The Faradays

"Bagaimana kalian bisa mengharapkan seorang pria untuk memimpin suatu negara bila mengurus rumahnya saja dirinya tidak bisa?"



Nggak kerasa udah hampir setahun gue tinggal di sebuah rumah mungil yang bernama The Faradays. Susah sih terkadang kalo kita harus tinggal jauh dari keluarga, di negeri yang sudah berbeda bahasa dan tanpa siapa-siapa yang bisa membantu kita dalam mengurus hal-hal kecil dalam kehidupan. Apalagi kalo usia kalian masih antara 18 - 22 tahun. Tapi, sebenernya ini berlaku ke semua orang kok, regardless of their age.

Gue suka iri deh sama kalian yang masih punya mbak dirumah, atau punya seseorang yang bisa mengurus segala kebutuhan kalian disaat kalian sedang sibuk. Gue juga suka iri dengan orang-orang yang bisa aja hidup di tempat yang luar biasa berantakan and feels totally fine with it. Apalagi dengan orang-orang yang memiliki isi dompet lebih tebal daripada biasanya jadi bisa makan diluar setiap saat, laundry setiap saat, nyewa pembantu setiap saat, jadi mereka nggak usah khawatir tentang hal beginian.

Tapi, ada baiknya juga kalo gue memberikan pesan kepada kalian bahwa sebenernya menjalankan kegiatan rumah tangga itu gampang gampang susah

Udah hampir setengah tahun gue berbagi rumah dengan tiga orang wanita, yang tentu saja beruntung sekali bisa serumah sama seseorang seperti gue. LOL. Dan sebagai kepala rumah tangga, tentu saja gue responsible dengan berbagai hal yang menyangkut hajat hidup ketiga wanita ini. Nah, selama waktu inilah gue belajar banyak tentang apa yang dirasakan pembantu dan ibu rumah tangga pada umumnya.

Having a house is totally different than having an apartment. Rumah yang cozy biasanya bakal jadi korban tongkrongan anak-anak kalo lagi jenuh sama kuliah dan kerja. Seru sih kalo rumah lo selalu kedatengan tamu yang berbeda setiap harinya. Karena lo basically bisa melakukan apa saja dirumah lo! Throw a great party at the weekend? BBQ on semester break? Tuesday movie night? Cooking session bareng modusan? Bahkan pengajian malem jumat kliwon pun bisa dilakukan dirumah lo!

But, the perks of having a house also comes with many responsibilities that you have to fulfill. Tentu saja, untuk membuat rumah menjadi sarang aktivitas orang Indonesia se-Melbourne, lo harus tetap menjaga rumah lo bersih dan wangi. Well, nggak usah rapi-rapi amat. Yang penting bersih! Dan lo harus tahu, rumah gue itu kecil lah, paling 5x20 meter lah maksimal. Dan ngebersihin rumah dua lantai sekecil itu aja, to be honest, susah! Plus, lo punya halaman belakang dan depan, yang pasti selalu kotor dengan dedaunan yang rontok!

The best thing you can do, setiap hari adalah setidaknya nggak ada piring kotor yang numpuk di wastafel dapur. Nggak ada abu rokok berserakan di meja dan di lantai. Sofa dan karpet rapi dan bersih, siap untuk dinikmati oleh tamu berikutnya. Lantai nggak lengket dan nggak ada bau-bau aneh karena berbagai macam substance yang ada di rumah lo.


Selain itu, of course, ada hal-hal kecil lainnya yang mesti lo perhatikan. Seperti nyuci, jemur dan nyetrika baju lo sendiri. Masak hal-hal aneh semampunya lo bisa demi mengisi perut, karena makan di restoran Melbourne is just pretty damn expensive! Terus nanti akan ada housemate lo yang komplain karena keberisikan di tengah malem, ada juga yang nginep dan ga balik-balik lagi. Entah karena benci ama gue atau sibuk dengan pacar sendiri.

Terus ada juga tagihan kontrakan, tagihan listrik, tagihan air, tagihan gas, tagihan telepon dan tagihan internet, diluar tagihan pulsa bulanan lo, yang harus lo bayar tepat waktu, kalo engga LO KENA DENDA! Biasanya suka ada drama nih! Kadang ada yang bokek gapunya duit karena mamanya lupa transfer, kadang ada yang udah punya duit tapi dianya sendiri lupa transfer, kadang ada yang udah transfer tapi nyampenya seabad kemudian gara-gara beda bank, kadang duitnya udah kekumpul, tapi gue sendiri lupa transfer ke company-nya. #life #curcol #SandiwaraDuniaNyata

Lalu, ketika lo sedang menikmati keseharian lo yang normal dan biasa aja, kadang suka ada drama tambahan. Misal lagi mandi, tiba-tiba sabun abis. Lagi mau masak, udah motong-motong sayur dan daging, tiba-tiba minyak abis. Lagi mau nyuci, udah nggak ada baju dan celana dalem lagi nih buat besok, tiba-tiba kotak deterjen kosong. Seakan ada tuyul yang bersembunyi di rumah lo, yang hobinya ngabisin apapun yang lo butuhkan saat itu.

But anyway, punya rumah itu mengajarkan lo banyak hal yang nggak pernah lo pelajari sebelumnya. Seperti komitmen, tanggung jawab, disiplin, kesabaran dan lapang dada karena tiba-tiba semua cookies dan chips lo abis tanpa tahu siapa pencurinya! Lo juga sedikit banyak belajar tentang hospitality karena banyaknya tamu yang harus lo puaskan, orang-orang yang harus lo masakin dan kasih makan, serta menambah lingkaran sosial dan network, contohnya: Rio Dewanto kerumah gue.


Tapi, diluar itu semua, gue belajar tentang rasa memiliki dan kekeluargaan. Akhirnya, gue bisa punya sebuah tempat dimana gue bisa meletakkan hati gue disitu. Gue juga belajar bahwa pertemanan itu harus diuji dengan segala hal baik maupun buruk, dan lo harus siap bahu-membahu ketika ada masalah dihadapan kalian, bukan saling menyalahkan dan membenci satu sama lain. In the end, gue juga belajar banyak hal dari semua orang yang pernah datang dan duduk di meja diatas, obrolan-obrolan seru yang seakan tak pernah berakhir, serta pemikiran-pemikiran abstrak yang terlalu indah untuk diucapkan. Semuanya, ada di The Faradays.

"Ren, tolong restart-in modemnya dong! Laptop gue ga bisa konek ke internet!" #life

Leave a Reply