Vanilla

Buat teman gue tercinta, Ayu, suara Michael Buble itu lacks of character. Dia berkata, "He's good, I must admit. But, he's just good. That's all. He has nothing more to offer. He's almost like vanilla."



Sering kali kita menemukan manusia-manusia yang memiliki talenta atau keahlian khusus dalam sebuah bidang. Orang-orang ini terkadang terlihat begitu istimewa di mata kita. Coba deh, pasti kita sering kali jatuh hati kepada seseorang yang sangat jago bermain alat musik; cowok-cowok yang main saxophone, cewek-cewek yang bersuara indah. Atau lebih mudahnya, kita sering mendamba-dambakan punya pacar seorang aktor atau aktris. Ada juga yang bisa jatuh cinta kepada cowok-cowok yang memiliki ukuran otot diatas rata-rata, dan cewek-cewek yang memiliki lingkar dada lebih lebar dari biasanya. Lebih spesifik lagi, banyak diantara kita yang luar biasa rajin di sekolah atau kuliah, sering mendapatkan nilai bagus dan selalu menjadi yang paling pintar di kumpulan kita. 

Tapi, terkadang keahlian mereka hanyalah satu-satunya yang mereka miliki. Dan hanya satu hal itulah yang bisa mereka offer kepada orang lain. Terkadang, satu hal itu yang membuat diri mereka kurang memiliki karakter di mata kita.


Maksudnya apa sih? Well, lo pasti pernah merasakan, atu mungkin tidak menyadarinya, bahwa ada beberapa orang-orang yang seperti ini kadang tidak memiliki hal istimewa lainnya selain keahlian mereka. Contohnya, banyak artis yang sebenarnya hanya manusia yang tidak terlalu istimewa, atau biasa-biasa aja dalam kehidupan sehari-hari mereka. Terkadang bahkan kita bisa dibuat terkejut mengapa seseorang seperti mereka bisa menjadi artis. 

Atau mungkin kalian pernah ngerasain yang seperti ini: banyak deh temen kita yang smart, but they don't have anything more to offer than just being smart. Selain pintar di pelajaran, kita nggak terlalu enjoy jalan bareng mereka, atau mungkin obrolan-obrolan kalian dengan mereka itu nggak pernah serius. Dan mereka hanya menjadi seseorang yang pintar saja, tanpa bisa yang lain lagi.

Contoh yang lain lagi: pasti ada temen kalian yang foto instagram-nya isinya tempat-tempat bagus, makanan enak yang enak, wajah yang cantik dan badan yang kekar. Kalian pun bisa bilang bahwa dia itu tipe cewek/cowok yang perfect banget, since they just tick every box you have in your 'perfect boyfriend/girlfriend' list. Yet, you're not attracted to them.

Seperti es krim vanilla, manusia-manusia ini memiliki rasa yang begitu nikmat dan jelas di lidah kita. Kita semua tahu rasanya es krim vanilla, dan kita semua tahu bahwa es krim vanilla itu pasti enak. Tapi, ketika kita ke toko es krim, kita nggak mau beli vanilla lagi. Kita pasti pengen nyobain rasa yang lain, because they give us different flavors. And vanilla, no matter how good it is, is just... meh.


Sejauh apapun kita mencari, kita pun tak akan berakhir dengan seseorang yang kita pikir paling perfect. Dan makin jauh kita mencari, kita akan sadar bahwa ide kita tentang pasangan yang perfect akan berubah dari sesuatu yang sangat superfisial, menjadi sesuatu yang begitu simpel, seperti karakter.

Look, you won't marry a Victoria's Secret model just because they're beautiful. Karena bukan kecantikan yang sebenarnya lo cari, dan kecantikan nggak akan memberikan lo apa-apa selain kebanggaan di depan temen-temen lo dan tagihan kartu kredit yang lebih mahal.

You'll realize that perfection, just like vanilla, has nothing more to offer. I mean, what can you offer that is more than perfect? Seperti main game pake cheat, tantangannya dimana? Semua jadi terlalu datar bila kita sudah menemukan perfection.

Kadang, jatuh cinta dengan imperfection itu lebih nikmat. Karena mereka masih bisa memberikan sesuati yang lebih dari yang kita bayangkan. Dan seperti rasa es krim selain vanilla, kita bisa menilai sendiri enak atau tidaknya rasa yang mereka berikan. And in the end, kita akan berakhir dengan seseorang yang memiliki karakter lebih menarik daripada mereka yang memiliki rasa vanilla.


Jadi, bagi kalian yang masih memiliki tipe khusus dalam mencari pasangan, sadarilah bahwa bukan perfection yang kalian cari. 

Dan bagi kalian yang selalu berusaha menjadi seseorang yang perfect, sadarilah bahwa bukan itu yang bisa dinikmati oleh orang lain, tetapi bagaimana karakter kalian when you spend your time with them.



Gue bisa mati ditempat kalo ngeliat cewek dengan muka bidadari langit ketujuh, tapi bahkan kecantikan bidadari ketujuh nggak bisa memberikan kesenangan yang sama dengan ngobrol bersama wanita yang bisa membuat gue duduk berjam-jam sampe cafe-nya tutup dan mas-masnya ngusir kita pergi. Buat gue, wanita yang bisa menyentuh hati gue itu lebih worth it daripada wanita yang menyentuh titit gue.

Leave a Reply