Apa kabar Melbourne?
Oh, Melbourne baik-baik saja. Bahkan lebih baik daripada biasanya. Entah kenapa, kota ini dengan segala macam sihirnya bisa membuat gue lebih rindu daripada gue merindukan kota kelahiran gue sendiri. Dan untuk beberapa malam terakhir, The Capital City of Hipsters ini makin berwarna. Saat yang tepat untuk melepas asa bersama jutaan warna-warni yang menerangi gelapnya malam hingga ke sudut paling gelap di mimpi buruk kalian.
Seiring kita dewasa, beberapa dari kita mungkin akan mulai merantau dari rumah. Jauh dari keluarga, teman dan rumah kita masing-masing. Menuju sebuah tempat, yang mungkin tidak begitu jauh, tapi begitu asing bagi seorang pendatang seperti kita. Kita beradaptasi, begitu sulit, selalu kangen rumah dan tak jarang merasa sendiri dan tak berdaya.
Perlahan kita bangkit. Mulai dari hal kecil seperti memasak sendiri, mencuci, mengurus segala keperluan rumah tangga dengan tangan kita sendiri, hingga menjadi sebuah kebiasaan. Banyak hal baru yang kita temukan. Tempat nongkrong baru, makanan paling murah di sudut kota paling antah berantah, selera musik yang berbeda, fashion, gaya hidup hingga hal-hal kecil seperti belajar cebok dengan tissue.
Waktu berlalu, dan kita menemukan wajah-wajah baru dalam kehidupan. Dan senantiasa memasukkan wajah yang lama dalam kenangan, atau sebuah foto dari beberapa tahun lalu yang ada di sudut terdalam Facebook kita masing-masing. Kita belajar bahwa friendship is seasonal. Bahkan Path mengajarkan kalian agar hanya dekat dengan 150 orang paling berarti dalam kehidupan kalian yang sekarang.
Dan apa yang terjadi ketika kalian kembali ke kampung halaman kalian? Dengan pedih kalian akan menyadari bahwa rumah kalian yang dulu bukanlah rumah kalian yang sekarang. Obrolan kalian tidak lagi nyambung dengan mereka, kalian bahkan tidak tahu tren dan kata-kata gaul terbaru yang beredar. Kerabat kalian perlahan mulai pergi menyusuri jalan hidup mereka masing-masing. Bahkan untuk sekedar jalan bareng pun adalah perjuangan. Dan ketika kalian ada dirumah, kalian berpikir "this is just a house, not a home anymore."
Kalianpun menyadari bahwa konsep rumah tak lagi berarti bagi kalian. Dan mungkin mulai membenarkan kata-kata "a home is where your heart is'. Lama-kelamaan, kalian tidak ingin pulang lagi, dan kalian akan lebih menikmati hidup di kota kalian yang sekarang. Pada akhirnya, banyak manusia yang tidak ingin pulang kembali ke negara asalnya. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena hati mereka sudah menemukan sebuah 'rumah' yang baru. Dan seperti rumah dalam arti sebenarnya, jika kita pindah kerumah yang baru, hampir mustahil bagi kita untuk kembali kerumah yang lama.
Dan, jika kalian datang bertamu ke rumah baru saya. Saya siap menerima kalian dengan sambutan dan kopi paling hangat untuk hati kalian, spesial dari hati saya.
