The End is the Beginning

Mereka lebih teratur daripada hukum. Mereka lebih
kuat daripada perasaan orang-orang kota. Mereka 
setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka
ingin tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu terang
agar kau tidak malu pada kelelahanmu pulang kerja
- atau demi menyembunyikan ciuman entah siapa.

Lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang itu
mencintai lampu jalan di depan rumahmu. Lampu 
jalan memiliki kekasihnya masing-masing
- sebagaimana hati manusia.

Lampu jalan depan rumahmu mati - dan bukan
hanya dirimu yang sedih. Lampu jalan di dekat
pohon yang baru ditebang itu seperti ingin menelan
cahayanya sendiri.

Jika kesedihan lampu jalan itu sampai menyentuh
lampu jalan yang lain, mereka akan sepakat berhenti
menyala. Jalan-jalan kota gelap. Lampu-lampu yang
lain - lampu di kamarmu dan di kamarku - juga
merasakan kesedihannya dan ikut memadamkan
diri. Kota-kota akan gelap dan bahkan kejahatan
takut keluar rumah.

Bulan dan matahari akan ikut memejamkan cahaya.
Kau tak pernah tahu berapa orang yang mati.

Tapi lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang
itu merahasiakan perasaannya. Ia tetap
menunggumu disana dengan cahaya yang sama.
Kau yang seperti biasa berjalan pulang kerja
melewatinya, juga melewati lampu jalan depan 
rumahmu yang mati, sambil berpikir betapa
berbahayanya kesedihan.





Tahun 2014 menurut gue personally adalah tahun yang berlalu dengan sangat cepat. I can easily recall into details how I spent the new year's eve, exactly one year ago. Namun, walaupun semua terasa begitu cepat, tiga ratus enam puluh lima hari yang gue lewati di tahun 2014 telah mengajarkan gue begitu banyak hal, dan pasti kalian juga merasakan hal yang sama.

Tanpa mungkin kita ingat dengan jelas, begitu banyak hal yang telah terjadi dalam kehidupan kita di tahun 2014. Kita semua menjalani hal yang berbeda-beda, tetapi sejatinya, kita semua pasti setidaknya merasakan hal yang sama, yang membuat kita sedikit lebih bijaksana, sedikit lebih dewasa di akhir tahun ini.




Selama setahun belakangan ini, pasti banyak diantara kita yang menemukan momen bahagia dan membanggakan dimana kita berhasil melakukan atau meraih sesuatu. Sebuah kesuksesan, kalau boleh dibilang, pasti telah terjadi kepada diri kalian di tahun 2014.

Saat dimana kita begitu bangga dengan diri kita sendiri, saat dimana kita telah berhasil menaklukkan sesuatu, apapun itu. Dan kita merasa puas akan pencapaian kita tersebut. This is the time when the people around you acknowledge you for your achievement and effort, and you feel confident about yourself and feel motivated to do more. And it feels so damn good!

Tapi, juga akan ada waktu dimana kalian hit rock bottom. Kalian begitu hancur. Terjatuh. Gagal. Kecewa, terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini dimana kalian mulai mempertanyakan kualitas diri kalian sebagai manusia. Meragukan kemampuan masing-masing. Merasa sendiri dan tak ada yang mau mengulurkan tangan untuk menarik kalian dari kejatuhan kalian yang begitu dalam.

Saat inilah dimana kepercayaan orang-orang terhadap kalian mulai pudar, dimana orang mulai meragukan kalian. melihat kalian dengan mata terpicing seolah meremehkan. Now, this is the moment when people questions yourself, and instead of proving to them, you actually swallow all their emotions and start blaming yourself for every little things that went wrong.


Namun, betapa manisnya keberhasilan dan betapa pahitnya kegagalan, kalian belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Keberhasilan mengingatkan kalian bahwa kalian memiliki kekuatan. Kekuatan yang dapat membantu kalian mencapai apapun yang kalian inginkan. Di sisi lain, kegagalan menunjukkan kepada kalian dimana letak kelemahan kalian, dan akan meninggalkan sebuah luka yang begitu dalam sebagai tanda pengingat untuk tidak terjatuh di tempat yang sama.




Di sisi lain, tahun yang begitu cepat berlalu ini juga memperkenalkan kita kepada wajah-wajah baru, suasana baru dan kehidupan yang juga baru. Jika kalian bayangkan, berapa teman dan sahabat baru yang kalian temukan tahun ini? Sebagai makhluk sosial, kita akan selalu terlibat dalam sebuah perkumpulan manusia, sebuah komunitas. Akan ada banyak wajah baru yang masuk kedalam kehidupan kita dan membantu mewarnai sekaligus menulis lembaran baru dalam kisah hidup kita.

Tuhan mengirimkan mereka dengan sebuah kuas dan tinta untuk mengisi kehidupan kita dengan warna. Setiap orang memiliki warna yang berbeda, tergantung peran mereka dalam hidup kita. Akan ada yang membawa warna merah menyala dan menjadi penyemangat di kehidupan sehari-hari kita. Ada yang membawa tinta hitam kelam dan mencoba menghapus sinar kehidupan kita dengan kegelapan. Ada juga yang membawa berbagai macam tinta, dan akan mengisi kehidupan kalian dengan rasa yang berbeda di setiap harinya.

Namun, layaknya sebuah printer, tinta mereka akan habis, dan lambat laun hanya menyisakan noda-noda dan bercak tak jelas diatas lembaran kehidupan kalian. Dan layaknya tinta-tinta yang lain, ketika waktu mereka sudah habis, mereka akan diganti dengan tinta lain yang akan bertugas untuk mewarnai lembaran kalian.

Dan betapa waktu bergerak dengan sangat cepat, hingga seseorang yang begitu dekat dengan kita, dapat kembali menjadi seseorang yang asing dalam kehidupan kita. Ingatlah kembali, di tahun yang singkat ini, sudah berapa banyak tinta yang kalian tinggalkan? Sudah berapa banyak kuas-kuas yang mengeras? Sudah berapa banyak ucapan perpisahan yang kalian katakan? Dan apakah kalian sudah menyempatkan, untuk mengisi kembali tinta-tinta tersebut agar mereka dapat kembali mewarnai kehidupan kalian?

Mungkin ada beberapa diantara tinta-tinta tersebut yang tidak akan kembali mewarnai kehidupan kalian. Namun, berterimakasihlah. Setidaknya Tuhan telah mengirimkan mereka untuk membantu kalian mewarnai lembaran kisah hidup kalian, dan bila kalian buka kembali halaman tersebut, ingatlah mereka dan berterimakasihlah karena mereka telah mengajarkan sesuatu kepada kalian dengan warna mereka sendiri.




Terakhir, akan banyak diantara kita yang menjadikan tahun ini sebagai tahun untuk mencari jawaban. Mencari kepuasan, mencari keinginan, mencari jati diri. Mencari apa yang bahkan kita belum tahu untuk dicari.

Banyak dari kalian yang akan bermain teka-teki dengan diri sendiri. Kalian penasaran, terhadap diri kalian, terhadap lingkungan di sekitar kalian, atau bahkan terhadap kehidupan kalian secara keseluruhan. Kalian bertanya-tanya, mencari sesuatu yang membuat diri kalian merasa janggal.

Maka dari itu kalian mencari tahu. You set up a quest. You go. Travel. Experience. Explore. Get lost. And find yourself again. Perjalanan untuk menemukan sebuah jawaban bukanlah hal yang mudah; it's a lifelong process. Dan di tengah jalan, kalian akan hilang, tersesat seolah tak menemukan apa-apa. Kalian juga akan kehilangan, tapi kehilangan akan menyadarkan kalian terhadap hal apa yang sebenarnya kalian butuhkan.

Bagi beberapa dari kalian, akan ada yang sudah menemukan jawaban yang kalian cari selama ini. Sisanya, kalian akan menemukannya di kemudian hari. Remember, it is a lifelong process. Setiap orang memiliki pertanyaan yang berbeda, jawaban yang berbeda, jalan menuju jawaban yang juga berbeda dan tentu saa waktu tempuh yang berbeda.

Bila sudah menemukan jawabannya, akan ada dari kalian yang merasa puas, tapi ada juga yang kecewa karena ini bukanlah jawaban yang kalian cari-cari. Tetapi, terkadang bukan jawabannya yang sebenarnya kita cari, namun proses menuju jawaban tersebut yang mengubah jalan pikiran kita hingga mendapatkan apa yang kita cari selama ini.

Pada akhirnya, semua itu adalah proses bagi kita untuk mengenal diri kita sendiri lebih dalam. Perjalanan mencari sebuah jawaban akan membuat kita menjadi lebih dewasa, karena pemikiran kita akan dipaksa untuk melihat dengan cara yang berbeda. Dan semuanya akan membuat kita lebih puas dan lebih bahagia dengan kehidupan yang kita pilih nantinya.




Dan, di ujung tahun yang begitu mengesankan ini, mari kita tersenyum. Bahwa kita masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan di kemudian hari. Bahwa apapun yang kita miliki sekarang, kurang ataupun lebih, adalah sebuah titipan yang suatu saat dapat diambil kembali. Bahwa segala kebahagiaan adalah anugerah dari sebuah usaha, dan setiap kesedihan adalah cobaan untuk memperkuat jiwa dan raga. Bahwa teman dan keluarga adalah tokoh yang akan ada dalam lembaran kisah hidup kita. Bahwa kita siap, untuk melihat matahari kembali bersinar lagi, untuk berjalan satu langkah lebih jauh lagi, tertawa lebih keras lagi dan menangis lebih kencang lagi. Bahwa kita percaya akan ada sesuatu yang lebih besar lagi kedepannya, dari semua yang pernah kita tinggalkan.


That we are human. That we rise and we fall, and rise again and fall better. That we are getting older and hurt, but we are alive and getting stronger each day. That we are not perfect, but we are thankful, for imperfection makes us who we are.





Internship: The 10 things that I want you to know



Going to college in Australia actually has it own perks, especially with the 3-months-long summer break from late November to early March EVERY YEAR. However, entering my penultimate year in college, I decided to apply for an internship at several companies back in my hometown. I don't expect too much as an intern, I mean the work probably wouldn't be too hectic. Besides, I feel the need to do something productive during the vacation than just laying on the couch at home, unemployed, doesn't take shower and wasting my data allowance on social media.

I consider myself lucky, since there are people out there who take their time and review my overdecorated, made-for-graphic-designer résumé and a cover letter, and actually offered me a position in their organization. It was a good day when I got the email and I have to thank them for that. Thus, my journey as a white collar worker began.

Getting my hands on practical experiences, I reckon I could give some insights for young, idealistic and narcissistic bachelors out there. Yes, I was like you when I was younger, but at least hear me out. I'll try not to give a lecture, but rather share what I got as a friend and as someone who's on the same level as you. So, here's my story.


1. Each company has their own set of corporate culture and values, each with their own implementation. And no matter how silly it is, you just have to do it.



It might be a simple chants in the morning with some clapping combos, a solemn oath ended in prayers or a semi-hardcore yet radical motivating words that demands everyone to conform with the norm. Yes, sometimes it's silly, weird and make you feel "Whoa! No fancy hand movements, please!" But, give it a week or two and you'll pretty much the same like everyone else, and it actually feels pretty nice when you finally managed to do it perfectly after a while. 

By the way, culture and values are actually the company's way to help attain their goals. And if you carefully adjust your behavior in line with the values, it should help you reach your individual goals, and that leads to the attainment of the organisational goal as a whole. I'm not saying you must, but it just makes you feel belong with the organization. Besides, the clapping combo is actually a pretty neat thing to do since you stopped doing it in kindergarten.


2. And make sure that you know the company's profile before you start working for them. 



Internship is a good opportunity to find which job/company/industry/area suits you. I now work as an intern at a government body; and I have to say that, while it is a thoroughly wonderful experience, I don't wanna work for the government before I turn 40. Why? Because the bureaucratic and stiff working environment doesn't really match my happy-go-lucky personality.

It is always better to know where you're gonna work and what values they are holding. Because if you get into the wrong hands, you'll be forced to be their slaves for years. Doing things you don't necessarily like, in an environment that you don't necessarily enjoy. So, choose wisely!


3. People expect you to perform at certain standard, and sometimes standard is just not your forte. 



Honestly, it takes a lot of adjustments, even as an intern. You have your own pace and style of work. Some of you might burn yourself out and finish the damn job before lunch time, but some of you need one minute of extra rest for every minute that you're working. However, different companies has different performance index, and that means you too. Some of you might find the company a bit tough, but others may find that the rest of the workforce are just a bunch of sinecures. 

"But that's how the job is done around here," your supervisor argued. Until you get a higher position, you just have to suck it up. You can always give feedback, but unless your company is run based on performance management, it mostly doesn't get you anywhere. So, just be responsible and try to get the job done on time. And after all, you're just an intern.



4. You think you know Microsoft Office, and you list it as your personal qualities on your résumé and on your LinkedIn profile. But do you really? 




I'm not talking about some fancy effects on power point where the transition between slides always incorporates some pixie dusts and a dazzling sound effect. That doesn't make you cool anymore in front of your boss and peers. I'm talking about some hardcore level excel formula, formatting on words, even to the smallest scale possible like how to do a proper table of contents (and by this I mean you don't have to type all the dots manually).

So, next time you put down Microsoft Office as one of your 'expertise', you should already feel pretty confident with your skills.


5. Generational differences is such a pain in the neck!



There is a reason why they offer Business Communication course at Uni. And this is the right time to realize that the style and form of communication between age groups are different. Companies nowadays are filled with baby boomers, gen x and gen y; and this is why talking with your boss is so damn difficult sometimes, or why some companies are highly bureaucratic. You guys just communicate differently, value things differently and work on a completely different style. 

Remember that old teacher at your high school that has been teaching for like, I don't know, 30 years? Remember why you don't have a thing for his lectures? It's because you're from the Star Wars generation while they're from the Cretaceous period. Both of you use different style of words, flow and body language. So, next time you're having a conversation with someone way older than you, remember to think whether you're on the same page.


6. Good CVs and cover letter take you to places. 



There are heaps of examples online like on Behance and Pinterest. Grab one that fascinates you, install an Adobe Illustrator (from Torrent, of course) and edit accordingly. It shouldn't be that hard. Keep it simple. 2 pages are your limit. I work in HR and I have to tell you that they don't really read it, and no, they don't wanna know what kind of course you take when you were 8. Keep the information up-to-date, and anything below high school shouldn't be mentioned. I once mentioned that I won some Islamic debate quiz when I was 13 and people laughed. Lastly, only list down experiences that are significant to your professional development.

Many people thought grades don't matter anymore these days. Well, they do. At least on administrative level. People sort out good candidates from bad through grades and the prestige of the University. The latter doesn't really matter if you're a straight-A student. So, if you think getting a 'pass' mark is enough, think again. Even getting a job is getting harder these days, people.

Oh yeah, one thing about cover letter. If English is not your first language, make sure you get some grammar-Nazi (works best if he/she's taking English literature) friend to proof-read it for you. Make it balanced. Praise the company, but don't be superficial unless you wanna work for Smaug. Showcase your talent, then tell them your objectives and goals and that you're eager to learn more. And when you send the email, make sure to mention your University at the title. For example, I get faster response when I put "Internship - University of Melbourne", rather than "Internship - Reinaldy Baskoro". A good friend of mine told me that it works most of the time. Well, at least they took the time to read your email.



7. While some of you think that some subjects at Uni are not really applicable in the real world, they actually are. 



Yes, on the very basic level, they are. During my 'jaffy' days, I hate statistics so much I almost changed my major to African studies. However, the knowledge in world we know today are based on assumptions, and whether some things can significantly affect the others. And when one does, we say that it would happen on normal basis. It also applies in my field. Surveys and psychoanalytical researches rely heavily on correlation and regression, and knowing some basic statistics helps me to understand some hardcore-complexity-level researches done by McKinsey and Haygroup and PWC about my company. Well, at least I know the name of some mathematical symbols...

While you might think that other subjects are redundant as hell, it actually helps you to have a better understanding of the world we know today, thus making other, more detailed things seem a bit easier to digest. Some 'redundant' subjects also keep your brain on its peak level. History, for example, makes you better at remembering things, and maths just makes you better at logic. Believe me, someday you'll feel satisfied that you've taken one particular 'redundant' subject during your college year. Omg, did I sound like your parents just now?


8. And experience? They matter A LOT.



When you got heaps of experiences on your résumé, people assume that you are trained. And you better satisfy their expectations! Everything I learned in the classroom is more related to theories and strategies. I got heaps of literature to support my strategic plans for my upcoming project (Did I mention that companies use a lot of academic works, too?), but when it comes to implementation, your experience matter!

People-to-people relationship, what consumer really wants, example of previous work, task handling, even work ethics, it all comes down to how well you manage yourself and others. It's a completely different quality, that is theory and practice, strategy and implementation, courses and experiences. Make sure you got the two balanced and you'll be in safe hands.


9. Now, start being the cool kids and build your handful of networks!



Next time you're in a career expo. Don't just leave your CV like what everyone else does. Talk. Engage. Leave an impression. Get a name card. Send an email. Who knows where you'll end up in the next 6 months from now? And after your internship period, get referred! Maintain connection. You could link them to other people too. And like all professional would say, "It's not about who you knows, but who knows you!"


10. And finally, get ready for an internship!



It all depends on who employs you. Your job can be varied from making a cup of coffee, copying documents to making a thousand dollar worth of project by yourself. If you're lucky, you can get your hands on the 'serious' stuffs, and don't worry, most internship nowadays are like that. Prepare for the worst. It counts as a professional job, so do it professionally!

When you're stuck, your boss is always happy to help by leaving some breadcrumbs for you to follow, but you have to figure out the answers by yourself. Most bosses will accept almost everything that you give them since you're an intern, as long as it aligns with the company. They also need a new perspective so there are great chance that they will hear you out.


Don't worry it's a hell of a fun experience. You get to know stuffs you don't learn at school and how to actually do things properly. It's the time when you take your knowledge and apply it on real world situation. It's the time to gain experiences, to know does this kinda thing suits you, and to prepare yourself as a white collar, money-making, low-paying slaves of the future. But don't worry, even slaves can dream of changing the world, if they believe, said Disney.


So, I hope my post helps, and from the 8th floor of some random building in Jalan M.H. Thamrin, I wish you good luck!


Hati dan Idealisme Kita yang Dulu Janggal

Mari kita duduk bersama
Letakkan hati diatas meja
Dan bicara tentang cinta

Jika kau tak punya
Kan kubagi sepotong
Dan kita bisa makan dalam damai

Aku membutuhkanmu
Karena kita berbeda
Jika kau bunuh aku
Kau kan hidup merana




Seiring berjalannya waktu, kita akan lepas dari yang namanya cinta-cinta monyet, kisah kasih di sekolah atau cinta-cinta teenlit lainnya yang terasa superficial, tapi menyenangkan. Cinta-cinta yang masih idealis, dimana perasaan adalah segalanya dan pasangan kalian menjadi salah satu makhluk hidup yang tak bisa kalian lepas begitu saja.

Banyak dari kisah cinta ini yang membuat kita sering kali berkorban hanya untuk mempertahankan hubungan itu. Banyak juga yang berpikir bahwa cinta pada saat ini adalah hal yang begitu serius hingga menjadi prioritas dalam hidup kalian. Hingga banyak dari kalian yang belum putus atau bahkan bermimpi untuk langsung menikah setelah kalian menyelesaikan pendidikan kalian.

Walau belum 100 persen, kalian rela melakukan apapun demi pasangan kalian. Kalian tetap tabah walau kadang jarak diantara kalian berjauhan, kalian tetap saling menyayangi walau mungkin keyakinan kalian berbeda, bahkan kalian kuat menahan betapa sakitnya diselingkuhi. Masa-masa inilah dimana kalian begitu rendah hati mau memberikan seluruh hati kalian, walau tak ada jaminan bahwa hati kalian akan kembali dalam keadaan tak tergores.




Namun, beberapa dari kita akan lepas dari tahap tersebut. Kadang dengan pengalaman yang begitu indah, tapi kadang juga begitu pahit. Sedikit lebih tua, sedikit lebih bijaksana.

Setelah akhir kisah cinta kita yang idealis, banyak dari kita yang akan memutuskan untuk hidup sendiri. Mencoba bergulir dengan kehidupan, mencari pengalaman baru dan kesibukan baru sebagai cara untuk move on dari pasangan kita yang telah pergi. Kita akan menemukan hobi baru, teman baru dan pengalaman yang juga baru.

Masa-masa inilah dimana kita akan mempelajari sedikit lebih dalam tentang diri kita sendiri. Mencari jati diri, mencoba mencari arti hidup kita sendiri. Banyak dari kita yang akan sadar bahwa umur kita masih begitu muda. Masih banyak yang harus dialami, dinikmati, dipelajari, dikunjungi dan dilalui.

Seiring dengan berjalannya, kita akan menjadi sedikit lebih egois. Terbiasa hidup sendiri akan membuat kita menjadi lebih fokus dengan diri kita sendiri. Kita akan lebih mementingkan pendidikan dan kesuksesan kita sendiri. Kita akan mencari lebih banyak teman untuk diri kita sendiri. Melakukan segala hal yang kita inginkan dan pergi ketempat manapun yang kita impikan. Dan disanalah dimana kita sudah mulai menemukan arti hidup kita sendiri, dan mencoba untuk berjalan menggapainya sendiri.




Lalu, akan ada saat dimana Tuhan akan sedikit bermain-main dengan hati kecil kalian yang kini sudah berdebu. Akan ada seseorang yang cukup istimewa datang mengetuk pintu kehidupan kalian, mencoba berbagi ruang disisi kalian, dan mungkin meminjam hati kalian yang sekarang lebih sering menyendiri, untuk dibawa bermain-main dengan romantika cinta dan asmara.

Disaat seperti ini, kalian akan bingung. Tergugah dan tersipu. This is the time when you don't mind being single, but it's nice to have someone to fill your life. Disaat inilah kalian akan memiliki konflik batin antara kenikmatan hidup sendiri dan perhatian dari seseorang yang selama ini tak ada dalam hidup kalian. Disinlah masa-masa dimana kalian akan berkata "jalanin dulu aja".

Kenapa jalanin dulu aja? Karena kalian bingung. Di satu sisi, kalian ingin memiliki komitmen, tapi kalian takut untuk jatuh ke lubang yang sama dan kalian masih menikmati hidup sendiri. Disisi lain, kalian ingin tidak berkomitmen, tapi dalam hati kalian ingin memiliki dirinya dan cemburu bila dia bersama orang yang lain.




Namun, pada akhirnya kalian harus bersikap dewasa. Jalanin dulu aja tidak akan menyelesaikan masalah. Pada akhirnya kalian harus memilih: apakah perasaan itu begitu nyata hingga hidup akan terasa lebih baik bagi kalian untuk berkomitmen dan meminjamkan hati kalian sekali lagi; atau apakah ego kalian begitu besar hingga hidup akan terasa lebih indah bila dijalani seorang diri?

Ini hidup kalian, ini hati kalian dan ini masa depan kalian. Pilihlah satu jalan yang tak hanya membuat kalian tersenyum ketika menjalaninya, tapi juga tersenyum ketika kalian telah melaluinya...