Selamat Ulang Tahun, Bunda

Malam mendatanginya dalam mimpi.
Malam yang gelisah, mengajaknya
Menunggangi rumah masa kecil.
Terbawa pula perdu, rumputan padang
pohon akasia. Juga burung dan kupu
yang bergerak selalu, mengantarnya
ke barat. Ke kampung asal.
Malam yang penuh pengertian itu
menggiring mimpinya, renta dalam duka
menjenguk masa lalu.

- Cyprianus Bitin Berek




Raksa melihat keluar jendela. Langit Jakarta pada malam itu mendung, meneteskan air hujan perlahan-lahan. Lebih dari dua puluh jam dan enam belas ribu kilometer telah dilalui Raksa untuk kembali pulang. Enam tahun. Enam tahun sejak terakhir kali ia melihat tugu monas, patung selamat datang dan banjir di depan rumah setiap musim penghujan. Enam tahun, dia sibuk mencari nafkah di The Big Apple, hingga akhirnya ia berpikir bahwa sudah saatnya untuk mengunjungi rumah.

Badan kapal udara perlahan merendah, menyusuri pinggiran pantai, bersiap mendarat di landasan tua Soekarno-Hatta. Hingga saat roda menyentuh tanah, akhirnya Raksa resmi mendarat di negerinya sendiri. Setelah keluar dari pesawat, melewati imigrasi dan mengambil bagasi, Raksa keluar dari area terminal. Dia tidak berharap untuk dijemput siapa-siapa, tapi setidaknya ada satu orang yang ingat akan kedatangannya. Wajah yang begitu familiar di matanya, walau sudah bertahun-tahun ia tak pernah melihatnya. Wajah yang kini diisi keriput kehidupan dan dihiasi rambut yang mulai memutih.

"Bunda."

"Oh, Raksa anakku."

Setelah enam tahun tidak pernah berjumpa, wajar bila seorang ibu memeluk anak laki-laki satu-satunya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di dada anaknya yang keras sambil menitikkan satu atau dua tetes air mata. Pelukan itu bertahan beberapa menit, hingga mereka sadar bahwa mereka menghalangi jalan. Raksa dan bundanya langsung berjalan menuju parkiran.

"Hujan, bun."

"Tenang. Bunda bawa payung kok."

Memang, seorang ibu harus selalu siap di depan anaknya. Ibu yang hebat adalah yang selalu bisa menjadi andalan anaknya dalam melakukan sesuatu sesederhana apapun itu, seperti mencarikan barang yang hilang, membalut luka atau minta sarapan di pagi hari.

Raksa dan bunda berjalan berdua dibawah satu payung. Sesampainya di mobil, Raksa tertegun ibunya masih memakai mobil yang sama sejak pertama kali Raksa pulang ke Indonesia. Mobil sedan abu-abu buatan Jepang yang sudah cukup tua. Dan dikemudikan oleh wanita yang juga tak kalah tua. Sejak muda, ibunda Raksa selalu menyetir sendiri. Hingga kini di usianya yang sudah lewat setengah abad pun tetap ia menolak dicarikan sopir.

Jalan keluar dari area bandara malam itu cukup sepi, mengingat sudah hampir jam 12 malam. Beberapa mobil terlihat berjalan perlahan karena licinnya jalanan pada malam itu. Radio pun hanya memainkan lagu-lagu mellow lokal yang terdengar begitu asing di telinga Raksa. Bunda sibuk memperhatikan jalan yang berkabut, sementara Raksa hanya melihat papan-papan iklan yang berjejer dari balik kaca mobil.

"Gimana kerjaanmu?"

"Ya begitulah."

Sifat Raksa yang begitu dingin dan penyendiri membuatnya tak pernah berbicara lebih dari beberapa kalimat. Kecuali bila berhubungan dengan ekonomi dan keuangan, dimana dia bisa berjam-jam menjelaskan presentasi tentang capital asset pricing model.

"Kamu mau makan apa?"

"Aku nggak laper, bun."

Bunda hanya tersenyum. Begitu rindunya dia akan kehadiran putranya disisinya. Wajahnya. Matanya. Suaranya yang begitu berat. Dan lesung pipit yang ada di pipi kirinya yang selalu terlihat ketika ia tersenyum. Tapi, Raksa jarang tersenyum. Entah kapan terakhir kali bunda melihat lesung pipitnya yang terukir manis ketika anaknya menyunggingkan sebuah senyuman. Hanya di dalam foto yang tersimpan di album yang berdebu diantara ratusan buku di rak paling ujung rumah.

Raksa hanya melihat keluar kaca. Betapa jalanan ini terlihat begitu familiar. Gedung-gedung ini. Suasana ini. Hingga tukang nasi goreng langganannya yang masih berjualan di depan komplek rumahnya. Raksa tahu betul jalanan ini yang menjadi saksi ia tumbuh dewasa. Aspal ini yang mengukir luka di lututnya ketika ia jatuh. Dan akhirnya dia melihat rumah kecil diujung jalan. Raksa turun dari mobil. Memperhatikan. Pagar hitam yang telah berkarat. Cat tembok yang terkelupas. Pintu kayu yang berderit menggesek lantai bila digerakkan. Rumah ini tempat semua mimpinya berasal.




Raksa dipaksa bosnya untuk mengambil cuti karena dia sudah bekerja terlalu lama tanpa pernah mengambil jatah liburannya. Dia menghabiskannya selama dua minggu berada di Jakarta. Kesehariannya selama di Jakarta hanya berpergian mengunjungi sahabat-sahabat lama dan beberapa saudara yang lama tak dijumpainya. Selain itu, ia selalu sibuk sendiri dan jarang sekali tinggal dirumah hanya untuk bercakap-cakap dengan ibunya. Kalaupun ia ada waktu, ia akan masuk ke kamarnya yang lama dan entah melakukan apa.

Walau merasa ditinggalkan, ibunda Raksa tetap merasa senang. Setidaknya ia ada dirumah sekarang, itu yang selalu beliau pikirkan walau anaknya hanya berdiam diri dikamar. Raksa begitu bisu, tuli, sibuk dengan dunianya sendiri. Tak pernah ia memberi perhatian kepada orang lain, bahkan kepada orang-orang terdekatnya sendiri. Kesibukannya membuat ia mudah menaiki tangga jabatan di dalam kariernya. Tapi, dia lupa akan sesuatu yang sederhana. Dan sesuatu itu terjadi tepat ketika dia berlibur ke Jakarta.

Seperti biasa, Raksa baru pulang dari seharian berkumpul dengan kawan-kawannya di bar paling elit di ibukota. Begitu masuk rumah, Raksa langsung duduk di meja makan, fokus melihat layar telepon genggamnya. Bunda yang mendengar langkahnya langsung keluar dari kamar.

"Raksa. Kamu capek?"

"Enggak, bunda."

"Mau bunda bikinin teh?"

"Nggak usah, bunda. Makasih."

Bunda hanya melihat anaknya. Pandangan Raksa bahkan tak pernah pindah dari layar telepon genggamnya. Bunda kemudian ikut duduk di meja makan.

"Raksa. Kamu inget nggak, hari ini ulang tahun bunda?"

Raksa terkejut dalam hati, tapi ia tidak memberi ekspresi apa-apa. Dengan cepat ia membuka kalender di telepon genggamnya. 22 Januari. Ini benar-benar hari ulang tahun ibunya.

"Bunda ulang tahun ke enam puluh lima lho."

Raksa tetap diam. Kali ini ia melihat kearah wajah bundanya, menyadari bahwa wanita itu memang terlihat lebih tua daripada biasanya.

"Tadinya bunda seneng banget kamu milih liburan minggu-minggu ini. Berarti kita kan bisa makan bareng waktu bunda ulang tahun. Eh, malah kamu nggak inget."

Bunda kemudian berdiri dan masuk kedalam kamar.




Keesokan malam, seperti biasa Raksa baru saja pulang dari sebuah reuni kecil-kecilan SMA. Entah kenapa dia memikirkan ucapan bundanya kemarin. Ia sadar bahwa ia begitu tidak acuh terhadap ibunya sendiri. Ibunya satu-satunya. Yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya walaupun harus lewat telepon walau sering berakhir putus-putus. Raksa ingin meminta maaf dan mengekspresikan rasa sayangnya kepada ibunya. Tapi, ia tak bisa mengatakannya secara gamblang. Hatinya terlalu dingin untuk mengatakan kata-kata itu didepan ibunya dengan mudah.

Raksa kemudian melewati sebuah toko roti. Dia memutuskan untuk mampir sebentar dan membeli sebuah kue ulang tahun untuknya. Raksa memilih sebuah kue tart cokelat sederhana dengan tulisan Happy Birthday. Ia juga membeli beberapa lilin dan sebuah kartu ucapan. Setidaknya ia menuliskan kata-kata di dalam kartu tersebut yang malu ia ucapkan secara langsung di depan ibundanya.




Air hujan turun deras menghantam atap rumah. Gemuruh petir membahana bersautan. Bunda berdiri di depan teras rumah, menggenggam telepon di tangan kanannya. Wajahnya nampak cemas. Raksa belum pulang hingga jam 2 dini hari. Bunda mencoba menelpon Raksa berkali-kali, tetapi selalu keluar nada sibuk. Bunda kemudian tersenyum kecil dan masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu.

Semoga Raksa baik-baik saja...






Beberapa menit sebelum subuh, telepon rumah berdering. Bunda terbangun dari ranjangnya dan langsung keluar kamar untuk mengangkat telepon.

"Halo...?"

Diantara suara rintik hujan yang turun, bunda mendengarkan telepon dengan seksama. Entah siapa yang berani menelpon sepagi ini. Tapi, siapapun itu, dia sudah berhasil membuat raut wajah bunda berubah. Hanya dalam beberapa detik, wajah bunda berubah histeris. Tangan kirinya menutup mulutnya, matanya tiba-tiba berair dan bunda langsung jatuh berlutut ke lantai. Isak tangisnya begitu dalam, tak terdengar diantara kencangnya angin dan hujan yang makin deras. Pikirannya kacau balau, tak tahu harus melakukan apa. Hingga fajar menyingsing, Bunda hanya bersujud menangis diatas lantai yang dingin.




Bunda akhirnya sampai dirumah sakit. Dia masih menangis di dalam mobil. Kepalanya tersandar di depan stir mobil, tangannya gemetar dan hatinya masih tak belum siap untuk turun dari mobil dan menghadapi kenyataan yang terkadang begitu pilu. Tapi, kenyataan memang harus dihadapi dengan tegar, semanis atau sepahit apapun itu.

Bunda memberanikan diri. Ia menghapus air matanya kemudian turun dari mobil. Ia berjalan dengan tenang, atau berusaha tenang. Hingga ia masuk kedalam gedung rumah sakit. Suasana rumah sakit kala itu begitu berbeda; dingin dan sedih, suram dan kelabu. Bunda pun naik ke lantai 2, bagian gawat darurat, dan langsung menuju kamar yang telah disediakan. Dokter sudah berdiri di depan pintu kamar.

"Maaf, orang tua Raksa?"

"Iya, dok."

"Kami sudah berusaha. Situasinya tak terkendali, bahkan sebelum Raksa sampai ke rumah sakit..."

"Sudah, dok." Air mata Bunda kembali menetes, "Saya mau lihat anak saya sendiri."

Dokter mengerti. Dia menuntun bunda masuk kedalam kamar. Disanalah, Raksa terbaring tak bernyawa.


Kesedihan melanda begitu hebat, hingga tangis tak lagi bersuara. Bunda memeluk tubuh Raksa yang dipenuhi luka. Tangannya membelai lembut wajah Raksa yang berlumur darah, kepalanya yang tersayat dalam, matanya yang lebam dan bibirnya yang robek memperlihatkan beberapa giginya yang masih tersisa.

Dokter memegang bahu bunda dengan perlahan.

"Ibu, kami menemukan ini di dalam mobil."

Bunda memalingkan wajahnya yang penuh air mata. Seorang suster membawa sebuah kue cokelat dengan lilin diatasnya. Kue yang bertuliskan Happy Birthday.

"Entah ini keajaiban atau apa, tapi kue ini hampir tak tersentuh walaupun mobil Raksa hancur lebur."

Tangis bunda makin menjadi-jadi.

"Ibu, kami juga menemukan ini."

Dokter memberikan sebuah kartu ucapan kepada bunda. Kartu ucapan yang tenoda dengan beberapa tetes darah. Bunda membukanya. Ia mulai membaca.


Bunda,

Maaf ya, aku telat ngucapin. Tapi, aku cuma ingin bunda senang kok. 
Jadi, selamat ulang tahun yang ke-65 ya, bunda.
Di umur bunda yang ke-65, sebenarnya nggak ada lagi yang bisa Raksa ucapkan karena bunda sudah melewati hampir segala fase kehidupan.
Tapi, Raksa selalu berdoa agar bunda panjang umur, karena sebentar lagi Raksa akan menikah dan Raksa mau bunda ada untuk melihatnya.
Raksa juga ingin bunda dianugerahi kesehatan, karena Raksa ingin anak-anak Raksa melihat betapa hebatnya nenek mereka.
Dan semoga bunda masih tetap bisa berdansa disko, memasak rendang dan bernyanyi keroncong.
Karena hal-hal sederhana itulah yang mengingatkan dan membuat Raksa senang walaupun Raksa jauh dari bunda.

Ini kue ulang tahun dari Raksa. Mungkin nggak sesuai harapan bunda, tapi kita nikmati saja bersama-sama.
Dan apapun yang terjadi, ingatlah bahwa semua ibu adalah yang terbaik bagi anaknya.
Dan bunda adalah yang terbaik bagi Raksa. Ingatlah kita saling memiliki walaupun kita jauh.
Dan untuk terakhir kalinya, aku ingin bunda tahu bahwa Raksa sayang banget sama bunda.

So, selamat ulang tahun ke-65, bunda!
Hope you can have the biggest smile in your lifetime this year!

Love,
Raksa







Posting ini saya dedikasikan kepada mama saya yang baru saja berulang tahun ke-50. Maaf ya, mom, udah lupa sama hari ulang tahunnya. Semoga apapun yang mama inginkan ketika mama tiup lilin ulang tahun bisa menjadi kenyataan. Amin!

Nah, sudahkah kalian mengatakan kata sayang kepada ibu kalian?
Jangan sampai kalian telat mengatakannnya!
Mungkin bukan waktunya yang habis duluan, tapi waktu kalian yang habis duluan...

Keseharian di Jakarta

Setelah satu setengah bulan berkelana sendirian di belantara hutan konkrit Jakarta, gue menyadari betapa banyaknya kejadian dan makhluk unik yang ada di kota Jakarta.

Jakarta itu tempatnya pengemis kaya, preman bersamurai, mafia cap tiga jari, koruptor berjilbab hingga tempat bersemayam rintihan kuntilanak perawan dan sarang babi transgender.

Untuk itu, perlu sedikit gue ulaskan beberapa keseharian Jakarta yang gue temukan.
Walau biasa, terkadang lucu aja kalo lo membayangkan hal yang seperti ini!


Jakarta, dimana perkumuhan bertemu pencakar langit



Suatu hari di Senayan City



Terdengar suara seorang bapak sedang menelpon di belakang gue.
"Jam rolex emas-emas itu ada kan? Nah, itu buat pak Kapolda aja! Pak Brigjen nanti gampang lah!"
*pura-pura nggak tau* *balik ngepel* 


Suatu petang di dalam taksi



Si sopir bertanya, "Mas jauh-jauh dari Australi nggak nyari barang lokal mas?"
*cukup tertarik*

"Maksudnya, pak?" gue balik tanya.
"Dari ekspresi wajah mas, sepertinya mas ini butuh sentuhan-sentuhan"

Yeee kacrut minta dipenggal! Lo sopir taksi apa preman taman lawang deh, menawarkan sentuhan-sentuhan berkualitas!?

Gue bales aja, "Sentuhan apa nih, pak?"
"Yah, deket-deket sini ada hotel bagus. Mas pesen kamar aja. Nanti ayam-nya saya cariin." Jawab si sopir.

Ini semacam ritual baru di kalangan remaja Jakarta mungkin yah. Gue disuruh satu kamar sama ayam tuh maksudnya apa?

"Eh, ayam apaan nih, pak?"
"Ya mau yang mana mas tipenya?" Si sopir berkata dengan gagah berani, "Mau dada atau paha?"
Gue sih suka paha besar kalo makan ayam. 
"Paha aja deh pak!"
Si sopir taksi mengeluarkan hapenya dan membuka galeri foto.

"Nah sekarang, mau Jawa, Sunda, Bali, Manado apa Cina?"
Si sopir taksi kemudian memberikan hapenya ke gue.
Mati rasa......

"Kalo mau yang interlokal juga banyak, mas! Ada Malaysia, Thailand, Korea sampe blonde-blonde Uzbekistan saya juga ada!"
*menikmati di pojokan* *tumpeh-tumpeh*


Suatu pagi ketika nemenin mama belanja



"Kamu kapan mau nikah?" tanya mama.
Waspadalah bila kalian sudah mulai masuk umur 20-an, pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan sering muncul.
"Ntar aja umur 30-an." Jawab gue polos.

"Masya Allah!" 
Nyokap gue kagetnya lebay kaya liat anak kambing diperkosa ama om-om beruang.
"Mama kan pengen cepet-cepet punya momongan."

Gue berkata polos.
"Pinjem aja punya tetangga."
*dikutuk*


Suatu hari yang mendung di Sudirman



Hujan turun agak deres. Tapi, nggak deres-deres amat. Kayak kalo lo lagi kencing, udah selesai nyembur paling kenceng terus mulai menurun, tapi belom mau selesai. Nah segitu tuh deresnya!
Dan gue baru tahu penyebab sindrom galau adalah semua radio itu memainkan lagu galau ketika hujan turun!

Penyiar radio sok-sok ramah, padahal ngejar setoran biar bisa libur tahun baru.
"Inilah lagu yang akan menemani sore kalian yang cukup galau karena gerimis hujan. Sebuah lagu dari Afgan yang berjudul Jodoh Pasti Ber....."

Ganti radio. Lagi gamau galau-galau.

Hanya engkau mantan terindah....
Yeee tapir sunat... Mantan aja gapunya, elo nyanyi-nyanyi! Ganti Radio.

Lumpuhkanlah ingatanku....
Demi daki kuda liar dan darah pocong perjaka! Lagunya kenapa galau semua!? Ganti Radio.

If our love is tragedy, why are you my remedy.
Nah begini kan asik.
If our love insanity why are you my clarity... ty... ty... ty...
Aih... Abis...

"Lagu berikutnya adalah dari Maudy Ayunda yang berjudul Tahu Diri!"
Ganti Radio, berharap untuk terakhir kalinya nggak lagi lagu galau.

Jodoh pasti bertemu.......
*kayang*


Suatu sore di salah satu kedai kopi hipster



Tak sengaja menguping pembicaraan wanita-wanita Jakarta.

"Woohoo... Kemaren gue ke DWP dong! Pecah banget!"
"Apanya yang pecah banget? Acaranya apa silikon lo?"

Makin serius menguping.

"Baru aja kemaren gue beli ini di Marc Jacobs! Lucu kan?"
"Ini juga oke kan. Tau nggak apa? Bottega!"

Beberapa menit kemudian.

"Eh, lo besok ulang tahun ke berapa?"
"Tujuh belas dong! Iiiihhhh... Masa lo lupa sih?"

Entah kenapa, di akhir zaman ini, gue nggak bisa bedain anak bocah usia 17 tahun sama emak-emak usia 30 tahun.


Suatu malam di rumah



Gue duduk di sofa, kaki keatas. Pake boxer sepaha dan kaos ketat, lengan pendek, v neck, warna hijau terang benderang kaya rumput surga.
Gue nonton Asia's Next Top Model.
Rambut gue baru potong model cepak-cepak tentara Somalia.

Nyokap keluar kamar. Liat gue. Diem sebentar. Lalu jalan ke dapur.

Beberapa menit kemudian, pada saat gue mau ambil minum di dapur. Gue papasan ama nyokap.
"Nak, kamu nggak gay kan?"
Dengan muka pasrah siap menerima kenyataan pahit....


Suatu hari di Plaza Indonesia



Bapak-bapak tua, kemejaan, pendek, buncit, muka onta India salah satu pandangan paling nggak menggairahkan yang bisa lo lihat seharian.
Tapi, lo tau nggak dia gandeng apa? Bidadari surga, bergaun merah pendek sepaha, stiletto merah, tas kulit merah, rambut panjang agak kecokelatan.

"Kamu mau masuk sini?" Tanya bapak itu kepada bidadari surga sambil menunjuk ke salah satu toko mewah yang gue aja nggak berani masuk kecuali gue menang Eat Bulaga.

Beberapa menit kemudian. Si bidadari keluar lagi sama bapak tua tersebut.
Si bidadari membawa tas berisi benda entah berapa puluh juta rupiah.
Dan sebagai tanda terima kasih, si bidadari memberikan kecupan hangat di pipi bapak itu.

Dari sejak itu, gue percaya 'Beauty and the Beast' itu terjadi di dunia nyata.
Bidadari aja bisa jatuh cinta ama siluman dugong muka onta...


Suatu malam pukul 21.00 di depan TV



SIAPAPUN YANG BIKIN ACARA DIATAS PENGEN GUE SEMBAH!!!!

Setelah Tersanjung, Cinta Fitri, Angling Dharma dan Eat Bulaga, YKS adalah salah satu acara yang membuat gue kembali memiliki harapan terhadap generasi penerus bangsa! Lanjutkan!


Suatu hari di belokan Ciledug



Siap-siap nyetir mobil mau belok ke kiri, mau masuk ke gang...
JEDAAAAARRRR.....

BABI NGEPOT, KAMBING MENYUBLIM, BERUANG DURHAKA, KETOMBE KUMIS HITLER, KUTIL SELANGKANGAN CICI PARAMIDA!

Nggak ada makian paling tepat yang bisa mengungkapkan kemarahan gue ketika mobil gue ditabrak remaja labil yang mau malem mingguan bawa motor.
Gue keluar langsung bawa tombak, pedang, panah, pisau kecil, perisai besi, keris empu gandring dan senapan Napoleon! Siap berburu raksasa dan membunuh naga berapi!

Dan dari hari itulah, gue menyadari betapa banyaknya pengendara motor yang menghargai nyawanya dengan sangat murah.
Tak ada sim, tak pakai helm, tak cukup umur, tak tahu peraturan dan tak tahu kalo ada orang aborigin ditabrak, mereka bisa menyatakan perang secara langsung...


Suatu hari, beberapa ratus meter dari bundaran HI



Tit tut tit tut tit tut tit tut....
Ini apasih, polisi sok-sok mau lewat, udah tau jalanan macet kaga bisa ngantri!
Tit tut tit tut tit tut tit tut....
Semua mobil minggir dari jalur kanan, cuma mobil gue doang yang masih disitu.
Tiba-tiba, kaca gue diketok sama polisi bermotor
"Minggir, pak!"

Gue pun minggir.

Baru kali ini gue ngeliat ada iring-iringan mobil sebanyak ini.
Dalem hati gue, "Ini pasti Kim Jong Un lagi berkunjung!"

Tiba-tiba gue liat spion.
Mobil Mercedes hitam dengan plat nomer 'RI 1'

Gue kesel. Di laci mobil gue ada pistol air. Terisi penuh.
Asik kayaknya nembak mobil presiden dan masuk berita.

Berniat untuk membunuh, gue membuka kaca.

Mobil presiden tepat tiga meter disamping mobil gue.....


Dan gue melambaikan tangan. *antiklimaks*

Gue berpikir dalam hati, "Belum saatnya..."
*tersenyum licik*





Sebenarnya masih banyak cerita unik yang gue temukan di Jakarta, tapi beberapa diantaranya tidak lulus sensor untuk dimasukkan kedalam blog ini.

Dan itulah beberapa keunikan Jakarta yang nggak akan bisa gue temukan di Melbourne.
Keunikan itulah yang membuat gue suka hidup diantara makhluk-makhluk aneh bin ajaib, di belantara hutan yang begitu liar.

Jangan pernah berubah Jakarta. Aku akan kembali.


Looking Back at the Beginning

Annoucement: Posting ini adalah bagian kedua dari dua posting spesial merayakan tahun baru. Sebelum kalian mulai membaca posting ini, ada baiknya kalian membaca posting yang sebelumnya. Dan walaupun keduanya tidak closely related, layaknya total hasil panen temulawak di Kabupaten Pacitan dengan jumlah pendaftar Pesantren Perompak Muda di Somalia, posting sebelumnya bisa memberikan inspirasi bagi kalian untuk melewati tahun baru! Cheers and enjoy 2014!





So, gimana nih malam tahun baruan kalian? Apakah menyenangkan? Membosankan? Takkan pernah terlupakan? Atau malah menyedihkan? Yah, bagaimanapun kalian menghabiskannya, it's over. Dan sekarang, tahun 2014 resmi berjalan! *bakar kalender*

Sekedar fun fact: Kalian sadar nggak sih bahwa malam tahun baru itu jarang sekali hujan? Percaya atau tidak, ketika detik-detik menjelang dan sesudah pukul 00.00, Tlaloc, sang Dewa hujan suku Aztec, biasanya memberi berkah dengan tidak menurunkan air dari langit dan membiarkan kita perang kembang api. Biasanya, hujan itu turun beberapa jam sebelum dan sesudah pergantian tahun! Nggak percaya? Coba kalian inget-inget kapan terakhir kali kalian nggak main kembang api gara-gara hujan deres? *ternyata ada* *dilempar tembikar*

Oke, kembali ke cerita! Sebenernya menurut gue, bahwasanya perayaan tahun baru ialah sekedar euforia sesaat yang dimaksudkan untuk memberi kepuasan batin bagi naluri hati manusia!

"Eh, kentut cumi! Ngomong ape sih lo!?" Dimarahin tetangga.

Sapi ngesot! Kutuk juga nih jadi lendir onta! *nyalain dupa*

Anyway, kalo kalian bayangkan, malam tahun baru itu cuma sekedar peristiwa kecil dimana bumi telah selesai mengelilingi matahari, salah satu bintang diantara lautan bintang-bintang yang ada di galaksi Bimasakti, dan tampak lebih kecil dan sangat tidak berarti bila dibandingkan dengan luas alam semesta ini yang entah besarnya siapa yang tahu!

Bicara soal alam semesta, ada sebuah paradox yang mungkin agak menyinggung kalian yang cukup beriman, yang berupa pertanyaan seperti ini: "Jika Tuhan itu Maha Kuasa dan bisa menciptakan segalanya, bisakah Tuhan membuat sebuah benda yang begitu berat hingga Tuhan sendiri tidak bisa mengangkatnya?" *tssssaaaahhhh....*


Moving on, sering sekali kita bersibuk-sibukkan dengan perayaan tahun baru. Dan tentu saja, apa sih yang lebih seru daripada membuat resolusi tahun baru dan mengharapkan tahun 2014 bisa menjadi tahun yang lebih baik?

Tapi, pernahkah kalian melempar memori kalian ke malam setahun yang lalu, dan mengingat resolusi-resolusi tahun baru yang pernah kalian buat? Dan mulai membuat daftar, mana yang berhasil kalian penuhi dan mana yang tidak?

Bila tidak, SELAMAT! Kalian termasuk dari lebih dari 6 milyar orang yang tidak melakukan hal tersebut! Gue aja nggak inget gue bikin resolusi apa tahun kemaren!

Nah, sebelum kalian membuat resolusi tahun baru kalian sendiri, mari gue bantu menyegarkan ingatan kalian dengan beberapa hal yang telah kalian lakukan di tahun lalu! Supaya lebih mudah bagi kalian untuk membuat resolusi di tahun yang baru ini!

Mari kita mulai dengan beberapa hal-hal kecil!


Ada yang ingat, berapa hal baru yang kalian temukan di tahun lalu?



Dimulai dengan hal-hal sederhana seperti menemukan hobi baru? Barang koleksi yang baru? Menemukan nama negara baru yang tak pernah kalian sangka ada seperti Burundi, Djibouti dan Kiribati? Atau mungkin beberapa dari kalian berkesempatan untuk pergi ke tempat-tempat yang baru, mencoba makanan dan minuman yang baru?

Mobil baru? Sepatu baru? Tempat es krim favorit baru? Lagu baru yang selalu menjadi lagu pertama yang kalian mainkan di pagi hari? Mantera santet baru? Apapun deh yang baru yang dapat mewarnai hidup kalian walaupun cuma sepersekian detik! Setidaknya, kalian pernah bahagia kan di tahun 2013?


Dan beberapa dari hal baru itu adalah hal yang ingin kalian kuasai sejak lama? 



Nggak usah terlalu fancy, mulai dari sukses memasak sesuatu yang rumit tanpa bantuan orang lain, atau berhasil mengutak-atik kendaraan atau sebuah program di komputer kalian! Keseringan dengerin Calvin Harris dan David Guetta juga memaksa kalian untuk belajar nge-DJ! Atau mungkin hanya sekedar ingin belajar lebih dalam tentang sejarah Kesultanan Warsangali di Somalia kuno?

Sesuatu yang membuat kalian merasa lebih jago daripada orang lain walaupun cuma sedikit! Dan ketika ditanya, kalian bisa dengan bangga menjawab "Gue bisa masak opor ayam! Nggak usah opor ayam deh! Opor sapi, kambing, babi, jerapah, kuda nil, bisa semua gue!"


Mungkin ada juga yang mengalami kehidupan baru setelah pindah ke tempat yang baru?



Masuk asrama? Sekolah di tempat yang baru? Kuliah di kota yang jauh? Hidup dengan seseorang yang kalian cintai di daerah yang aneh? Terpaksa kabur dari rumah karena ketahuan ngehamilin pembantu tetangga? Ada berjuta-juta alasan yang bisa membuat kalian akhirnya harus jauh dari rumah dan jauh dari keluarga dan teman-teman!

Percaya deh, gue juga pernah mengalami ini DUA KALI! Dan keduanya, berhasil mengubah gaya hidup gue hampir secara signifikan! Kalian harus membuat teman baru, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, dan semua itu nggak ada yang gampang! Tapi, kalian juga harus bersyukur karena inilah yang membawa diri kalian hingga menjadi kalian yang sekarang ini!


Ada juga yang bergembira dengan segala kesuksesan yang diraih di tahun ini



Kalian akhirnya lulus sekolah? Masuk sekolah atau kuliah impian kalian? Mendapatkan gelar di belakang nama kalian? Menjuarai kontes tingkat nasional atau internasional? Berhasil diterima di perusahaan yang bergengsi? Atau mungkin ada yang cukup gembira karena berhasil menurunkan berat badan lebih dari 40 kilogram?

Berhasil mengukir sixpack di perut kalian? Membanggakan orang tua dengan sesuatu yang kalian capai sendiri? Berhasil membeli smartphone baru dengan uang hasil tabungan kalian sendiri? Atau berhasil menghasilkan uang dengan jerih payah keringat sendiri?

BERHASIL MOVE ON? Berhasil memburu zebra liar dengan tombak? Atau keberhasilan-keberhasilan lainnya yang membuat kalian berpikir "D*mn! Last year was a good year to play with!" dan memotivasi kalian untuk lebih ambisius di tahun ini!


Tapi, dibalik semua itu, ada juga kesedihan dan cobaan yang kalian hadapi



Yah, untuk yang satu ini, kalian lebih baik ingat-ingat sendiri aja. Gue lebih baik nggak mengungkit masalah ini. Intinya, jika kalian gagal, kalian nggak boleh jatuh di lubang yang sama! Kecuali kalo emang lobangnya cukup nikmat! HAHA

Dan cheer up! Stay positive and feel good about yourself! Seperti yang gue katakan kepada salah satu teman gue yang sedih melihat nilai semester pertamanya di universitas: "Ingat! Seburuk-buruknya nilai lo, masih ada yang lebih buruk!" Jadi, bersyukurlah! Lihat jutaan anak-anak di Afrika mati setiap detik karena busung lapar dan AIDS! Stop complaining and start doing your best!


Ditambah lagi dengan banyaknya orang yang keluar dari hidup kalian



Baru tahun ini gue sadar bahwa frienship is seasonal. Kebanyakan orang yang kalian kenal hanya dekat ketika mereka sedang butuh kalian, dan akan meninggalkan hidup kalian suatu saat nanti. Entah gue baca dimana, tapi katanya Tuhan mempertemukan kalian dengan seseorang yang sangat sempurna untuk menuntun hidup kalian, mengarahkan kalian ke jalan yang lebih baik untuk menggapai masa depan yang lebih cerah. Setelah selesai, Tuhan akan memecat dia dari tugasnya, dan akhirnya akan pergi menjadi hanya seorang yang biasa saja.

Ini berlaku ke teman kalian, sahabat kalian, housemate kalian, keluarga kalian, bahkan mantan kalian dan peliharaan kalian. Tapi, walaupun mereka sudah keluar dari hidup kalian, segala ajaran hidup, pengalaman dan inspirasi merekalah yang akan mereka tinggal sebagai kenang-kenangan untuk senantiasa menjaga kehidupan kalian kedepannya.


Tapi, akan selalu ada sosok-sosok yang baru yang mengisi tempat mereka



Pernah kalian sadari berapa banyak wajah baru yang kalian temui di tahun kemarin? BANYAK. Entah berapa orang yang kalian add di Facebook kalian. Dan, sebelum mereka kembali keluar dari hidup kalian, ada baiknya bagi kalian untuk berbagi waktu untuk berpetualang bersama mereka.

Belajarlah dari mereka, ambillah segala yang baik yang diberikan Tuhan melalui mereka dan jangan lupa lakukan yang terbaik yang kalian bisa untuk mempertahankan mereka dalam hidup kalian! Kalian nggak akan tahu 20 atau 30 tahun lagi mereka akan jadi apa, dan percayalah, beberapa dari mereka akan berpetualang lagi bersama kalian!

Dan bersiap-siaplah untuk bertemu sosok yang baru di masa depan! Yang akan mengguncang dunia kalian dengan cara yang tak pernah kalian pikirkan sebelumnya!


Pada akhirnya, semua itu berhasil membuat kita menjadi lebih dewasa





Apapun yang kita hadapi, segalanya yang kita alami, tanpa sadar membentuk diri kita yang sangat lain daripada kita tepat 365 hari yang lalu. Entah dari segi penampilan, profil di mata orang atau perubahan yang sangat kecil yang terjadi jauh di dalam hati kita.

Kita menjadi lebih bijak, lebih terampil ketika menghadapi cobaan yang sama, lebih tenang, lebih kuat, lebih sabar, lebih pemaaf, lebih percaya diri, lebih mengerti dan lebih memahami dengan apa yang dimaksud kehidupan.

Sekuat barongsai mengamuk, tetapi selembut bulu ketek yang beterbangan! *bertapa*


Dimana itu akan mengubah jalan hidup kita selama setahun kedepan



Dengan segala perubahan di dalam diri kita, kita sekarang memiliki idealisme yang baru dalam menjalani kehidupan. Akankah kita lebih santai? Atau lebih rajin daripada sebelumnya? Akankah kita lebih cool, classy and hip daripada sebelumnya? Ataukah kita lebih humble, grateful and down-to-earth daripada sebelumnya? Apapun pilihan kalian dalam menjalani hidup setahun kedepan, pastikan kalian bisa menikmatinya 100 persen dan tidak menyesal dengan apa yang telah kalian lakukan!


Dan pada akhirnya, membuat kita bersyukur dengan kehidupan yang diberikan, dan siap untuk menghadapi 365 hari yang akan datang



Akhirnya, dengan 365 halaman yang telah kalian tulis, kalian harus bersyukur kalian telah menutup satu bab lagi dalam cerita kehidupan kalian. Puas atau tidak, syukurilah apa yang telah kalian tulis dan kalian alami, karena itulah 365 halaman yang membawa kalian ke halaman pertama di tahun ini.

Bersyukurlah karena banyak orang yang memiliki cerita yang lebih membosankan daripada milik kalian, dan bersiaplah untuk memberikan karya yang terbaik, karena masih banyak orang yang memiliki cerita yang jauh lebih epik daripada milik kalian!

Petualangan baru saja dimulai! Persiapkanlah diri kalian sebaik mungkin, karena dalam 365 hari, kalian sudah harus mencapai tujuan akhir yang telah kalian tentukan hari ini!

-------


Ketika kalian lihat kembang api yang berterbangan pada langit malam, kalian juga harus terbangkan segala mimpi kalian jauh lebih tinggi dari kembang api yang ada! Biarkanlah mimpi kalian terus menghempas keangkasa dan jika kalian bisa, ledakkanlah sekencang-kencangnya agar semua orang bisa melihat percikan keindahannya!

Berdoalah, karena ini akan menjadi tahun yang lebih berat! Bersiaplah, karena esok akan menawarkan kesempatan yang baru! Tarik nafas dalam-dalam, karena kalian akan berpesta lebih kencang! Dan teriaklah, karena 365 hari yang akan datang akan ada di dalam genggaman tangan kalian!


Semoga Dewa Anubis senantiasa menerangi jalan yang membentang di depan kita! *dicambuk*



Dari bongkahan batu ciptaan Tuhan yang paling indah di alam semesta, kami mengucapkan
Selamat Hari Raya Tahun Baru 2014! 
Enjoy your adventure and may your dreams spark brighter than the fireworks!

Atas nama anak-anak yang bersenjata kata-kata,
Reinaldy C. Baskoro