wine, dan dia sendiri pun yakin bahwa wanita ini dapat menjadi seseorang yang bisa mendukung hidup, karier dan masa depannya. More or less, at least.

Now, here's the catch. Kalian berdua sudah cukup lama menjalin hubungan. TAPI, it's just not your time to get married. Baik salah satu pihak yang masih merasa belum siap, atau keduanya yang masih ingin bebas menikmati dunia masing-masing. However, kalian sudah pernah memikirkan hal ini sebelumnya: apakah pasangan saya yang sekarang sudah pas menjadi pasangan hidup saya?

Keep in mind that kalian berdua menganggap pasangan kalian yang sekarang adalah yang terbaik yang pernah kalian temukan.

But, what if one of you finds someone better?





Realistically speaking, di era yang serba bebas, realistis dan individualis ini, akan banyak manusia termasuk diri kalian sendiri yang memiliki kriteria tertentu untuk mencari pasangan hidup kalian. Seperti memilih mata kuliah, kalian pasti punya Core dan Complementary choice (examples below). Yang pada umumnya nggak pernah ada makhluk sesempurna itu di langit manapun yang bisa memenuhi semua kriteria kalian. But, they are few who come close.


For him. She has to be...
Core : Knowledgeable, sociable, supportive, caring, independent
Complementary : Great kisser, cultured, artsy, physically alluring

For her. He has to be...
Core : Leader, confident, loyal, educated, visionary, TALLER
Complementary : Funny, hugable, broad shoulder, handy, great cook


Sampai sejauh ini, pasangan kalian yang sekarang adalah yang terbaik yang pernah kalian dapatkan., walaupun dia belum memenuhi seluruh kriteria yang kalian harapkan. But still, sempat terbesit di dalam pikiran kalian untuk menjadikan pasangan kalian yang sekarang menjadi pasangan kalian untuk selamanya.

Tapi, jika suatu ketika semua bintang di rasi Sagitarius akhirnya ada dalam posisi tegak lurus satu sama lain dan menyebabkan reaksi berkesinambungan melalui gaya gravitasi dengan molekul hidrogen yang ada di permukaan bumi dan akhirnya membuat salah satu dari kalian menemukan orang lain yang lebih baik dari pasangan kalian saat ini, what will happen next?

Okay, moment of truth. Jatuh hati dengan seseorang yang lain bukanlah disebabkan karena rasi bintang yang tiba-tiba tegak lurus satu sama lain, tetapi karena pada dasarnya setiap orang secara subconsciously memiliki alternatif dalam pilihan pasangan hidup mereka (Baskoro, 2015). It might sound evil, but believe me, with the increasing trend of individualism among people nowadays, they will subconsciously think about the greater good for themselves. Walaupun masih banyak juga yang memiliki sifat deontological yang masih memikirkan tentang orang lain selain dirinya sendiri, sifat utilitarian akan lebih prevalent di dalam masyarakat pada umumnya.

Pandangan pragmatis inilah yang terjadi kepada manusia, dan mengertilah bahwa hal ini sangat normal. Kenapa? Karena secara biologis, manusia ingin mengejar survival rate dan productivity untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Dan layaknya mahkluk lain pada umumnya, manusia akan merealisasikan hal ini dengan cara memilih pasangan hidup yang terbaik.

But seriously speaking, banyak orang yang memiliki alternatif pertama, kedua, ketiga bahkan keempat dalam menentukan pasangan hidup mereka. Bila kalian belum menyadari ini pada pasangan kalian, mungkin saja mereka tak ingin kalian tahu karena mereka tak ingin menyakiti hati kalian. Bahkan kalian sendiri mungkin pernah memiliki alternatif lain selain pasangan kalian. Dan kadang, bila si alternatif pertama tidak bisa mempertahankan tempatnya di posisi pertama, akan ada pilihan alternatif lain yang siap maju dan mengambil posisi pertama.

Dan akhirnya... Sebuah kisah yang telah lama ditulis, harus berhenti pada halaman terakhir.
Dan sebuah kisah baru akan mulai ditulis pada halaman pertama.




Lalu, bagaimana bila kalian adalah orang yang ditinggal?

One of the best relationship advice from my mom is to never love someone too much. Because when you do, it is harder to let go. Dan hingga detik ini, lebih banyak manusia yang gue temukan mengaplikasikan hal ini di dalam hubungan mereka. Because heartbreaks are more difficult to cure than bullet wounds. #anjay

Tapi, menurut gue, if you truly love someone, then let them go. Karena mencintai atau menyayangi seseorang itu berarti dapat melepasnya untuk mencari kebahagiaan dan jalan hidupnya sendiri. You don't have to be selfish and keep them for yourself.

Dan mengertilah, bahwa sebenarnya kalian benar-benar mencintai mereka bila kalian melepas mereka untuk mendapatkan jalan hidup yang lebih baik untuk diri mereka, which mungkin dalam hal ini adalah tidak bersama dengan kalian...




Dan bila memang alam berkehendak, bintang-bintang di rasi Virgo akan ada dalam posisi berseberangan satu sama lain dan akan menyebabkan medan magnet yang sangat kuat hingga menyebabkan beberapa unsur logam di bumi bereaksi terlalu hebat, bahkan zat besi didalam tubuh kalian yang akan menarik kalian menuju pasangan terbaik yang akan kalian temukan seumur hidup kalian...

The End is the Beginning

Mereka lebih teratur daripada hukum. Mereka lebih
kuat daripada perasaan orang-orang kota. Mereka 
setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka
ingin tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu terang
agar kau tidak malu pada kelelahanmu pulang kerja
- atau demi menyembunyikan ciuman entah siapa.

Lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang itu
mencintai lampu jalan di depan rumahmu. Lampu 
jalan memiliki kekasihnya masing-masing
- sebagaimana hati manusia.

Lampu jalan depan rumahmu mati - dan bukan
hanya dirimu yang sedih. Lampu jalan di dekat
pohon yang baru ditebang itu seperti ingin menelan
cahayanya sendiri.

Jika kesedihan lampu jalan itu sampai menyentuh
lampu jalan yang lain, mereka akan sepakat berhenti
menyala. Jalan-jalan kota gelap. Lampu-lampu yang
lain - lampu di kamarmu dan di kamarku - juga
merasakan kesedihannya dan ikut memadamkan
diri. Kota-kota akan gelap dan bahkan kejahatan
takut keluar rumah.

Bulan dan matahari akan ikut memejamkan cahaya.
Kau tak pernah tahu berapa orang yang mati.

Tapi lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang
itu merahasiakan perasaannya. Ia tetap
menunggumu disana dengan cahaya yang sama.
Kau yang seperti biasa berjalan pulang kerja
melewatinya, juga melewati lampu jalan depan 
rumahmu yang mati, sambil berpikir betapa
berbahayanya kesedihan.





Tahun 2014 menurut gue personally adalah tahun yang berlalu dengan sangat cepat. I can easily recall into details how I spent the new year's eve, exactly one year ago. Namun, walaupun semua terasa begitu cepat, tiga ratus enam puluh lima hari yang gue lewati di tahun 2014 telah mengajarkan gue begitu banyak hal, dan pasti kalian juga merasakan hal yang sama.

Tanpa mungkin kita ingat dengan jelas, begitu banyak hal yang telah terjadi dalam kehidupan kita di tahun 2014. Kita semua menjalani hal yang berbeda-beda, tetapi sejatinya, kita semua pasti setidaknya merasakan hal yang sama, yang membuat kita sedikit lebih bijaksana, sedikit lebih dewasa di akhir tahun ini.




Selama setahun belakangan ini, pasti banyak diantara kita yang menemukan momen bahagia dan membanggakan dimana kita berhasil melakukan atau meraih sesuatu. Sebuah kesuksesan, kalau boleh dibilang, pasti telah terjadi kepada diri kalian di tahun 2014.

Saat dimana kita begitu bangga dengan diri kita sendiri, saat dimana kita telah berhasil menaklukkan sesuatu, apapun itu. Dan kita merasa puas akan pencapaian kita tersebut. This is the time when the people around you acknowledge you for your achievement and effort, and you feel confident about yourself and feel motivated to do more. And it feels so damn good!

Tapi, juga akan ada waktu dimana kalian hit rock bottom. Kalian begitu hancur. Terjatuh. Gagal. Kecewa, terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini dimana kalian mulai mempertanyakan kualitas diri kalian sebagai manusia. Meragukan kemampuan masing-masing. Merasa sendiri dan tak ada yang mau mengulurkan tangan untuk menarik kalian dari kejatuhan kalian yang begitu dalam.

Saat inilah dimana kepercayaan orang-orang terhadap kalian mulai pudar, dimana orang mulai meragukan kalian. melihat kalian dengan mata terpicing seolah meremehkan. Now, this is the moment when people questions yourself, and instead of proving to them, you actually swallow all their emotions and start blaming yourself for every little things that went wrong.


Namun, betapa manisnya keberhasilan dan betapa pahitnya kegagalan, kalian belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Keberhasilan mengingatkan kalian bahwa kalian memiliki kekuatan. Kekuatan yang dapat membantu kalian mencapai apapun yang kalian inginkan. Di sisi lain, kegagalan menunjukkan kepada kalian dimana letak kelemahan kalian, dan akan meninggalkan sebuah luka yang begitu dalam sebagai tanda pengingat untuk tidak terjatuh di tempat yang sama.




Di sisi lain, tahun yang begitu cepat berlalu ini juga memperkenalkan kita kepada wajah-wajah baru, suasana baru dan kehidupan yang juga baru. Jika kalian bayangkan, berapa teman dan sahabat baru yang kalian temukan tahun ini? Sebagai makhluk sosial, kita akan selalu terlibat dalam sebuah perkumpulan manusia, sebuah komunitas. Akan ada banyak wajah baru yang masuk kedalam kehidupan kita dan membantu mewarnai sekaligus menulis lembaran baru dalam kisah hidup kita.

Tuhan mengirimkan mereka dengan sebuah kuas dan tinta untuk mengisi kehidupan kita dengan warna. Setiap orang memiliki warna yang berbeda, tergantung peran mereka dalam hidup kita. Akan ada yang membawa warna merah menyala dan menjadi penyemangat di kehidupan sehari-hari kita. Ada yang membawa tinta hitam kelam dan mencoba menghapus sinar kehidupan kita dengan kegelapan. Ada juga yang membawa berbagai macam tinta, dan akan mengisi kehidupan kalian dengan rasa yang berbeda di setiap harinya.

Namun, layaknya sebuah printer, tinta mereka akan habis, dan lambat laun hanya menyisakan noda-noda dan bercak tak jelas diatas lembaran kehidupan kalian. Dan layaknya tinta-tinta yang lain, ketika waktu mereka sudah habis, mereka akan diganti dengan tinta lain yang akan bertugas untuk mewarnai lembaran kalian.

Dan betapa waktu bergerak dengan sangat cepat, hingga seseorang yang begitu dekat dengan kita, dapat kembali menjadi seseorang yang asing dalam kehidupan kita. Ingatlah kembali, di tahun yang singkat ini, sudah berapa banyak tinta yang kalian tinggalkan? Sudah berapa banyak kuas-kuas yang mengeras? Sudah berapa banyak ucapan perpisahan yang kalian katakan? Dan apakah kalian sudah menyempatkan, untuk mengisi kembali tinta-tinta tersebut agar mereka dapat kembali mewarnai kehidupan kalian?

Mungkin ada beberapa diantara tinta-tinta tersebut yang tidak akan kembali mewarnai kehidupan kalian. Namun, berterimakasihlah. Setidaknya Tuhan telah mengirimkan mereka untuk membantu kalian mewarnai lembaran kisah hidup kalian, dan bila kalian buka kembali halaman tersebut, ingatlah mereka dan berterimakasihlah karena mereka telah mengajarkan sesuatu kepada kalian dengan warna mereka sendiri.




Terakhir, akan banyak diantara kita yang menjadikan tahun ini sebagai tahun untuk mencari jawaban. Mencari kepuasan, mencari keinginan, mencari jati diri. Mencari apa yang bahkan kita belum tahu untuk dicari.

Banyak dari kalian yang akan bermain teka-teki dengan diri sendiri. Kalian penasaran, terhadap diri kalian, terhadap lingkungan di sekitar kalian, atau bahkan terhadap kehidupan kalian secara keseluruhan. Kalian bertanya-tanya, mencari sesuatu yang membuat diri kalian merasa janggal.

Maka dari itu kalian mencari tahu. You set up a quest. You go. Travel. Experience. Explore. Get lost. And find yourself again. Perjalanan untuk menemukan sebuah jawaban bukanlah hal yang mudah; it's a lifelong process. Dan di tengah jalan, kalian akan hilang, tersesat seolah tak menemukan apa-apa. Kalian juga akan kehilangan, tapi kehilangan akan menyadarkan kalian terhadap hal apa yang sebenarnya kalian butuhkan.

Bagi beberapa dari kalian, akan ada yang sudah menemukan jawaban yang kalian cari selama ini. Sisanya, kalian akan menemukannya di kemudian hari. Remember, it is a lifelong process. Setiap orang memiliki pertanyaan yang berbeda, jawaban yang berbeda, jalan menuju jawaban yang juga berbeda dan tentu saa waktu tempuh yang berbeda.

Bila sudah menemukan jawabannya, akan ada dari kalian yang merasa puas, tapi ada juga yang kecewa karena ini bukanlah jawaban yang kalian cari-cari. Tetapi, terkadang bukan jawabannya yang sebenarnya kita cari, namun proses menuju jawaban tersebut yang mengubah jalan pikiran kita hingga mendapatkan apa yang kita cari selama ini.

Pada akhirnya, semua itu adalah proses bagi kita untuk mengenal diri kita sendiri lebih dalam. Perjalanan mencari sebuah jawaban akan membuat kita menjadi lebih dewasa, karena pemikiran kita akan dipaksa untuk melihat dengan cara yang berbeda. Dan semuanya akan membuat kita lebih puas dan lebih bahagia dengan kehidupan yang kita pilih nantinya.




Dan, di ujung tahun yang begitu mengesankan ini, mari kita tersenyum. Bahwa kita masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan di kemudian hari. Bahwa apapun yang kita miliki sekarang, kurang ataupun lebih, adalah sebuah titipan yang suatu saat dapat diambil kembali. Bahwa segala kebahagiaan adalah anugerah dari sebuah usaha, dan setiap kesedihan adalah cobaan untuk memperkuat jiwa dan raga. Bahwa teman dan keluarga adalah tokoh yang akan ada dalam lembaran kisah hidup kita. Bahwa kita siap, untuk melihat matahari kembali bersinar lagi, untuk berjalan satu langkah lebih jauh lagi, tertawa lebih keras lagi dan menangis lebih kencang lagi. Bahwa kita percaya akan ada sesuatu yang lebih besar lagi kedepannya, dari semua yang pernah kita tinggalkan.


That we are human. That we rise and we fall, and rise again and fall better. That we are getting older and hurt, but we are alive and getting stronger each day. That we are not perfect, but we are thankful, for imperfection makes us who we are.





Internship: The 10 things that I want you to know



Going to college in Australia actually has it own perks, especially with the 3-months-long summer break from late November to early March EVERY YEAR. However, entering my penultimate year in college, I decided to apply for an internship at several companies back in my hometown. I don't expect too much as an intern, I mean the work probably wouldn't be too hectic. Besides, I feel the need to do something productive during the vacation than just laying on the couch at home, unemployed, doesn't take shower and wasting my data allowance on social media.

I consider myself lucky, since there are people out there who take their time and review my overdecorated, made-for-graphic-designer résumé and a cover letter, and actually offered me a position in their organization. It was a good day when I got the email and I have to thank them for that. Thus, my journey as a white collar worker began.

Getting my hands on practical experiences, I reckon I could give some insights for young, idealistic and narcissistic bachelors out there. Yes, I was like you when I was younger, but at least hear me out. I'll try not to give a lecture, but rather share what I got as a friend and as someone who's on the same level as you. So, here's my story.


1. Each company has their own set of corporate culture and values, each with their own implementation. And no matter how silly it is, you just have to do it.



It might be a simple chants in the morning with some clapping combos, a solemn oath ended in prayers or a semi-hardcore yet radical motivating words that demands everyone to conform with the norm. Yes, sometimes it's silly, weird and make you feel "Whoa! No fancy hand movements, please!" But, give it a week or two and you'll pretty much the same like everyone else, and it actually feels pretty nice when you finally managed to do it perfectly after a while. 

By the way, culture and values are actually the company's way to help attain their goals. And if you carefully adjust your behavior in line with the values, it should help you reach your individual goals, and that leads to the attainment of the organisational goal as a whole. I'm not saying you must, but it just makes you feel belong with the organization. Besides, the clapping combo is actually a pretty neat thing to do since you stopped doing it in kindergarten.


2. And make sure that you know the company's profile before you start working for them. 



Internship is a good opportunity to find which job/company/industry/area suits you. I now work as an intern at a government body; and I have to say that, while it is a thoroughly wonderful experience, I don't wanna work for the government before I turn 40. Why? Because the bureaucratic and stiff working environment doesn't really match my happy-go-lucky personality.

It is always better to know where you're gonna work and what values they are holding. Because if you get into the wrong hands, you'll be forced to be their slaves for years. Doing things you don't necessarily like, in an environment that you don't necessarily enjoy. So, choose wisely!


3. People expect you to perform at certain standard, and sometimes standard is just not your forte. 



Honestly, it takes a lot of adjustments, even as an intern. You have your own pace and style of work. Some of you might burn yourself out and finish the damn job before lunch time, but some of you need one minute of extra rest for every minute that you're working. However, different companies has different performance index, and that means you too. Some of you might find the company a bit tough, but others may find that the rest of the workforce are just a bunch of sinecures. 

"But that's how the job is done around here," your supervisor argued. Until you get a higher position, you just have to suck it up. You can always give feedback, but unless your company is run based on performance management, it mostly doesn't get you anywhere. So, just be responsible and try to get the job done on time. And after all, you're just an intern.



4. You think you know Microsoft Office, and you list it as your personal qualities on your résumé and on your LinkedIn profile. But do you really? 




I'm not talking about some fancy effects on power point where the transition between slides always incorporates some pixie dusts and a dazzling sound effect. That doesn't make you cool anymore in front of your boss and peers. I'm talking about some hardcore level excel formula, formatting on words, even to the smallest scale possible like how to do a proper table of contents (and by this I mean you don't have to type all the dots manually).

So, next time you put down Microsoft Office as one of your 'expertise', you should already feel pretty confident with your skills.


5. Generational differences is such a pain in the neck!



There is a reason why they offer Business Communication course at Uni. And this is the right time to realize that the style and form of communication between age groups are different. Companies nowadays are filled with baby boomers, gen x and gen y; and this is why talking with your boss is so damn difficult sometimes, or why some companies are highly bureaucratic. You guys just communicate differently, value things differently and work on a completely different style. 

Remember that old teacher at your high school that has been teaching for like, I don't know, 30 years? Remember why you don't have a thing for his lectures? It's because you're from the Star Wars generation while they're from the Cretaceous period. Both of you use different style of words, flow and body language. So, next time you're having a conversation with someone way older than you, remember to think whether you're on the same page.


6. Good CVs and cover letter take you to places. 



There are heaps of examples online like on Behance and Pinterest. Grab one that fascinates you, install an Adobe Illustrator (from Torrent, of course) and edit accordingly. It shouldn't be that hard. Keep it simple. 2 pages are your limit. I work in HR and I have to tell you that they don't really read it, and no, they don't wanna know what kind of course you take when you were 8. Keep the information up-to-date, and anything below high school shouldn't be mentioned. I once mentioned that I won some Islamic debate quiz when I was 13 and people laughed. Lastly, only list down experiences that are significant to your professional development.

Many people thought grades don't matter anymore these days. Well, they do. At least on administrative level. People sort out good candidates from bad through grades and the prestige of the University. The latter doesn't really matter if you're a straight-A student. So, if you think getting a 'pass' mark is enough, think again. Even getting a job is getting harder these days, people.

Oh yeah, one thing about cover letter. If English is not your first language, make sure you get some grammar-Nazi (works best if he/she's taking English literature) friend to proof-read it for you. Make it balanced. Praise the company, but don't be superficial unless you wanna work for Smaug. Showcase your talent, then tell them your objectives and goals and that you're eager to learn more. And when you send the email, make sure to mention your University at the title. For example, I get faster response when I put "Internship - University of Melbourne", rather than "Internship - Reinaldy Baskoro". A good friend of mine told me that it works most of the time. Well, at least they took the time to read your email.



7. While some of you think that some subjects at Uni are not really applicable in the real world, they actually are. 



Yes, on the very basic level, they are. During my 'jaffy' days, I hate statistics so much I almost changed my major to African studies. However, the knowledge in world we know today are based on assumptions, and whether some things can significantly affect the others. And when one does, we say that it would happen on normal basis. It also applies in my field. Surveys and psychoanalytical researches rely heavily on correlation and regression, and knowing some basic statistics helps me to understand some hardcore-complexity-level researches done by McKinsey and Haygroup and PWC about my company. Well, at least I know the name of some mathematical symbols...

While you might think that other subjects are redundant as hell, it actually helps you to have a better understanding of the world we know today, thus making other, more detailed things seem a bit easier to digest. Some 'redundant' subjects also keep your brain on its peak level. History, for example, makes you better at remembering things, and maths just makes you better at logic. Believe me, someday you'll feel satisfied that you've taken one particular 'redundant' subject during your college year. Omg, did I sound like your parents just now?


8. And experience? They matter A LOT.



When you got heaps of experiences on your résumé, people assume that you are trained. And you better satisfy their expectations! Everything I learned in the classroom is more related to theories and strategies. I got heaps of literature to support my strategic plans for my upcoming project (Did I mention that companies use a lot of academic works, too?), but when it comes to implementation, your experience matter!

People-to-people relationship, what consumer really wants, example of previous work, task handling, even work ethics, it all comes down to how well you manage yourself and others. It's a completely different quality, that is theory and practice, strategy and implementation, courses and experiences. Make sure you got the two balanced and you'll be in safe hands.


9. Now, start being the cool kids and build your handful of networks!



Next time you're in a career expo. Don't just leave your CV like what everyone else does. Talk. Engage. Leave an impression. Get a name card. Send an email. Who knows where you'll end up in the next 6 months from now? And after your internship period, get referred! Maintain connection. You could link them to other people too. And like all professional would say, "It's not about who you knows, but who knows you!"


10. And finally, get ready for an internship!



It all depends on who employs you. Your job can be varied from making a cup of coffee, copying documents to making a thousand dollar worth of project by yourself. If you're lucky, you can get your hands on the 'serious' stuffs, and don't worry, most internship nowadays are like that. Prepare for the worst. It counts as a professional job, so do it professionally!

When you're stuck, your boss is always happy to help by leaving some breadcrumbs for you to follow, but you have to figure out the answers by yourself. Most bosses will accept almost everything that you give them since you're an intern, as long as it aligns with the company. They also need a new perspective so there are great chance that they will hear you out.


Don't worry it's a hell of a fun experience. You get to know stuffs you don't learn at school and how to actually do things properly. It's the time when you take your knowledge and apply it on real world situation. It's the time to gain experiences, to know does this kinda thing suits you, and to prepare yourself as a white collar, money-making, low-paying slaves of the future. But don't worry, even slaves can dream of changing the world, if they believe, said Disney.


So, I hope my post helps, and from the 8th floor of some random building in Jalan M.H. Thamrin, I wish you good luck!