Karang merekah
Dihajar air membawa kembali kepada pasir
Lalu aku bertanya pada kau
"Jika kita berlari dan terluka, mungkinkah kau berhenti sejenak dan membagi ciuman lekas sembuh?"
Kau hanya bisa meratap
Dan pada kala kita meniti laut
Kita disambut asap yang membawa kita ke langit
Lalu setiap gimbal dan sawo matang menyunggingkan senyum paling ikhlas di dunia fana
Berkata pada langit,
Selamat datang di dunia maya
Listrik yang padam membuat penyejuk ruangan berhenti bekerja. Suasana gerah di dalam kamar sukses membuat gue terbangun dengan perut yang kosong dan hampa. Dalam gelap pun gue berusaha mengambil kembali kesadaran yang menghilang. Menyusuri kembali isi kepala yang sempat pudar karena pengaruh ethanol.
Setelah mengguyur badan dan berkemas-kemas, kami bertiga; gue, Cicak dan Mawar, turun ke lobi hotel. Bak korban busung lapar Ethiopia, kami dengan buasnya mencari tempat untuk bersantap di pagi hari. Dan perlu kalian ketahui, Bubur Ayam Bali adalah salah satu sarapan paling membahana di dalam sejarah peradaban manusia!
Gue bukanlah orang yang paling fancy makan bubur di pagi hari buta ketika gue kelaperan. Gue adalah tipe-tipe orang yang rela berburu jerapah liar dengan tombak hanya untuk memenuhi rasa lapar gue di pagi hari. Tapi, perlu gue akui, bubur ini benar-benar membuat gue percaya bahwa Bali adalah pulau para Dewa! Entah ibu yang jualan bubur itu reinkarnasi Dewi Sinta atau gimana, tetapi bubur itu sukses membuat gue merasa terlahir kembali dalam naungan tangan para Dewa Dewi Olympus.
Jemputan kami datang, siap mengawal detik-detik pertama petualangan kami hari ini. Tujuan pertama kita hari ini adalah sebuah pelabuhan di Padangbai. Dari sana kita akan berlayar langsung menuju Lombok menggunakan sebuah kapal cepat.
Kapal yang kami gunakan adalah sebuah kapal kecil dengan lima mesin pendorong. Dan dari sekitar 25 orang di dalam kapal, hanya kami bertiga yang merupakan penduduk asli Indonesia. Selain para awak kapal tentunya. Dan dari semua turis dalam kapal, sebagian dari mereka mengalami gejala mabok laut. Bersyukurlah mereka, cuaca hari ini cukup cerah dan ombak tidak begitu tinggi.
Perjalanan dari Bali menuju Lombok mungkin terasa membosankan bagi beberapa orang. Tetapi, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka baru saja melewati Wallace Line. Sebuah garis yang membentang dari utara indonesia, yang membagi fauna asiatis di bagian barat dan fauna peralihan di bagian timur. Konon katanya, dahulu di periode glasial, landas benua yang terletak di kedalaman selat Lombok membuat banyak fauna tidak bisa menyebrang.
"Trawangan!" Teriak para awak kapal.
Walaupun tujuan utama kami adalah Lombok, tapi seakan ada satu sihir di pulau ini yang membujuk kami untuk menjejakkan kaki di pantai Gili Trawangan. Seorang penduduk asli melihat kami bersusah payah membawa tas sebesar Menhir dari dalam kapal. Dia menghampiri kami dan berkata: "Cari hotel, bro?"
Kita bertiga melirik satu sama lain, kemudian menolak dengan halus. Tapi, bocah Reggae itu bersikeras membujuk kami. "Ayolah, bro! Seratus ribu semalam! Lengkap dengan extra bed! Boleh dilihat dulu, coy, kalo nggak percaya!"
Entah mungkin dia bagian dari pesona magis yang ada di pulau ini. Walaupun dengan wajah yang lebih mirip ganjelan lemari daripada pegawai hotel, kata-katanya seakan menggoda kami untuk menghabiskan satu malam di kamar hotelnya. *bergetar*
Ohya, karena kemiripan si pegawai hotel ini dengan salah satu teman gue di Melbourne. Gue akan memanggil orang ini dengan nama Kato.
Setelah mengarungi gang-gang sempit, kami tiba di sebuah area berisi empat atau lima bungalow bertingkat. Kato pun mengajak kami menuju bungalow terbesar di area itu. Setelah membuka kunci pintu dan membuka pintu kamar, Kato langsung berkata: "Selamat datang di dunia maya!"
Kamar tersebut terlihat biasa saja. Tetapi, ada sesuatu di balik perkataan Kato barusan yang menarik hasrat dalam hati gue. Kata-katanya barusan bukan bermaksud untuk menjelaskan kamar hotel ini, kata-katanya barusan bermaksud untuk menjelaskan apa yang akan terjadi selama kami tinggal di pulau ini!
Setelah berberes-beres, kami bertiga memutuskan untuk mencari makan siang. Sebelum keluar hotel, indra visual gue cukup jeli untuk menemukan tempat sampah di pojokkan yang tidak penuh dengan sampah, melainkan dengan botol bir. Begitu penuh hingga beberapa belas botol berserakan di sekitarnya.
Udara di pulau ini begitu kental dengan bau laut. Tetapi, ada yang lain di balik itu. Bau keringat yang kental, alkohol dan asap marijuana terkadang menggelitik penciuman, dicampur dengan aroma air kelapa muda dan amisnya ikan segar hasil tangkapan para nelayan.
Kami memutuskan untuk makan nasi campur di sebuah warung kecil beberapa meter dari masjid terbesar di pulau tersebut. Adzan pun berkumandang beberapa saat setelah suapan pertama santap siang kami.
Ironis memang, hampir seratus persen warga Gili Trawangan mendapatkan nafkah dari segi pariwisata. Yang menawarkan segala macam bentuk kesenangan. Dimana dentuman musik Reggae dan Disko memenuhi setiap sudut di malam hari. Tebaklah sendiri, bagaimana sebuah masjid bisa berdiri di sebuah pulau yang memang adalah sebuah Dunia Maya.
Dewa Surya kembali bersembunyi, digantikan oleh Dewi Luna yang menerangi segala sihir di pulau tersebut. Setelah berpesta ikan tuna bakar, kami bertiga kembali ke hotel. Entah hantu apa yang merasuki Mawar dan Cicak sehingga mereka tidak bisa bergerak setelah menyentuh kasur. Dan gue?
Gue duduk santai diluar kamar dengan segelas... air putih. *ehem*
Kemudian Kato muncul tiba-tiba dari kegelapan malam. Rambutnya yang di cat setengah blonde begitu jelas diterangi sang rembulan. Dia pun mengundang gue ke sebuah acara yang berlangsung sepuluh menit lagi. "Bro, ayo ikut ke Reggae Party!"
Tak ada kerjaan sekaligus keingintahuan yang untuk menjelajahi apa yang ada diatas pulau ini memaksa gue membuntuti Kato. Kato memegang sebuah botol setengah kosong yang terus-menerus ia teguk sepanjang jalan. Dari baunya, gue menebak bahwa itu campuran rum dengan Coca Cola, mungkin juga sebuah minuman beretanol tradisional yang belum pernah gue rasakan. Oh tahu apa sih gue, seorang anak rumahan yang baru saja lepas dari kandang?
Kami pun tiba di sebuah venue yang sudah ramai dengan puluhan, atau mungkin ratusan bule-bule berkeringat yang sudah berada diantara awan dengan minuman di tangan. Band malam itu ternyata tak hanya memainkan musik Reggae, tetapi juga sedikit Blues dan Rock. Beberapa tembang seperti Bon Jovi dan Led Zeppelin dimainkan. Tak kalah beberapa lagu lokal dari Steven and the Coconut Treez juga mengalun mengiringi malam.
Gue dan Kato berkenalan dengan beberapa bule asal Australia, Irlandia dan Swedia. Tanpa disadari, walaupun kita dipisahkan dengan jarak, bahasa, warna kulit, tradisi dan tingkat pendidikan, ada beberapa kesamaan yang selalu menyatukan kita: Musik, canda tawa dan alkohol. Well, mungkin yang terakhir bisa diganti.
Sepanjang acara berjalan, ada beberapa bule yang cukup alay untuk memulai perkelahian. Entah mungkin karena 60 persen dari lelaki disana memiliki otot yang gede banget. Well, gede aja sih. Gede banget mah wewe gombel suntik silikon. Tapi, all is well. Dan walaupun faktanya di Gili nggak ada polisi, mereka masih bisa dihalau oleh beberapa pihak berwajib.
Ketika lagu malam itu berubah sendu dan galau, Kato menyenggol gue dan menunjuk kearah seorang wanita yang duduk di pojokan, hanya berdua dengan temannya. Dia terlihat cukup menarik. Cantik, tapi bukan cantik yang superfisial seperti model-model pakaian dalam. Cantiknya adalah tipe-tipe cantik yang bikin lo adem seketika! Dia tampak biasa saja dengan Shell Top berwarna krem dan celana pendek jeans. Rambutnya pirangnya di ikat keatas, memberikan kesan sporty pada wajahnya.
Tetapi, matanya itu lho yang membuat gue penasaran. Matanya itu tajam, dengan warna iris yang terang. Entah itu hijau atau hazel. Mengingatkan gue akan mata yang dimiliki oleh Olivia Wilde. Dia digoda oleh seorang cowok pribumi dengan wajah kusam mirip kerak panci. Gue membiarkan si cowok menggunakan kesempatannya. Gue yakin dia akan gagal. *dikutuk*
Setelah cowok itu pergi meninggalkan sisinya, gue langsung melangkah. Inilah saat yang tepat untuk menguji susuk mutiara emas yang gue pasang waktu gue hijrah ke Boyolali! Dengan modal wajah apa adanya, kaos penuh keringat setelah bergoyang di lantai dansa, gue pun menghampirinya, duduk tepat di depannya dan melihat langsung ke matanya sambil berkata...
Bersambung...