Balada Sunda - Part 1

Arak dan jamur
Euforia hidup tepi gemerlap
Dimana manusia berubah pisang dan kasur berubah ular
Mungkin kita sudah tua, mungkin kita sudah ragu
Pada setiap dewa dan makhluk bersemayam di debu jalanan

Mega berdansa
Kesenangan surya akhirnya kembali ditelan tanah
Tapi mega bersedih
Indahnya kini buramkan indahnya nanti
Dan nanti bertanya pada kini
"Sulitkah nanti bercermin pada kini?"




Baru saja gue melaksanakan salah satu perjalanan paling spontan yang pernah gue jalani seumur hidup gue yang fana ini! Tentu saja dengan salah satu teman gue yang paling kuncen. Sebut saja namanya Mawar. 19 tahun. Single. Laki-laki. Mencari janda min. 40 thn. Satunya lagi, sebut saja namanya Cicak. Kurang lebih 19 tahun kalo nggak salah lihat lingkarang tahun di batangnya. Single. Juga laki-laki. Punya fetish aneh terhadap reptil.


Seperti perjalanan gue dan Mawar sebelumnya, kita emang orang yang paling nggak ada rencana! Jadi emang nggak tau harus kemana, pake apa dan ngapain aja disana... Inilah beberapa karakteristik perjalanan yang kita lakoni bersama:

1. Beli tiket sehari sebelum perjalanan
2. Cari penginapan kalo udah nyampe
3. Motto perjalanan: We'll figure it out when we get there!

Kita hanya punya 6 hari untuk mengitari Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores. Entah bagaimana caranya pokoknya kita harus sampe Flores! Jadi bagaimana kita bisa ke Flores? Inilah perjalanan gue, Mawar dan Cicak!



Kita bertolak dari Jakarta langsung menuju Bali. Ada satu maskapai di Indonesia yang pramugarinya cukup oke, cuma delay nya kaya orang batal kawin. Dan kita terpaksa naik itu karena tiket sisa tadi pagi adanya cuma itu. Alhasil, sesampainya di Ngurah Rai, kita langsung ambil taksi dan nyamper ke kota kelahiran kembaran gue, Kuta.

Karena belom dapet hotel, kita suruh sopir taksi cariin buat kita. Yang paling murah tapi paling bagus! Yang bayarnya 100 - 150 ribu per orang tapi kamar mandinya pake bathtub, kasurnya dikasih bunga-bunga dan kamarnya aroma melati! Dan si sopir pun bisa menemukannya! Setelah deposit dan taro-taro barang, kita langsung lari ke pantai Kuta biar nggak ketinggalan sunset!


Perjalanan ke Kuta itu agak aneh. Dan lebih liar daripada terakhir kali gue kesini. Bukan karena banyaknya bule bau ketek yang bertebaran. Tetapi, banyaknya orang yang menawarkan kanabis dan psilocybin. Ada juga beberapa wanita yang menjajakan tubuhnya di salah satu tempat bertajuk 'Pijat Refleksi'.

Seakan kurang ironis, gue harus memperhatikan langkah kaki gue agar tidak menginjak sesajen yang disiapkan para penduduk lokal sebagai salah satu kewajiban kepercayaan mereka.


Moving on. Sekitar 10 menit perjalanan dari hotel, akhirnya kita sampai di pantai. Matahari terbenam di Pantai Kuta seakan kehilangan pesonanya sejak terakhir kali gue kesini. Para peselancar muda masih rajin mengendarai papan mengarungi lambaian ombak. Beberapa orang sudah mengeluarkan kamera dan ponsel mereka untuk merekam pemandangan yang tidak begitu indah, tapi masih layak untuk ukuran orang Indonesia.

Dan gue? Gue cuma bisa memendamkan telapak kaki kedalam pasir dan biarkan sapuan air membersihkannya. Cicak masih sibuk pinjem hp gue untuk mengabadikan momen dimana Batara Surya harus kembali menyentuh horizon. Mawar? Mawar sibuk digoda SPG rokok di pinggir pantai. Betapa nikmatnya.

Makan malam kami cukup sederhana di pinggiran jalan. Dimana kami bertemu dua instruktor surfing dari Odyssey. Kita saling bertukar cerita dan mereka menganjurkan untuk menghabiskan waktu di Gili daripada di Lombok.

Di penghujung malam, kita menemukan diri kita di salah satu bar di pinggiran pantai Kuta. Live band memainkan musik Blues dan Hard Rock. Salah satu bule Australia paruh baya sudah terlalu banyak dipengaruhi alkohol dan mencoba berbicara dengan seluruh orang di bar. Kita berbicara sebentar tentang bagaimana warga Australia sangat tidak mempedulikan kasus penyadapan yang sedang hangat dibicarakan. Terlihat bangsa mana yang lebih pintar walaupun dikuasai dengan alkohol murah khas Indonesia.

Speaking of Indonesian Alcohol, banyak yang tidak menyadari hal ini. Logo bir bintang adalah sebuah bintang berwarna merah. Ada yang bisa mengaitkan mereka dengan komunisme?

Karena kita harus mengejar kapal ke Lombok esok paginya, kita memutuskan untuk beranjak pulang setelah waktu menunjukkan jam 12 malam.

Bali memang menyandang julukan Pulau Dewata. Tapi, misi kami adalah mencari tempat dewata yang lainnya. Yang masih belum tersentuh sehingga kedewataannya masih murni dan suci. Akankah Lombok menjanjikan hal yang sama?

Leave a Reply