Kalian Sudah Siap?

Someone at Ask.fm: Kok kamu lama menjomblo sih?

Ketika terakhir kali gue pulang ke Indonesia, gue menyadari bahwa fenomena memiliki pasangan sangat kental ada di masyarakat Indonesia pada umumnya. Begitu kental hingga beberapa jiwa merasa tersiksa bila tidak memiliki pasangan dalam hidupnya. Sendiri. Jomblo. Galau. Kata-kata itulah yang ramai diucapkan di sosial media hingga radio dan acara televisi. Seolah memiliki satu pacar adalah hal yang mustahil karena ada 250 juta jiwa bergelimpangan di pelosok nusantara.

Pertanyaan-pertanyaa seperti:
"Udah punya pacar belom?"
"Gimana lovelife?"
"Sekarang sama siapa?"
Sering sekali muncul dari teman, keluarga, bahkan nenek kita sendiri.

Contoh paling gampang adalah kata-kata tentang cinta yang ada di Path, Facebook dan timeline Twitter.

Fenomena nikah kapan juga seakan menjadi sebuah tren tersendiri bagi kaum sosial Indonesia. Seakan ada batas umur maksimal untuk menikah. Takut ketuaan, tapi tak pernah takut terlalu muda. Seiring kita tua, akan ada muncul kalimat-kalimat menyudutkan yang baru dalam hidup kita.

"Mau nikah umur berapa?"
atau, "Mama kapan gendong cucu?"

Dan pacar kita mulai berkata, "Ih lucu ya bayinya."
atau "Aku kalo mau nikah pengen pake baju/undangan/dekorasi yang kayak gini."
atau "Liat deh cincinnya! Bagus kan?"

Dan ketika pesta pernikahan orang, seringkali ditanya "Giliran lo kapan?"

Begitu kentalnya hingga temen-temen cewek gue merasa terpaksa dan berkata "Gue harus nikah umur segini nih. Takut ketuaan ntar."
Seolah-olah status itu begitu penting di mata masyarakat. Yang terus memaksa kita untuk senantiasa mencari pasangan hidup. Yang selalu menuntut bahwa kalo nggak punya pacar ya itu sesuatu banget.



Tapi, pernahkah kalian berpikir, bahwa tuntutan-tuntutan tersebut bisa mengakibatkan jiwa-jiwa yang tersiksa?

Gue ikut senang dengan teman-teman gue yang bahagia memiliki pacar, serius, ingin segera menikah, bahkan sudah menikah di usia yang cukup cepat.

Tapi, ada baiknya, sebelum kalian menjajaki hubungan yang serius, kalian memperhatikan beberapa pertanyaan yang akan gue lemparkan kepada kalian.


Sudah siapkah kalian berkomitmen?



Hubungan itu antara dua individu. Dan komitmen tidak sebatas menjaga sebuah hubungan, tetapi menjaga satu sama lain. Hubungan itu gampang dijaga. Tinggal telpon tiap malem, chat tiap lima menit atau skype seminggu sekali. Tapi menjaga satu sama lain, itu yang agak susah.

Kalian siap berkorban buat dia? Siap ada di saat terburuk dia? Siap menjaga dia, ketika dia membutuhkan diri kalian? Kalo ngurusin diri sendiri aja udah susah, kalian bisa ngurusin orang lain?

Kalian nggak bisa segampang itu lho memutuskan cinta, apalagi kalo udah menikah. Komitmen itu tanggung jawab. Dan selayaknya sebagai manusia, kalian diharapkan untuk memenuhi tanggung jawab tersebut.


Sudah puaskah kalian bermain-main?



Ketika ada orang yang bilang, hubungan dan pernikahan menghindarkan diri dari perbuatan buruk itu memang benar. Tapi, di dalam beberapa kasus, pernyataan tersebut itu salah!

Gue lebih menghargai orang-orang yang senang-senang ketika mereka belum menikah, daripada orang yang senang-senang ketika mereka sudah menikah karena penasaran dan nggak pernah di waktu mudanya. Contoh: Pacar yang selingkuh lebih baik daripada suami yang selingkuh.

Bahkan dalam hukum Islam pun orang yang berzina ketika sudah menikah akan dihukum lebih berat daripada yang belum menikah lho!


Terlebih lagi, gue lebih nggak suka orang-orang yang berpoligami dan mengatakan itu halal menurut agama, hanya untuk memuaskan nafsu seksualnya terhadap gadis-gadis muda belia hanya karena istrinya sudah 'tak memuaskan' lagi.


Pikirkan lagi, kalian akan lebih senang hidup sendiri atau hidup bersama?



Jangan pernah memiliki hubungan atas dasar keterpaksaan dan tuntutan lingkungan sekitar, entah karena usia, dijodohkan atau hal lain yang menurut kalian akan menjurus kepada ketidakbahagiaan.

Jika kalian menikmati hidup secara independen, menghargai persahabatan daripada percintaan, masih ingin berpetualang sendiri, maka memiliki hubungan bukanlah buat kalian!

Ini hidup kalian lho. Kalo bukan di hidup kalian yang sekarang, kapan lagi seneng-senengnya? Kalian mau kesempatan kalian untuk berbahagia jadi berkurang karena harus mengurus orang lain?


Kalian tulus atau engga?



Bibit, bebet, bobot. To a certain extent, iya itu memang harus dipenuhi. Tapi, kalian lebih cinta sama yang mananya nih? Orangnya, duitnya, keluarganya atau jabatannya?

Banyak lho, terutama wanita, mencari pasangan yang mapan dengan masa depan yang jelas. Ya itu benar, tapi yang kalian nikahi yang mana? Orangnya yang sekarang atau orangnya di masa depan?

Kalo emang mau bener sih, apapun kedepannya, kalian akan setia menghadapi bersama. Karena ditiap hubungan itu harus saling melengkapi satu sama lain, agar kalian bisa bekembang, saling introspeksi untuk siap menghadapi hari esok yang menawarkan sejuta impian dan tantangan.


Terakhir, kalian yakin nggak dia adalah yang terakhir dalam hidup kalian?


Gue pernah kenal seorang lelaki. Umurnya udah jauh lewat 30. Pertama kali gue bertemu dia, dia itu penakluk wanita garis keras. Wanita dari negara manapun udah bertekuk lutut dihadapannya. Tapi, nggak pernah sekalipun terbesit dalam pikirannya bahwa dia akan menikah! Dia paling anti kalo cewek udah ngebet minta nikah! Mantan-mantannya yang ngajak dia buat hidup bersama, dia tolak mentah-mentah! Pokoknya, dia bujangan paling hardcore yang pernah gue temukan!

 Hingga suatu malam, dia ngasih tau gue bahwa dia udah beli cincin kawin.

Apa yang membuat pikirannya berubah? Dia bilang ke gue, "Waktu gue bangun pagi di Bali, gue ngeliat dia tertidur disamping gue. Dan saat itu gue yakin, gue bisa menghabiskan 30 atau 40 tahun lagi bangun pagi melihat wajah dia disamping gue."

Jadi, lihatlah kembali ke pasangan kalian. Kalian sudah yakin akan meghabiskan hidup kalian dengan dia? Kalo udah nyambung, lama lho gabisa putus. Dan jika kalian memutuskan untuk nikah muda, kalian yakin di usia kalian yang begitu belia, kalian sudah menemukan satu-satunya hati yang bentuknya cocok untuk mengisi ruang kosong di hati kalian? Semudah itukah pencarian kalian? Semudah itukah kalian menandatangani kontrak untuk hidup bersama selamanya?

Kalo kata lelaki yang gue sebut diatas: "It takes a lot of good times to reach a long time."

Kalo kata seseorang di Path: "Di suatu waktu, Tuhan akan menurunkan seorang malaikat yang akan menuntun hidup kalian, menginspirasi, mengajar dan melengkapi. Pada masa itulah, kalian berdua akan menghabiskan waktu bersama dan belajar dari satu sama lain. Kalian akan merasa bahagia, beruntung dan bangga. Hingga sampai di suatu waktu dimana Tuhan mencabut sayap dari punggungnya dan dia akan kembali menjadi seseorang yang biasa saja di hidup kalian."




Jadi untuk menjawab pertanyaan, kenapa gue jomblo. Gue akan jelaskan seperti ini:

Gue belum siap dalam beberapa hal yang gue sebutkan diatas. Terlebih lagi untuk soal komitmen. Ketika gue sayang dengan seseorang, gue akan menyatakannya. Tapi, gue nggak akan menjadikan dia pacar gue. Gue mau hubungan kita berjalan begitu saja, tanpa ada ikatan. Yang penting gue tau dia sayang gue dan dia tau gue sayang dia. Memang susah, tetapi itu yang bisa gue yang terbaik yang bisa gue lakukan saat ini.



Disclaimer: Tulisan ini ditulis oleh seorang pria single yang sudah lama tak pernah mengganti status hubungan di Facebooknya. Mungkin agak memihak ke satu sisi, tapi ada baiknya kita resapi sejenak pertanyaan tadi.

Leave a Reply